Akhir-akhir ini cuaca mulai membaik. Matahari tidak lagi terlalu menunjukan amarahnya pada bumi, angin juga mulai mebawa hawa sejuk pada siang hari.
setelah Kekek pemulung memiliki motor, Cawu jadi memilik jadwal rutin. Menjelang ore hari, setelah anak-anak pulang dari sekolah, anjing kuning itu menggu datangnya Kakek pemulung. Mereka bedua keliling bersama, menukmati udara sore. Sesekali Kakek pemulung berhenti ketika melihat tempat sampah yang penuh. Tidak hanya menunggu adanya tempat sampah, kalau ada sampah yang berserakan Kakek langsung menepikan motornya saat itu juga.
Kalau mood sedang baik Cawu tidak hanya menumpang jalan-jalan sore. Ia mebikuti Kakek, mengambil bebrapa barang seperti yang biasanya Kakek masukan ke dalam gerobak.
Namun, sudah 3 hari belakangan ini Cawu tidak bertemu dengan Kakek pemulung. Kalau diingat-ingat lagi, Kakek sempat bilang akan pergi menemui cucunya di kota lain. Mungkin yang Kakek maksud adalah saat ini. Karena kebiasaannya setiap sore duah terlatih, Cawu jadi bingung apa yang harus ia lakukan. Ingatannya menghapus semua memori tentang sorenya sebelum menjadi pengikut Kakek.
Cawu mengunjungi toko roti. siapa tau ia mendapat cemilan sore. Saynagnya, sore in toko roti tutup. Duduk di alun-alun juga percuma, Duka akhir-akhir ini selalu pulang malam. Mendengar Adik yang sedang sakit, Cawu tidak ingin merepotkan dua kakak beradik itu. Kalau Sita dan Sari, si anjing kuning memang paling jarang bertemu mereka. Jadi ia tidak ambil pusing.
'Karena hari pasar, perutku aman-aman saja. Tapi, tetap sajaa. BOSAAAAN'
Cawu berlarian kesana kemari, tidak jelas tujuan yang ingin ia hampiri. Kemampuan hidungnya mencium makanan enak juga sedang menurun atau karena memang tidak yang jul makanan di sekitar sini. Lagi pula siapa yang ingin julan makanan di area kuburan. Karena terus berjalan tanpa henti, Cawu tanpa sadar masuk ke area kuburan. Ia berjalan menghampiri makan Kasa.
Tidak ada makanan, tidak ada Rai, juga tidak ada si makhluk yang selalu tersenyum itu.
Cawu memutuskna untuk kembali melanjutkan perjalanannya. Menggali ingatannya saat melewati jalan ini bersama Rai, Cawu memutuskan untuk pergi menuju lapangan luas yang dsering di pakai untuk berkemah. Siapa tau ia bisa kmebali mendapat daging.
Dan, kasong.
Lapangan itu sangat kosong. Rumput hijau tumbuh dengan menyeluruh, tidak ada tanda adanya pembakaran api unggun atau lubang dari pasak untuk memasang tenda.
Cawu mulai merebahkan badannya. Tidak lagi berminat melakukan apapun. Langit sangat cerah, sepertinya tidak akan hujan juga.
Sudah lebih dari setengah jam yang lalu Kome terus berlari, mengelilingi komplek sambil meneriaki nama Adik.
Adika kembali hilang.
Kali ini Kome mesatikan pekarangan ruamah terlebih dahulu, tapi tidak ada. Padahal wanita itu sangat berharap kalau adik hanya bersembunyi di balik semak-semak seperti sebelumnya. Sekolah sudah bubar dari dua jam yang lalu, tapi Adik tidak juga kunjung pulang.
Sudah dua hari belakangan ini Kome tidak menjemput Adik. Karena menunggu Adik di rumah sakit tempo lalu, badannya tersa pegal-pegal. Sepertinya karena ruangan rawat inap yang dingin dan dirinya yang tidur di kursi lipat berjam-jam. Tidak ada masalah pada hari-hari kemarin. Namu, saat menyadari jam pulang sekolah sudah lewat dan Adik masih juga belum kembali, Kome segra menuju sekolah Adik yang sudah di tutup.
Di tengah-tengah pencarian, ponsel Kome berdering.
"Halok, kak," terdengar suara Sita dari seberang sana, "Ini aku sama Sari udah post di medsos. Tapi, belum dapat kabar juga."
"Makasih, ya. Ini kakak juga lagi puterin komplek. Kenapa, Ta?" tanya Kome mendengar sayup-sayup suara Sari yang terdengar cukup heboh.
"Sari di hubungin sama Kak Riman, kak. Katanya Jia juga hilang, kak."
"Jia anak teh Risaya?"
"Iya. Mamahnya minta tolong Kakak Riman sebarin info."
"Oke, okee. Aku coba hubungin teh Risaya dulu, ya."
Kome segera menghubungi Risaya, keduanya memutuskan untuk bertemu di minimarket. Siapa tau kedua bocah itu ingin jajan dan pergi ke sana. KArena mereka bersekoah di tempat yang sama, kemungkinan mereka berdua bersma. Itu yang Kome harapkan. Semoga Adik tidak sendirian. Dan semoga, keduanya memang hanya sedang bermain sampai lupa memberi kabar. Hanya itu.
"Teh!" Kome berlari melihat Risaya di atas sepeda listriknya yang terparkir di depan minimarket. "Ada kabar?"
Risaya menggeleng, "Belum. Saya juga udah minta ibu-ibu lain infoin semisal liat Jia sama Adika."
Kome terlihat sangat pucat. Napasnya tidak beraturan juga keringat membanjiri kulit kepala hingga membuatnya rambutnya lepek parah.
"Naik. Kita keliling bareng, cari mereka."
Kome menolak, mencari dengan kendaraan kurang efektif untuk menemukan bocah semungil keduanya. Namun, Risaya memaksa. Ia tau kondisi Kome sedang tidak baik. Sebagai ibu Risaya paham. Risaya juga sering jatuh sakit setelah manjaga Jia yang tidak enak badan.
"Cawu di mana, ya?" celetuk Kome.
"Kok kamu malah cari si anjing kuning?"
"Waktu itu Adik jug apernah hilang, Cawu yang nemuin."
Seketika itu juga motor Risaya di pinggirkan engan sangat mendadak. Kedua tangangannya menggenggam rem dengan erat.