Cawu sedang merebahkan diri di depan minimarket, setelah menghabiskan bekal yang anak-anak sekolah buang. Ia memutuskan untuk tidur sejanak. Sempat berharap Sita dan Sari datang agar ia bisa memakan sosis enak, tapi sepertinya mustahil. Sudah seminggu belakangan ini dirinya tidak melihat dua orang sahabat yang sangat menempel satu sama lain itu.
Cawu pernah dengar, manusia itu mudah bosan. Mereka mudah bosan tapi takut dengan perpisahan. Alih-alih brekata 'Selamat Tinggal', mereka memilih untuk menghilang. Seolah itu adalah hal yang mudah, tanpa memikirkan nasib dari orang-orang yang mereka tinggalkan.
Cawu menumpukan dagunya di kedua kaki depan yang saling tumpang tindih. Baru dirinya akan memasuki alam mimpi, terdengar suara motor yang sangat berisk. Dari pengalamnnya di penangkaran dulu, ia yakin pasti kenalpot dari motor ini sedang berjuang keras. Ia pasti kini sedang berpegang erat pada kawat yang menahannya agar tidak jatuh.
"Hai, anjing besar," indra penciumannya mengendus sesuatu yang tak asing. Ia sangat familiar dengan bau yang pernah menjadi tempat tinggalnya. Namun, auranya berbeda.
Cawu membuka mata, mendapati kakek pemulung yang berdiri di depannya. Melihat Cawu yang sudah membuka mata, Kakek tersenyum. Kakek berjalan menuju tempat sampah hijau yang berukuran lebih besar dari Cawu, membuka tempat sampah itu dan mengambil barang-barang sekiranganya menguntungkan. Dari jauh, Cawu mengamati Kakek. Kantuknya sudah hilang.
Selesai memilih barang, karung besar yang Kakek bawa sudah setengahnya terisi. Kakek membalik badan, berjalan melewati Cawu. Kakek menaruh karung besar itu di ke dalam gerobak yang sudah menjadi sobat perjuangannya. Setelah dirasa barang berharganya sudah aman, Kakek menuju bagian depan gerobak. Bersiap menaiki motor matic yang kini menjadi satu dengan gerobak Kakek.
'Motor?!!'
Rasa penasan Cawu berhasil membuat anjing itu menggerakan ke empat kaki mungilnya, menghampiri Kakek yang sudah duduk di atas motor. Menyadari kedatangan si anjing kuning, dari atas sana, Kakek melirik ke bawah, sebelah bibir Kakek terangkat.
"Lihat ini!" bagian tengah stang yang menunjuka speedo dan bensin Kakek tepuk pelan, "Meski harus sambil diselah, tapi tidak lelah!"
"GUK! GUK! GUK!"
Cawu menggong-gong dengan kencang, ia beberapa kali berputar di tempat lalu kembali memperhatikan Kakek. Mulutnya terbuka lebar dengan lidah yang beberapa kali keluar masuk.
"Mau ikut?" tawar Kakek, ia sedikit memberi ruang pada bagian depan agar si anjing kuning itu bisa masuk.
Dengan antusiasme tinggi, Cawu naik ke atas motor. Kepalanya menyembul dari balik stang memperhatikan bagian depan. Mulutnya masih tidak juga mau berhenti, menyalurkan kebahagiaan yang ada.
'Si Kakek punya motor, jadi dia orang kaya!'