Hari ini awan sepertinya sedang malas. Ia hanya ingin tidur seharian, itu yang dipikirkan Cawu. Karena sekarang, si anjing kuning itu sedang duduk di bangku alun-alun sambil memperhatikan awan yang masih berwarna gelap. Kelabu.
'Dia lupa kalau ini sudah siang atau memang masih ingin tidur, jadi masih menjadi gelap.'
Meski begitu, Cawu menyukai hembusan angin yang mulai menerpa wajahnya. Lebih sejuk, terasa menyapu bulu-bulu panjangnya dengan halus, dan ada wewangian aneh yang sangat membuatnya tenang. wewangian yang selalu datang sebagai penanda bahwa awan akan memeras semua yng telah dikumpulkan.
'Sedang apa? tidak meneduh?'
Suara dari ujung bangku membuat Cawu menundukan kepala, ia mengaktifkan penglihatan super. Membuat kedua matnya mendapati seekor ulat yang berkali-kali lipat lebih kecil dari ekornya. Itu nyonya Caterpilar. Ya, nama yang sama seperti roti yang Jia berikan padanya.
'Urusan mudah. Nyonya Caterpillar tidak bersembunyi?'
Terdengar dengusan kecil yaang membuat si ulat berwarna kuning di dominasi hijau itu terkesan angkuh.
'Dasar hewan baru. Coba lihat kebawah.'
Cawu sedikit memajukan kepalanya, ia melihat ke bawah. Ada jalanan yang sudah di lapiri oleh batuan berwarna putih keabu-abuan.
'Kau bisa terseret arus.'
Perkataan Cawu membuat yang lebih 'senior dalam menjadi hewan' berdecak. Ulat itu berjalan ke ujung bangku.
'Di bawah sini!'
Nyonya Caterpillar sedikit berteriak agar suaranya dapat mencapai ke dalam telinga Cawu. Betapa pengertiannya ulat mungil itu.
Cawu melonpat turun. Sambil menghadap bangku yang sebelumnya ia duduki, kepala Cawu sedikit menunduk. Melihat Nyonya Caterpillar yang mengantung bak kelalawar.
'Sedang senam agar awet muda?'
'Jangan bodoh. Aku akan lebih cantik dari sekedar awet muda.'
'Dulu juga ada yang sepertimu,' melihat anjing di depannya yang sepertinya masih ingin bicara, Nyonya Caterpillar tetap diam, 'Tapi, si pemilik bengkil itu mengabil dirinya yang sudah terbungkus. Kataya kualitas bagus. Ya... dia juga sudha tidak bergerak selama seminggu. Nyonya... akan mati.'
'Hah?! kau mau kau uat gatal-gatal?'
Anjing itu memundurkan kepalanya. Ia menekuk kedua kakinya, merebahkan diri sambil menatap Nyonya Caterpilar yang melakukan gerakan aneh. Ulat itu tidak berhenti bergoyang. Sepertinya sedang membuat sesuatu untuk menyelimuti dirinya dari hujan.
'Manusia bodoh tidak sabaran. Padahal mereka bisa mengambil yang sudah tidak ditempati, bukannya membunuh paksa.'
'Jadi, waktu itu aku masi bisa menyelamatkannya?'
'Tidak. Anjing bodoh sepertimu, mana mungkin bisa.'