Hari ini pasar mingguan kembali datang. Sejak pagi, anjing golden retriever itu sudah berlajan menuju pasar. Namun, tidak seperti biasanya ia berjingkrak dengan sangat riang. Sambil berjalan, matanya dengan telaten mengitai sekitar. Menggeram dan mengong-gong kencang setiap ada manusia mendekat.
"Wah, anjing kuning. Kamu udah nggak lusuh lagi?" sapa wanita tua pemilih grosir sayur.
Si anjing kuning menggeram sangat dalam. Namun, bukannya takut wanita tua itu malah tersenyum sambil tertawa kecil.
"Nggak usah malu-malu gitu. Gapapa, jadi ganteng kok kamu," pujinya lalu memberikan krupuk putih bulat lalu kembali menyibukan diri dengan tokonya.
Dengan krupuk bulat dalam gigitan, anjing itu berlajalan masuk ke dalam pasar. Memberi tatapan sinis dan dengan cepat menghindar ketika melihat orang mendekatinya. Terserah kalau orang itu berniat memberi makan, ia sudah ada kerupuk dari wanita grosir sayur. Walau dia berharap bisa makan lebih banyak. Anjing itu mulai semakin kesal salahkan Duka yang membuat perasaannya turun.
***
Usaha Duka selama ini terus berkeliling mencari pekerjaan tidak sia-sia. Kegigihan itu dapat ia terapkan dalam usaha keluar dari ajakan Riman. Kalau rekan-rekan di kantornya nanti tau pasti akan jadi berita besar bahwa si NPD riman akhirnya memiliki mush alami.
Turun dari MRT dan segera menaiki angkot yang kebetulan hendak segera jalan, Duka tidak henti-hentinya tersenyum. Bahkan saat masuk angkot ia menyapa semua yang ia temui, termasuk si kenek.
"Maksih, Mas, Pak," teriak Duka saat sudah keluar dari angkot. Seolah itu memang angkot yang sudah menjadi langganannya sehari-hari.
Wajah Duka tidak duka sama sekali, senyuman berseri-seri menyaingi manisnya ceri membuat para ibu yang melihat Duka ikut tersenyum. Pria yng biasany mereka lihat turun dari angkutan umum dengan wajah murungdan kuram. Kini dengan wajah yang bersinar cerah ia berjingkrak dengan girang.
"Wah!" Duka melihat si anjing yang berbicara dengannya tadi pagi, masih berada di bangku yang sama. Tertidur menghadap ke jalanan. Dengan kekuatan penuh Duka berlari mengmapiri anjing itu.
Tangannya terbuka lebar tidak beda jauh dengan bibirnya. Napas Duka terengah, agak lelah menghadapi padatnya kerumunan manusia dalam MRT tadpi duka tidak perduli.
"Huuwaaaaaa!" teriak Duka ketika sudah dekat.
Si anjing dengan terkejut membuka mata. Hendak melompat pergi, tapi sayang takdir berkata lain. Duka memeluk lehernya dengan erat.
"Jing, makasih jing! Nanti gajian pertama aku traktir Saos bangkok. Eh, tapi kamu nggak boleh saos. Aku traktir ayam, deh."
Saking senangnya, Duka menenggelamkan wajahnya dalam bulu-bulu kekuningan milik si anjing. Mengusak wajahnya dengan riang, sampai,
"Hm! Bau!"
"Guk!"
Keduanya seolah melontarkan protes.
'Siapa yang bau?! Aku rajin berendam dekat pasar tau!'
"Tenang aja!" Duka menatap si anjing penuh binar, ia kembali tersenyum dan sedikit terkekeh.
"Sini ikut!" Tiba-tiba saja Duka mengangkat si anjing. Hey, itu anjing golden retriever dewasa. Dia bisa mengangkatnya begitu saja dengan mudah.
Ya, bagi Duka menunggu hasil lamaran kerja lebih berat di banding ini.
"Guk. Guk! Guk!"
Anjing itu menggong-gong dengan kencang. Meronta-ronta mencoba untuk bebas dari gendongan Duka, saynganya nihil. Orang-orang yang meperhatikan ingin mebantu si anjing. Namun, meilhat wajah berseri-seri Duka -masih sambil berjingkrak- membwca si anjing. Mereka seolah tersihir, ikut tersenyum dan jatuh ke dalam kebahagiaan Duka.
***