Kome dan Adik sedang berjalan, bergandengan tanagn di bawah teriknya sinar mentari. Setelah kejadian Adik hilang, Kome jadi lebih memperhatikan anak itu, terutama perihal jam pulang sekolah. Seperti, Adik tidak diizinkan melangkah keluar dari gerbang sekolah sesenti pun kalau Kome belum datang.
"Kak, jajan."
Sudah biasa. Setiap perjalanan pulang Adik pasti meminta jajan. Apa lagi rute perjalanan pulang mereka melewati tempat mangkal para pedagang.
"Yuk, kesitu, yuk," Kome menuntun adik menuju penjual yang paling ujung. Penjual Siomay, hitung-hitung bisa sekalian untuk makan siang. Untuk Kome. Kalau adik, tentu saja harus makan nasi lagi.
"Mang, dua ya dibungkus. Yang satu pedes campur, yang satu lagi jangan pedes gak usah pake pare."
"Siap, neng. Duduk dulu, silakan. Panas banget ini."
Kebetulan, di belakang gerobak mamang siomay terdapat pohon rindang yang di bawahnya tersedia beberapa kursi plastik.
"Kakak! Kakak!" berbeda dengan kome yang langsung duduk sambil mengkibas-kibaskan tangan di depan wajah guna menurunkan suhu tubuh. Adik masih bisa aktif. Mungkin sensor suhu di tubuhnya belum begitu berfungsi. Ia berlarian mengitari pohon, sesekali berjongkok memunguti duan yang jatuh.
"kakak!"
"Kenapa? ini kakak depan mata kamu, teriak-teriak terus."
"Lain kali aku mau jajan gimsam, Kak," Adik mendekati Kome, jatuhkan bobot badannya pada kedua kaki kome yang tertutup rapat.
"Gimsam apaan?"
"Ituuu, makanan yang kayak kukus-kukus ikan gituuu. Tadi temen aku ada yang bawa!"
"Ohh, dimsum."
"Nahhh." Adik kembali berdiri tegak, kedua telapaknya ia bawa ke sisi kanan wajah, lalu bertepuk tangan tiga kali. Kemudian ia bawa ke sisi kiri dan kembali bertepuk tangan tiga kali.
"Itu kamu udah coba, kan. Ngapain beli lagi?" Melihat abang siomay yang sudah membungkus pesanan mereka, Kome mengeluarkan dompet. Menyiapkan uang pas untuk pembayaran amunisi mereka di siang ini.
"Tapiii, Kaaaa. Enak tauuu."
"Ini juga dimsum, neng. Sama aja," mamang Siomay yang sudah selesai berdiri di belakang Adik, ia memberikan pesanan yang sudah siap pada Kome, "Jadi 20, neng."
Kome meberikan dua lembar uang kertas berawarna ungu.
"Apanya yang sama!" celetuk Adik. Lihat, siomay dalam bungkus bening itu berwarna coklat. Tapi kalau dimsum, putih, kenyal, dan juga mengkilap-mengkilap. Adik jelas lebih memilih dimsum.
"Yeee, si eneng nggak percaya. Siomay itu artinya dimsum. Jadi sama aja. Gini-gini saya itu masih ada keturunan," mamang Siomay besidekap dada, dagunya terangkat dengan angkuh.
"Wihh, keturunan mana bang?" kini Kome ikut menimbrung dalam obrolan acak itu.
"Keturunan samudra pasifik."
Mamang siomay dan Kome saling melempar tawa, walau bagi kome tidak ada yang lucu. Jokes bapak-bapak, harus ia hormati. Lain hal dengan adik yang kin menatap abang siomay penuh antusias.