Hey, Cawu!

Godok
Chapter #4

Kawan?

Seorang wanita dengan mata seperti kucing sedang duduk di bangku santai yang tersedia di depan minimarket. Sita, mahasiswi 20 tahun memiliki wajah yang mungil. Kalau dirinya masih mengaku sebagai pelajar SMP masih ada saja yang akan percaya karena wajahnya terlihat sangat imut. Rambut panjangnya yang bergelombang, dapat memikat siapa saja yang melihatnya.

Kehidupan kampus cukup berat bagi Sita. Bukan perkara tugas, untungnya ia mendapat otak yang encer, dapat berkomunikasi dengan baik, dan berpenampilan mernarik. Namun poin terakhir justru menjadi senjat makan tuan untuknya.

Memiliki paras rupawan memang bagus. Banyak orang yang kesulitan bergaul dalam masyrakat karena penampilan yang kurang dari kata sempurna. Karena itu, Sita dapat memiliki banyak teman, ia menyadari kelebihannya dan bersyukur atas hal itu. Namun, bukan berarti ia bebas hidup tanpa saiangan.

Bebrapa teman Sita memberi taunya kalau ada rumor yang tidak baik tentang dirinya. Beberapa kali juga ia melihat beberapa orang yang tadinya saling berbisik, berhenti ketika dirinya lewat. Ia tau, Sita tau semuanya. Ia juga atau kalau teman-temannya hanya memberi taunya apa yang diri mereka sendiri sebarkan.

"Aku bukan mau gaya-gayaan gelombangin rambut. Tapi, kan. Namanya rambut panjang, kalau keseringan dikuncir pasti jadi gelombang gini," keluh Sita sambil memainkan ujung rambutnya.

"Kamu juga lagi nggak mood, ya?" Sita menunduk, menatap pada anjing kuning besar yang sedari tadi hanya tiduran sambil mentap kosong ke arah jalanan. Biasanya saat Sita datang, anjing itu seolah sedang waspada.

"Digibahin sama anjing lain, kah?" Sita membuka dus banjang berisikan sosis. Menaruhnya di depan wajah sang anjing yang masih tidak di gubris juga.

"Telinga anjing tajam, kan? pasti kamu nggak sengaja dengar."

"Rasanya sakit, ya."

Nama Sita, mahasiswi yang sering mendapat masalah karena parasnya yang hampir terbilang sembutna. Hobi, berbicara dengan si 'anjing kabupaten' setiap ada waktu luang.

"By the way, aku baru tau nama kamu Cawu."

Detik itu juga si anjing langsung berdiri, membalik badan menatap Sita sambil menggeram tajam. Menyatakn perang.

"Kenapa? udah nggak doyan sosis, kah?" tangan Sita terulur, ia sedikit mencondongkan badannya untuk mengambil sosis yang baru saja ia beli.

"Guk!"

Tangan Sita berhenti. Badannya sudah condong kedepan, ia mengangkat kepalanya dan tersenyum kepada Cawu.

"Hehe, malu-malu kucing, yaaa. Eh, anjing?"

"Guk! Guk!"

Cawu kembali duduk dan fokus untuk semakan daging lezat berkualitas tinggi.

'Orang mana yang ngambil lagi pemberiannya. Sikut borokan!'

'Dia datang dengan si wanita rambut hitam lagi?'

***

Cawu meperhatikan Sita yang berada di dalam minimarket, sedang mengantri di kasir bersama si wanita yang memboncengnya.

"Ini seriusan?" tanya Sita pada temannya saat mereka berdua baru saja keluar dari minimarket.

"Santai. Aku abis dapet kerja sama buat bikin desain iklan gitu, hehe."

Keduanya berjalan menuju bangku yang di sediakan minimarket. Padahal ada meja yang masing-masing terdiri dari 4 bangku, tapi entah kenapa di sini selalu sepi. Mungkin orang-orang mulai semakin jarang memiliki waktu untuk bersantai.

Lihat selengkapnya