Di minggu pagi yang cerah ini Cawu memutuskan untuk mememantau keadaan dunia dari alun-alun. Selain banyak orang ia juga biasa mendapat makanan dari para manusia yang sedang bermain. Namun, pagi ini agak berbeda.
Mataharinya sangat terang, langit biru yang terlihat sangat cerah tanpa tertutup awan. Langit bersih tanpa awan,cuaca yang bagus untuk berfoto tapi suhu yang merambat tubh kurang bersahabat. Dingin. Pagi ini sangat dingin untuk para manusia. Cawu juga merasakannya, tapi ia tidak terlalu memusingkan. Sampai ketika dirinya tiba di alun-alun, ia sadar. Suhu dingin ini pertanda buruk. Tidak ada manusia yang bisa ia poroti.
Bahkan, tukang es podeng yang biasa bergibah dengan penjual cilok juga tidak ada. Apa tubuh si mamang membeku, tidak ada yang tau.
Langkah mungilnya mulai melambat, Cawu dengan lemas berjalan mendekari bangku yang menjadi tempat pertemuannya dengan Duka. Bangku yang menjadi saksi saat keberuntungannya ditukar dengan nasib buruk Duka.
Anjing Golden Retriever kuning itu duduk tegak di samping bangku panjang. Enggan dirinya untuk kembali duduk di atas bangku yang ikut dalam membuatnya sial.
"Cawuuu!"
Badan Cawu menegang. Suara ini, Cawu hafal suara ini. Si pria yang mengambil keberuntungannya. Dengan
segera, anjing kuning itu berderi hendak pergi.
"Cawuuu," panggil suara anak kecil yang beberapa hari lalu sempat hilang di samping rumahnya sendiri, "Cawuu, main yuuk!" ajak Adik.
Cawu yang sudah berniat untuk pergi mengurungkan niat dengan berat hati, ia membalikan badan mendapati Adik yang belari ke arahnya dengan senyum yang sangat lebar. Memamerkan Deretan gigi putihnya. Cawu bisa saja kembali membalik badannya. Cawu bisa saja mengabaikan Adik. Cawu bisa saja langsung menyerang Duka. Namun, ada hal yang lebih penting dari semua itu.
Wangi makanan enak.
Di belakang Adik, Kome menjinjing sebuah tas berwarna ungu yang berukuran sedang. Wangi itu berasal dari sana. Cawu hanya diam di tembat, perlahan ia menjatuhkan tubuh bagian belakangnya. Duduk dengan tegap menantikan santapan nikmat.
“Cawuu, kamu mau main sama aku, ya??”Adik dengan cepat langsung menerjang Cawu. Dekapan erat ia berikan pada anjing kuning itu.
Kome tersenyum melihat Adiknya yang bahagia, “Pelan-pelan. Kasian itu Cawu, nggak bisa napas.” Kome menaruh tas jinjing harum -yang sedari tadi menyita perhatian Cawu- di atas bangku taman.
Adik melepaskan, dengan cengiran bodohnya tangan kiri Adik menepuk-nepuk pelan bagian belakang kepla yang terkuncir rapih.
“Haiiii,” sapa Duka dengan sangaaat ramah, ia berjongkok di samping Adik agar dapat melihat Cawu dengan jelas.
Tangan kanan Duka merogok kantung di jaketnya. Tak lama, keluarlah sebuah platik berukuran persegipanjang yang miliki banyak stik di dalamnya. Duka membuka bungkus, ia memberikan satu stik berwarna coklat berukuran 10 cm itu untuk Cawu.
“Guk! Guk!”
‘Kali ini kamu ku maaafkan!’
“Gak perlu teima kasih, makan aja,” dengan wjah tampannya yang berseri-seri, Duka kedua tangan Duka mengusak eher Cawu.
Sedangkan si anjing dan satu wanita di sana memandang Duka. Si anjing masih merasa kesal, sedangkan Kome merasa bingung. Percaya diri sekali teman masa kecilnya itu, mennganggap kalau Cawu berterima kasih padanya. Jelas-jelas, dari pandnagan si anjing yang selalu menatapnya penuh amarah dan menggeram saja Kome bisa memahaminya sedikit.
Kome mengangkat kedua bahunya acuh. Hidupnya sudah dikelilingi dengan orang-orang aneh, tidak perlu menambah beban dengan pemikiran aneh lainnya. Kome mengeluarkan ponsel dari kantung celanya trainingnya, ia duduk di bangkuk taman dan menyibukan diri dengan menggulir layar.
“Loh, kok malah main HP?” Duka berdiri di depan Kome. Kedua tangan pria yang kini tidak lagi menganggur itu bertengger di sisi pinggang.
“Lari, ayo. Kita mau jogging biar sehat ini!”
Jari Kome yang sibuk menggulir layar berhenti sejenak. Tanpa mengangkat kepala, Kome menatap tajam Duka yang berdiri di depannya.
“Apa? Sok-sok marah gitu? Apa?” tantang Duka pada teman masa kecilnya yang tampak sombong.
“Oke,” Kome berdiri, “Kita lomba lari. Putari alun-alun ini, satu putaran saja. Yang sampai duluan, bebas mau apa.”
Kedua sudut bibir Duka terangkat dengan ragu. Duka mengalihkan pandang, menatap Cawu, lalu Kome, lalu Cawu, lalu Kome.