Hey, Cawu!

Godok
Chapter #22

Anjing Liar

Duka baru saja turun dari angkutan umun. Hari ini kantor benar-benar membuat berat badannya terkuras ahbis. Bukan hanya tidak sempat makan, otaknya dipaksa terus bekrja. Ia harus pergi keluar untuk menemui beberpa klien, saat kembali langsung di adakan rapat dadakan.

Bahkan Cila tadi sampai mampir untuk memberinya sisi kotak dan roti. Melihat seberapa hectic kondsi divisi Duka. Kalau Riman sedang ada di kantor, mungkin pria itu kini sudah memenuhi meja Duka dengan berbagai makanan instan. Agar -calon- keponakannya itu tidak jatuh sakit karena pekerjaan yang yang terus berdatangan. Sayangnya, pria itu sedang dalam perjalanan dinas.

Makanan dan minuman yang Cila berikan pada Duka itu juga sebenarnya karen Riman terus-terusan menerornya dengan pesan dan telepon masuk.

"Mau ngeluh, tapi nanti gajinya juga penuh."

Helaan napas panjang terhembus bersamaan dengan kedua bahu Duka yang terkulai lesu. Langkahnyaia paksakan, sepertinya membeli jajanan lebih dulu bisa membuat sebagian tenaganya kembali.

"Es podeng, cilok... sama sosis bakar deh, buat Cawu-"

"Cawu!"

Kedua mata Duka membulat, terbuka dengan sangat lebar melihat Cawu yang sedang dikepung oleh para pria berseragam bitu tua. Ada satu pria yang membawa besi panjang, dengan bangian depan yang membentuk huruf u. Duka pernah baca, kalau tidak salah alat itu disebut man grabber. Namun untuk apa? Untuk apa alat seperti itu diarahkan pada Cawu?

Si anjing kuning menggeram dalam, kedua kakinya terbuka. Memasang ancang-ancang untuk membalas para manusia yang tiba-tiba menyerangnya ini. Cawu berdiri dengan tegap tanpa gentar. Di belakangnya, terdapat bangku taman yang biasa ia duduki. Tidak sedikitpun Cawu bergeming.

'Mereka pasti ingin mengagalkan Nyonya Caterpillar yang akan berubah menjadi indah!'

"GUK! GUK! GUK!"

"Galak banget, udah pasti yang ini sih anjingnya."

"Golden Retriever keliaran gini? lepas kayaknya?"

"Tapi menurun laposan anjing liar. Suka acak-acak pasar juga."

Para petugas damkar yang mengamankan Cawu masih berdebat. Tidak ada kalung tanda pengenal, tapi dari segi penampilan anjing di hadapan mereka ini terlihat sangat terusu dengan baik.

"Pak, tangkep ceptan pak!"

Para anak remaja yang menjadi pemanggil para damkar mendesak pasukan itu agar segera menangkap Cawu.

"Iya, pak. Kemarin temen saya sampai luka sama dia," salah satu siwi perempuan menjuk kening tenamnnya yang badan besar, terdapat plater kecil di sudut keningnya.

"Tuh, tapi dia nyakitin anak-anak ini. Kalu dibiarin bahaya."

"Tapi,"

"Cawuuu!" panggil Duka. Abai dengan tubuhnya yang sudah lelah, Duka menerobos brikade para petugas dan berdiri di sebelah si anjing. Duka mensejajarkan tinggi dengan Cawu, kedua tangannya mengusak anjing itu dengan lembut.

"Kamu gak apa-apa?"

Si anjing berhnti menggeram, badannya masih berdiri tegak menantang para petugas. Ia rela melakukan apapun demi melindungi nyonya caterpillar.

"Guk! guk!"

'Ini urusanku. Mereka mau bunuh nyonya caterpillar.'

"Kenapa kamu mau ditengkep gini? Abis ngapain?" panik Duka. Nadanya tidak meninggi. Sebaliknya, ia justru sangat khawatir dengan si anjing kuning.

'Eh, aku ditangkap?'

"Tangkep aja pak! Cepet!" si remaja berbadan besar mulai kehabisan kesabaran.

 "Cawuuuuu~" suara bocah perempuan menggelegar, mengambil perhatian siapa saja yang berada di sekitar alun-alun.

Adik berlari dengan kencang, ia menyelip di antara kaki para petugas. Dengan gagah berdiri di depan Cawu, menghadap para petugas sambil membuka kedua tangannya.

Lihat selengkapnya