Hey, Cawu!

Godok
Chapter #17

Happy Birtday!

"Mau pesan yang seperti apa?" Naya menunjukan katalog toko Risaya yang dikhususkan untuk orang-orang yang ingin memesan kue ulang tahun, "Atau sudah ada reverensi sendiri?"

"Ini aja, nih! Empat tingkat!" Semangat Sari menggebu-gebu sambil menujuk sebuah kue bertingkat yang lebih umum di lihat dalamresepsi pernikahan.

"Bagus juga! Biar acaranya semakin meriah," tidak kalah dengan si adik, Riman segera mengeluarkan dompet dalam saku jaketnya.

"Jangan aneh-aneh," untungnya Duka masih memiliki pemikiran yang lurus. Untuk apa juga mereka pesan kue empat tingkat hanya untuk ulang tahun Kome. Di bagika kepada para tetangga juga tidak mungkin.

Tanpa memperdulikan kelakukan si kakak beradik narsis, Sita mengambil alih katalog yang dipegang Naya. 

"Kalau yang ini," kue yang Sita tunjuk juga tingkat ,tapi ini kue tingkat dua dengan ukuran yang lebih kecil di banding kue sebelumnya.

"Nggak kekecilan, kah?" Sari melihat-lihat detail dari kue yang sahabatnya pilih.

"Untuk kue yang kakaknya pilih bagian bawah pakai loyang 20, bagian atasnya loyang 18 Kak."

"Ada juga yang ini, Kak," Naya membalikan buku katalog menunjukan berbagai macam kue yang kini tidak memiliki tambahan kue di bagian atasnya, "Untuk yang satu ini, ukurannya ada berbagaimacam variasi sampai loyang 50 juga bisa."

"Loyang 50 itu berarti diameternya, ya, Kak?" tanya Sita.

"Iya, kak. Benar."

"Gila. Si bocil bisa berenang dalam situ nanti!"

Pernyataan Riman membuat Duka geleng-geleng kepala, "Adik nggak sekecil itu, Pak."

"Kita mau pilih yang tingkat aja, Kak," sita kembalik membalik katalog, matanya fokus pada kue yang sebelumnya ia pilih.

"Nih, gini nih. Kalau udah fokus sama satu, gak bakal ada pilihan lain," sindir Sari yang tahu persisi bagaimana sifat temannya itu. Berbanding dengan Sari yang lebih suka melihatlihat dan membandingkan beberapa pilihan sebelum kahirnya benar-benar ia beli.

"Nanti bom-nya di taruh di bawah, kan?" Riman yang kini berdiri di samping Sita meunjuk bagian bawah dari kue dalam katalog.

"Loh. Nggak di atas aja, Pak. Biar lebih, darrr. Gitu."

"Dih, pemula. Dampaknya lebih bagus kalau di bawah," ejek Sari yang shampir sama mendapat kepalan tangan Duka. Untung saja mahasiswi ceplas-ceplos satu ini adik dari seniornya.

"E-em..." Naya, perlahan mengambil kataloh yang masih dilihat oleh rombongan orang-orang yang baru saja datang.

"Maaf, saya lupa. Sepertinya untuk pesanan kue kami tidak bisa terima karena sudah penuh-"

"Loh, minggu ini antrian kita kosong, kan?"

Risaya yang baru saja datang membuat bahu Naya semakin menegang. Naya dengan cepat berlari menuju Risaya, si karyan baru itu berdiri berhadapan dengan RIsaya. Naya angkat kataog yang masih ia pegang untuk menutupi wajah keduanya.

"Bu own," bisik Naya, "Mereka katany mau makan bom, bu. Bom."

"Bom?!" nadanya meninggi. Risaya segera menurunkan katalog yang menghalangi pandangannya. Menatap keempat bocah dalam tokonya dengan serius.

"Bu, jangan, bu," Naya berusaha menahan tangan Risaya yang dengan gagah melangkahkan kaki menghmapiri keempat calon atau akan segera menjadi mantan pelanggannya.

"Kamu ngapain?" Risaya berdiri di hapadan Duka. Tangan wanita pemiliktoko itu menyilang, saling tumpang tindih di atas uluh hati.

"Main bom segala, ngapain?" tanyanya sekali lagi dengan nada yang semakin mengintimidasi.

"Apa sih, teh. Buat ulang tahunnya Kome, ini."

"Ohhhh. Kamu gak sanggup bilang suka ke Kome malah mau buat ulah, iya?" tangan kanan Risaya menarik kencang telinga kiri Duka.

Kawanan lainnya dari si "pengebom"? mereka diam. Lebih tepatnya mereka berusaha menahan tawa meilihat orang yang sedari tadi sok paling menengahi dan berlagak seolah dirinya paling pintar Kena marah ole pemilik toko kue.

Riman tidak bisa. Ia tidak tahan lagi. Tawanya pecah hingga frekuesninya menular pada Sari yang juga kini tertawa dengan kencang sambil memeluk Sita.

"Pantes Kak Duka sering marah kalau Kak Kome lagi ambil kerja sampai malam. Ya, kak?" pertanyaan Sita berhasil menghentikan tawa kedua kakak beradik tak sedarah itu. Namun, hanya beberapa detik. Tawa yang lebih kencang dari sebelumnya terdengar.

Duka berdecak kesal, "Berisik kalian," pelahan ia melepaskan jeweran tangan Risaya.

"Kita mau beli kue buat ulang tahunnya Kome, teh. Bukan kriminal."

"Kenalin," Duka berdiri di samping Risaya, "Ini adik ibu saya. Sekian."

Riman berdehem, sekedar memberi pemanasan pada tenggorokan yang lelah tertawa. "Penjelasan kamu kurang, ulangi."

"Tiba-tiba jadi presentasi evaluasi, sih, Pak," keluh Duka.

Lihat selengkapnya