Hey, Cawu!

Godok
Chapter #9

Sosbak!

Ide piknik yang awalnya diajukan oleh Kome dalam rangka berterima kasih, kini terus berlanjut. Setiap akhir pekan merak selalu berkumpul di alun-alun. Duka, Kome, Adik, Sari, Sita, Cawu dan terkadang Riman juga ikut bergabung.

Senior Duka yntg gemar memberi tips ini memang tinggal di daerah yang berbeda. Namun, memang sudah jadi rutinitas setiap akhir pekan untuk menjenguk sang adik -Sari- yang tidak pernah pulang kerumah sejak menjadi anak kos. Alasan tidak punya uang tentu terlalu klasik untuk Riman yang selalu memberi uang jajan tidak main-main pada adiknya. Hanya saja, suasana rumah kurang cocok untuk Sari. Riman memahami itu. Bagaimanapun juga, Sari baru bertemu dengan ibunya saat sudah dewasa. Riman sendiri masih canggung jika sedang berbincang berdua dengan ayahnya Sari.

Cawu semakin yakin. Dunia itu aneh. Ada anak yang dapat tinggal di tempat yang bagus, jauh dari tempat pembuangan sampah, tapi ia lebih memilih tempat yang lalai sedikit saja bisa menjadi pembuangan sampah. Aneh. Memang aneh. Padahal bisa hidup di tempat yang harum.

Apa di tempat harum juga tetap ada mereka yang hanya terdiam? Mengikuti keadaan tanpa berniat merubah. Hanya menyumpah serapahi yang tidak jauh berbeda dengan diri mereka. Seperti para anjing yang menyantap pakan sampah itu dengan lahap, mengabaikan kerangkeng yang sudah terbuka lebar.

Cawu kesal. Cawu mencoba abai ia tidak perduli. Kalau memikirkannya lagi dan terlintas pikiran 'Aku harus kembali dan membantu mereka'

Bodoh! Pemikiran bodoh yang hanya akan membawa kembali pada takdir yang sama. Yang sudah susah payah ia tinggalkan. Kenapa ketika do'anya terkabul, ia mlah kembali ke kondisi yang membuatnya memanjatkan do'a untuk menjadi seperti sekarang.

Beruntung Cawu adalah anjing pintar dan ia mengakui itu. Ia belajar dari Riman, bagaimana mengakui kelebihan diri sendiri mambawa pada kehidupan yang lebih baik.

Sore ini, di bawah langit yang sudha mulai di penuhi awal jingga. Cawu berlari riangan, dengan riang menuju sebuah tempat yang sering di bilang kramat, angker, berbahaya.

Kuburan.

Cawu duduk di dekat tembok, matanya menatap seorang pria tua dengan rambut ikal panjangnya, membuat wajah yang tertunduk itu sulit untuk di lihat. Namun, Cawu tidak perduli. Yang ia perhatikan hanya satu. Sosis berwarna merah gelap yang terletak di dekat papan identitas dari yang terpendam.

Sosisnya enak, meski tidak seenak yang diberikan Sita. Enatah mengapa Cawu ebih menyukai sosis dengan tekstur renyah yang satu ini. Ia juga dapat mencium sedikit aroma hangus, seperti arang yang mengudara ketika si pemberi makan di tempat penangkarannya dulu membuat jamuan makan.

Sedang asik memmbayangkan gigitan sosis yang renyah dan mengisi kehampaan pada lidahnya, orang yang sedari tadi menatap makan akhirnya berdiri. Begitu juga Cawu. Ekor emas yang terangkat tinggi itu berggoyang dengan cepat. Ke kanan ke kiri, terus menerus menambah kecepatan. Dan, perlahan... melambat.

Si pria berambut panjang menghampirinya.

'Gawat! Apa dia kenal aku dan ingin mengembalikanku?'

Dari sekitan banyak orang yang ia temui setelah keluar tempat pembuangan sampah, orang ini yang paling mirip dengan penampilan teman-teman dari bos pemilik. Kaos putih polos yang sudha semakin tipis, kemeja flanel kotak yang mulai memudah, dan celana pendek yang terlihat sangat pas untuk di kenakan sehari-hari.

"Kamu," pria itu dengan cepat menurunkan tubuhnya, mentap sejajar kedua bola mata Cawu.

Cawu menggeram dalam, kakinya bersiap untuk menerjang atau kabur. Pandangannya tidak lepas sedetikpun dari para pria si depannya ini.

"Jangan terus curi makanan kesuakaannya, aku juga bisa belika untukmu."

Tangan kurus yang sudah mulai berkeriput itu perlahan terangkat, menmebus pertahanan Cawu. Pria itu mengelus Cawu dengan lembut. Senyuman tipis dapat Cawu rasakan.

"Ayo, ikut aku."

Cawu enggan. Cawu hanya ingin makan sosis yang sudah lama ia nantikan. Namun, Cawu bukan anjing jahat. Ia tidak perduli dengan si pria berambut panjang, tapi, berbeda dengan pria satunya. Pria rambut mangkok dengan wajah polos yang senyumnya sangat lembut itu membuat Cawu mau tidak mau menurut.

***

Lihat selengkapnya