Hey, Cawu!

Godok
Chapter #7

Adik hilang?!

Duka berlarian kesana kemari di sekitar komplek perumahannya sambil memanggil nama seseorang.

"Adiiikkk! Adiiiiik!" teriak Duka sambil berlari mengelilingi komplek.

Sudah sejak setengah jam yang lalu Duka meneriaki nama yang sama.

"Gimana? Ketemu?" tanya seorang wanita kurus yang seumuran dengan Duka.

Kome, wanita yang juga dari tadi meneriaki nama yang sama seperti Duka. Mereka berdua kini berkeliling bersama, masih sambil meneriaki nama yang sama. Mencari Adik kome yang hilang.

"Adikaaa!"

Tidak perduli dengan tenggorokannya yang terasa perih, di pikiran Kome sekrang hanya ada Adiknya. Sesekali ia berhenti berteriak, menghampiri orang yang ia temui menanyakan keberadaan Adik. Namun, sayang, hasilnya nihil.

"Di sekolah beneran nggak ada?" tanya Duka.

Kebetulan, hari ini Duka pulang cepat karena beberapa tugas dapat di handle dari rumah. Saat sedang berjaan santai menuju rumah, ia melihat Kome yang berlarian sambil meneriaki nama Adik.

"Gak ada," Kome berbicara dengan sangat yakin, "Gerbangnya udah di tutup. Kata satpam juga pas cek ke dalam nggak ada siapa-siapa."

"Maaf, ya. Padahal baru pulang," Kome merasa sangat sungkan, menganggu Duka yang bahkan masih mengenakan pakaian formalnya.

"Miif, yi. Miif, yi," kesal Duka. Karena entah sudah berapa kali Kome mengatakan hal yang sama.

"Dulu juga kamu sering ilang. Aku sama anak-anak yang cari," Duka kembali mengungkit masa lalu mereka. Menyindir bagaimana ketika kecil dulu Kome juga sering menghiang.

"Guk. Guk."

Cawu, si anjing kuning yang sudah pasrah dengan namnya itu melihat Duka. Ia segera berlari menyeruduk kaki Duka dengan kencang. Cawu masih kesal, ia menuntut agar takdir sialn mereka kembali di tukar. Duka pasti mengambil semua jatah keberuntungannya, Cawu masih konsisten dengan pemikirannya.

"Aduh! Kenapa, Cawu?" Duka berjongkok, kedua tangannya ia pakai mengusak-usak kepala Cawu.

"Ah! Anjing kemarin!" Kome menjentikan jari, seketika pikiran paniknya teralih sesaat. Membuat kepalanya tersa sedikit agak ringan.

"Jadi namaya Cawu," gumam Kome sambil melihat Cawu dengan seksama. Meneliti dari ujung kepala sampai ujung ekor.

"GUK! GUK!"

"OH, ya. Kamu liat Adikn nggak? Adik, yang kemarin main sama Kamu."

Kedua telinga Cawu mengangkat, tiba-tiba ia berlari di memutar di tempat. Seperti mengejar ekornya sendiri.

"Iya. Yang kemarin main kejar-kejaran sama Kamu," Kome kini ikut berjongkok di samping Duka. Keduany sibuk menatap Cawu yang masih berputar di tempat.

"Plenger ternyata," gumam Duka yang membuat Cawu berhenti, anjing itu menatap Duka sambil menggeram dalam.

"Anjing aja diajak gelut sama dia mah," Kome memberi pukulan ringan pada bahu Duka.

"Cawu, kamu liat Adik? Dia hilang," Kome menatap Cawu penuh harap. Dalam hari terus berdoa semoga anjing dengan muka ramah yang tidak ramah ini bisa membantu.

Sayangnya, Cawu hanya diam. Ia justru menekuk kedua kaki belakangnya, duduk dengan tegap sambil menatap Kome.

"Iya, salah aku. Aku telat jemput dia, tadi," intonasinya yang menurun bersamaan dengan leher yang semakin tidak mampu untuk menopang kepala Kome yang di penuhi banyak pikirian negatif.

"GUK! guk, guk, guk, guk."

"WIHH, si anjing kabupaten!" suara seorang perempuan yang terdengar riang membuat Duka dan Kome menoleh kebelakang.

Dua wanita muda yang sepertinya mahasiswa sedang berdiri di belakang mereka sambil memperhatikan Cawu.

"Kalian pemilik Cawu?" tanya Sita. Sedangkan Sari sudah berjongkok di samping Cawu sambil memeluk anjing itu erat. Mengeluarkan benda persegi dan mengambil beberap potret.

"Oh, bukan. Dia emang biasa keliling di sekitar sini," jawab Duka.

"Kan, bener kata aku!" Sari mengambil atensi semua orang, "Anjing kabupaten dia, nih,"

"GUK!" Cawu berbalik dan mengong-gong tepat di hadapan Sari. Membuat wanita itu terkejut sampai jatuh terduduk.

Cawu kemudian bejalan ke belakang Kome, kepalanya ia gunakan untuk mendorong wanita itu.

"Eh, kamu tau di mana Adik?" heboh Kome.

"Adiknya siapa, kak?" tanya Sita.

Lihat selengkapnya