Siang hari dengan sinar mentari yang cukup menyengat ini tersa cukup membakar di atas permukaan bulu Cawu. Si anjing kuning berjalan sedikit lebih cepat lalu berbelok di gang yang akhir-akhir ini menjadi tempatnya mendapat cemilan.
"Guk! Guk!"
"Loh, Cawu?"
Langkah dari keempat kaki mungil yang terbalut bulu kuning keemasan itu terhenti. Cuaca panas memang sering menandakan akan terjadinya hal buruk, seperti sekarang ini.
"Jadi temannya Jia itu, kamu?"
Naya yang baru saja keluar dari pintu belakang, membuka tong sampah besar di samping dan memasukan dua kantung keresek besar yang berisikan berbagai limbah dari dapur.
Cawu memilih acuh, tanpa mamu beradu tatap atu sekedar mendongak untuk melihat siapa yang menyambutnya. Cawu sudah tau. Dari suara, dari bau, dari tingkat kesuraman yang ia langsung rasakan saat bertemu orang ini. Cawu yakin, ini pasti si wanita yang tidak bersyukur mendapat ayam kecap.
'Kenapa dia di sini? kerja tambahan?'
Cawu berjalan ke depan pintu, kedua kaki belakangnya ia tekuk. Duduk dengan manis, menunggu Jia -roti caterpillar- yang akhir-akhir ini sering ia dapatkan dari bocah yang hobi salah paham itu.
"Kamu nungguin Jia, ya? Belum pulang. Katanya hari ini ada les sempoa, jadi pulang lebih lama."
"Nayaa," panggil Risaya, wanita itu muncul dambil membawa seporong roti yang harum sekali. Cawu berani jamin kalau roti ini berkali-kali lipat lebih enak dari yang biasa Jia berikan padanya.
"Oh, ada Cawu juga kebetulan."
"Ada apa ya, Bu?" dengan cepat Naya segera menghampiri Riyasa.
Riyasa memandangi sosok Naya dari atas sampai bawah yang sudah tidak karuan. Kepala wanita pemilik toko roti itu menggeleng riang, "Nggak. Kamu abis buang sampah, ya," senyum Riyana yang sangat menyejukan itu membuat Naya hanya mampu tersenyum tanpa menjawab dengan perkataan.
"Ya sudah. Cuci tangan dulu, abis itu terusng masukin bread improofer sama bahan-bahan lainnya ke tempat masing-masing, ya."
Naya mengangguk, ia sedikit membungkukan badan lalu kembali masuk ke dalam.
Masih dengan senyum di bibirnya, Risaya menghampiri Cawu. Wanita itu berjongkok, ia meletakan roti yang ia bawa di hdapan si anjing kuning.
"Yang ini isi smokebeef, coba, deh. Caterpillar yang biasa Jia kasih habis, hari ini ada pesanan banyak buat anak-anak yang lagi belajar sempoa."
"Guk! Guk!"
'Sering-sering gini!'
Senyum Risaya semakin mengembang, kedua tangannya sibuk tenggelan di sela-sela bulu yang menyelimuti leher Cawu.