Hey, Cawu!

Godok
Chapter #14

Orang Dewasa

Lingkungan dewasa. Pembahasan dewasa. Masalah orang dewasa.

Sudah menjadi bagian dari ke hidupan Duka bebrapa bulan terakhir ini. Di rumah harus manjadi dewasa, karena, ya sudah jelas umurnya yang tidak lagi muda. Di kantor juga berlaku, ditambah harus profesional dengan keadaan.

Walau, ia dan tema-temannya terkadang suka mengeluh ketika sedang berkumpul di kantin. Pernah ada satu kejadian yang membuat satu divisi Duka ingin undur diri saat itu juga.

Tiba-tiba, ada atasan yang datang dan berkata dengan semangat menggebu-gebu.

"Kalian tim yang bertugas mengundang beberapa perusahaan besar kali ini, kan. Saya punya usul. Ayo berukan mereka undangan yang di buat dengan mesin tik. Dengan merasakan usaha, keseriusan, serta ketulusan kita. Mereka pasti akan tergugah dalam promosi kali ini!"

Sebuah ide dari atasan yang selelu menjadi sanjungan dan dikenal baik dengan proggres pengabdiannya pada kantor. Mesin tik. Kuno. Untuk 147 perusahaan sekaligus. Setelah si pemberi ide ini pergi semua duduk dengan lemas. Ada yang menghubungi orng tua, meminta maaf atas dosa-dosa yang telah di perbuat, ada yang menghitung sisa rokok yang ia punya, ada juga yang lasung masuk kedalam kolong meja.

Tidak jauh beda, Duka yang sudah duduk tekulai sekut tenaga berusaha mengeluarkan ponsel dari kantungnya. Dirinya membuka tempat penyimpanan foto, menggulir foto makhluk yang akhir-akhir ini mengisi galerinya.

"Cawu..." lirih Duka.

"Ehh, kenapa si anjing kabupaten?"

Duka tersentak, ponsel dalam genggamnnya meluncur cepat. Untungnya dengan tubuh fit yang selalu menjalani work out rutin, ponsel Duka bisa selamat. Riman, sosok yang tiba-tiba datang menahan ponsel Duka yang yang akan menghantam lantai dengan sepatunya.

Dengan cepat Duka mengambil kembali ponselnya. Memastikan tidak ada yang rusak, tidak ada retak, tidak ada foto Cawu yang hilang.

"Cila minta tolong. Kalu liat porto kamu di ibu HRD harusnya bisa,sih. Samperin ke ruangannya-"

Duka meperhatikannya tapi pandangan pria ini kosong. Riman menggerak-gerakan tangannya di hadapan wajah Duka.

"Pak Riman, tau tempat yang rental mesin tik?"

"Mesin tik?"

Riman baru menyadari di kawasan ini. Di tempat di mana Duka dan para rekannya berkumpul. Mereka semua terkapar, seperti jiwa semua secara bersamaan pergi sambil bergandengan tangan melewati palang kantor.

"Lagi iklan obat darah?" tanya Riman. Ia berjalan mendekati meja Duka, ia melihat tumpukan kertas yang Riman yakin masih sangat Fresh.

"147 udangan... Semangat, lahh. Gampang ini, zaman udang canggih-"

"Disuruh pakai mesin tik," gumam Diman yang masih bisa didengar oleh Riman.

Iba? oh, tentu tidak. Si senior yang akhir-akhir ini gabung dengan kelompok pikniknya tertawa dengan kencang. Bukanya undangan dengan mesin tik, ia justru mengundang tatapan membunuh dari Duka dan rekan lainnya.

"Sorry, sorry. Coba datengin Cila dulu, gih. Masalah mesin tik biar saya coba bahas. Agak nggak mungkin juga di setujuin, kok."

Seketika Riman merasa hangat. Semua mata yang tertuju padanya berbinar, senyuman tulus dengan segala macam do'a baik tercurah padanya.

***

"Akhir-akhir ini kantor aman."

Duka duduk di bangku taman, pandangannya mengawasi angkot yang belum juga muncul. Di samping bangku yang ia duduki, terdapat Cawu yang sedang memakan raw-food di dalam wadah makan anjing yang Duka berikan untuk Cawu. Entah diaman anjing itu menaruhnya, setiap Duka datang menunggu angkutan umum, Cawu pasti datang sambil mengigit mangkuk tempat makannya yang Duka berikan.

"Habis ada project besar, tau. Kalau beneran ada bonus, minggu besok kita rame-rame makan seafood, yuk. Tapi, kalau Pak Riman ikut agak risih juga ya, mau traktir."

Lihat selengkapnya