Usia 16 - 18 tahun, masa dimana usia menjadi sangat rentan dan bisa sangat, sangat menentukan kehidupan mereka kedepannya seperti apa. Mereka yang memulai dari umur pria itu akan menjadi seorang profesional di umur 25, asal konsisten. Katanya.
Sayangnya, kebanyakan anak di umur itu hanya fokus pada kesenangan yang dibalut dengan narasi "Hidup cuma sekali" atau "Harus banyak cari pengalaman" Entah dari mana hal itu besalah hingga para anak muda tidak perdulu dan menganggap enteng masa depan. Masa di mana mereka benar-benar akan dilepas dan kembali mmerangkak sendiri dari bawah. Kalau merangkaknya sejak dini, beban mereka akan lebih ringan bukan. Ketika mulai mengahdapi semua masalah kehidupan dewasa dan mereka sudah bisa berjaland engan tegap. Itu lebih bagus bukan?
Namun, Rai juga anak remaja yang mengingnkan kesenangan. Guru-guru yang mulai mengajar dengan semaunya, orang tua yang mulai selalu menuntut, Rai butuh refreshing. Saat ini, hanya teman-teman di bangkung Sekolah Menengah Atas in yang dapat menghibur dan menjadi pendengarnya. Rai merasa, bebas.
Sebagai anak yang akhirnya bisa bergaul dengan baik dan menemukan kebebasa, Rai ingin, Kasa, sahabatnya sedari kecil juga ikut merasakan kebahagiaan ini. Karena itu, Rai bediri di sini, di depan rumah Kasa.
"Masuk aja, Rai. Kasa ada di kamar," ujar ibu Kasa yang sudah terbiasa dengan kehadiran si anak tetangga.
"Wihh, cantik banget, tan. Mau ke mana?"
"Nikahan anak Bu Wira. Mamah kamu nggak pergi?"
"Ohhhh," Rai mengangguk, "Sore katanya. Nunggu papah pulang, lagi shift malam."
Obrolan singkat yang berakhir ketika Ibu Kasa menunggalkan rumah, Rai segera masuk semakin dalam. Mencari sahabatnya yang terbiasa mengendap di dapan ruangan berukuran 2x2 meter.
"Saaa," Rai membuka pintu kamar Kasa. Tirai penutup jendela masih belum di buka, cahaya yang cukup terang terpancar dari benda persegi panjang tepat dihadapan wajah Kasa yang sedang terbaring.
"Oh, kenapa Ra?" menyadari keberadaan teman masa kecilnya, Kasa duduk, ia menyenderkan tubuh di tembok yang berdampingan dengan kasur.
Kedua sudut bibir Rai tertarik ke atas, ia berjalan dengan semangat, duduk di lantai, berahadap-hadapan dengan kasur Kasa. Rai sedikit mendongak, ia memberikan layar ponselnya yang menyala pada Kasa.
"Kenapa?" Kasa menerima ponsel Rai, ia menggulir isi percakapan dalm grup chat Rai dan geng angkatannya.
Kasa itu murid terkenal. Tidak ada orang yng tidak mau dekat setelah melihat senyumnya yang menenangkan itu. Ditambah, Kasa pintar mengajar. Membuat para siswi menggunakan itu sebagai alibi untuk mendekati Kasa. Namun Kasa bukan orang yang gemar bergaul, ia hanya berkomunikasi secukupnya. Bukan yangmnejauhkan diri lalu dikucilkan, ia hanya ingin menjadi manusia biasa di sekolahnya.
Berangkat sekolah sambil bercanda, mendengarkan curhatan guru ketika jam pelajaran, menambah kenalan baru saat jam istirahat. Hanya sekedar rutinitas biasa seperti itu. Energi Kasa mudah terkuras, makanya ia lebih suka mengahabiskan hari libur di rumah. Biasanya, Ria datang sambil membawa camilan yang banyak lalu mereka menonton film bersama atau bermain game konsol.
"Mau ke curug?" Rai menganngguk dengan semanta. Ia mulai berdiri, berjalan menuju tirai dan membukanya. Membuat matahari pagi menyinari ruangan yang di domninasi oleh warna biru itu bersinar.
"Ikut yuk, Sa."
Kasa melempar ponsel Rai ke tepi kasur. Si pemilik rumah kembali berbaring, wajahnya fokus menatap layar laptop dengan tangan kanan yang membawa kursor turun.