Hey, Cawu!

Godok
Chapter #19

Agent Cawu

Akhir-akhir ini cuaca mulai membaik. Matahari tidak lagi terlalu menunjukan amarahnya pada bumi, angin juga mulai mebawa hawa sejuk pada siang hari.

setelah Kekek pemulung memiliki motor, Cawu jadi memilik jadwal rutin. Menjelang ore hari, setelah anak-anak pulang dari sekolah, anjing kuning itu menggu datangnya Kakek pemulung. Mereka bedua keliling bersama, menukmati udara sore. Sesekali Kakek pemulung berhenti ketika melihat tempat sampah yang penuh. Tidak hanya menunggu adanya tempat sampah, kalau ada sampah yang berserakan Kakek langsung menepikan motornya saat itu juga.

Kalau mood sedang baik Cawu tidak hanya menumpang jalan-jalan sore. Ia mebikuti Kakek, mengambil bebrapa barang seperti yang biasanya Kakek masukan ke dalam gerobak.

Namun, sudah 3 hari belakangan ini Cawu tidak bertemu dengan Kakek pemulung. Kalau diingat-ingat lagi, Kakek sempat bilang akan pergi menemui cucunya di kota lain. Mungkin yang Kakek maksud adalah saat ini. Karena kebiasaannya setiap sore duah terlatih, Cawu jadi bingung apa yang harus ia lakukan. Ingatannya menghapus semua memori tentang sorenya sebelum menjadi pengikut Kakek.

Cawu mengunjungi toko roti. siapa tau ia mendapat cemilan sore. Saynagnya, sore in toko roti tutup. Duduk di alun-alun juga percuma, Duka akhir-akhir ini selalu pulang malam. Mendengar Adik yang sedang sakit, Cawu tidak ingin merepotkan dua kakak beradik itu. Kalau Sita dan Sari, si anjing kuning memang paling jarang bertemu mereka. Jadi ia tidak ambil pusing.

'Karena hari pasar, perutku aman-aman saja. Tapi, tetap sajaa. BOSAAAAN'

Cawu berlarian kesana kemari, tidak jelas tujuan yang ingin ia hampiri. Kemampuan hidungnya mencium makanan enak juga sedang menurun atau karena memang tidak yang jul makanan di sekitar sini. Lagi pula siapa yang ingin julan makanan di area kuburan. Karena terus berjalan tanpa henti, Cawu tanpa sadar masuk ke area kuburan. Ia berjalan menghampiri makan Kasa.

Tidak ada makanan, tidak ada Rai, juga tidak ada si makhluk yang selalu tersenyum itu.

Cawu memutuskna untuk kembali melanjutkan perjalanannya. Menggali ingatannya saat melewati jalan ini bersama Rai, Cawu memutuskan untuk pergi menuju lapangan luas yang dsering di pakai untuk berkemah. Siapa tau ia bisa kmebali mendapat daging.

Dan, kasong.

Lapangan itu sangat kosong. Rumput hijau tumbuh dengan menyeluruh, tidak ada tanda adanya pembakaran api unggun atau lubang dari pasak untuk memasang tenda.

Cawu mulai merebahkan badannya. Tidak lagi berminat melakukan apapun. Langit sangat cerah, sepertinya tidak akan hujan juga. Cawu memutuskan akan menghabiskanmalam di lapangan perkemahan.

Merasakan semilir angin yang berhembus melewati sela-sela bulu di wajhnya, sayup-sayup penglihatannya mulai menurun. Kantuk menyapa, mengingatkan dirinya yang sejak tadi berkeliling tidak jelas tanpa henti. Aroma rumput segar dan tanah yang lembab semakin memanjakn tubuhnya, Cawu merasa tenang. Angin yang semakin kencang membuatnya tidak mungkin tidak terlap. Kini, sudah dapat di pastikan mata anjing itu tidak lagi dapat terbuka.

plak!

Sebuah majalah tipis menghantam wajah si anjing. Cawu berdiri, ia menggeram dalam memperhatikan sekitar.

'Jangan bilang si pembawa sial itu ada di sini!'

Deretan gigi runcingnya terlihat menyeramkan dengan sorot mata yang sangat tajam. Bisa di pastikan Jia akan menolak untuk memeluk Cawu dalam mode ini.

Lihat selengkapnya