"Mama tadi minta tolong sama kamu, kan?" suara seorang wanita yang terdengar tegas ini mengisi ke heningan di toko roti.
Di hadapannya seorang anak gadis berusia 10 tahun menunduk dalam, kedua tangannya mencengkeram erat ujung baju yang ia pakai sampai bergetar. Terlihat beberapa tetes air mata menyentuh permukaan lantai.
Terdengar suara helaan napas, yang lebih tua mendekat dan mensejajarkan tinggi mereka. Sang ibu menaruh kedua tangannya di pundak si gadis kecil.
"Mama minta tolong sebentar, Jia," suara yang terdengar tegas itu membuat air mata si gadis cilik semakin mengalir, "Lagian bukan hal yang susah-"
"Terserah!"
Gadis kecil itu menghempaskan ke dua tangan yang ia rasa sedang mengekang dirinya. Jia membalik badan dan berlari menuju rak yang berisi berbagai jenis roti berderet. Ia mengambil satu roti lalu kembali membalik badan. Berlari ke arah sang Mama. Ah, bukan. Ia melewati Mama yang sudah membentangkan tangan dengan lebar.
Tembok berlumut yang agak lembab, jalanan yang memiliki banyak gompalan. Di sini Jia sekarang. Gang belakang toko roti. Berjongkok di samping tong sampah besar guna menyembunyikan dirinya.
Posisi saat ini, pintu keluar, tong sampah lalu Jia. Jia yakin ini tempat persembunyian terbaik. Gadis cilik itu memeluk lutut. Wajah yang masih bercucuran air mata terlihat sangat memerah, Jia mulai menunduk menyembunyikan tanpilan berantakannya.
"Ini persembunyian terbaik. Mama pasti panik aku hilang. Biarin aja, lagian Mama jahat,"
"Guk."
Jia dengan cepat mengangkat kepalanya. Tepat beberapa senti di depan wajah mungil Jia terdapat seekor anjing berwarna kuning keemasan, menatapnya tanpa memalingkan wajah sedikitpun.
'Ketemu! Si anak yang menyebarkan fitnah namaku.'
"Cawu? Kamu ngapain di sini?"
"Guk! Guk!"
Cawu menggonggong kencang membuat Jia spontan memundurkan badannya dan menabrak tembok.
'Tanggung jawab kamu!'
Hidung Cawu seketika menjalankan tugasnya. Ia mengendus bau yang dapat menikan mood dan menurunkan marahnya. Perlahan hidung si anjing golden retriever itu membawanya menunduk. Tepat ke sisi kanan Jia.
"Oh, ya. Sekarang bukan hari pasar," Jia menatap Cawu mengendus roti yang secara asal ia comot dari eatlase toko.
"Kamu mau?" Jia mengambil roti tersebut, ia membuka bungkusnya lalu di letakan di depan Cawu, "Itu caterpillar, roti sosis. Makan aja, aku nggak suka sosis."
"Guk!"
Cawu tidak mau di sogok, ia masih marah dan mengharapkan pertagung jawaban dari Jia yang asal menyebarkan nama aneh itu. Namun, menolak makanan bergisi itu fatal bagi binatang penghuni jalanan seperti Cawu. Tentu saja roti itu ia terima dengan lahap.
'Enak juga. Caterpillar, ya? namanya sama seperti nyonya ulat di taman.'
"Mama jahat!"
Masih merasa tidak terima terhadap perlakuan sang Mama, Jia mulai mengungkapkan kekesalannya pada anjing yang sedang tersenyum lebar karena mendapat makanan enak.
"Mama minta aku perhatiin timer proofing karena lagi rusak. Tapi, kan, salahin mesinnya yang rusak!" air mata kembali mengalir deras, Jia bahkan sampai sesenggukan.