Hey Friend, Let's Not Fallin' In Love

Rie
Chapter #10

10. Jiwa Yang Lelah

Dalam hidup ini, tak pernah ada yang tahu bagaimana perjalanan yang akan dilalui. Sebagian orang melalui jalan lurus, selalu menemukan akhir bahagia, bisa dengan mudah mendapatkan segalanya. Sementara sebagian yang lain mengupayakan semua itu dengan susah payah, melewati jalan berliku, bahkan keras dan kejam. Takdir yang berbeda, begitulah mereka menyebutnya.

Bagi Askara, kembali merasakan bahagia adalah hal yang sulit ia dapatkan. Sederhana, tapi dia tidak bisa. Sudah lima tahun berlalu, namun rasa kosong dan kesepian itulah yang setia menemaninya. Waktu tak menyembuhkan segalanya. Buktinya, bukan semakin hilang luka itu justru semakin besar dan mengakar. Seperti lubang hitam yang perlahan menyedot habis kewarasannya hingga jatuh makin dalam.

"Hei, jangan naik terlalu tinggi. Kalau kamu jatuh, cedera lagi. Sini, turun." Satu tangan Askara terulur pada kucing abu-abu yang kini sedang berusaha memanjat batang pohon mangga yang tumbuh rendah di dekat gudang laboratorium kampusnya.

Sore menjelang malam, Askara sengaja tak segera pulang setelah kelas prakteknya berakhir. Ia memilih untuk duduk mengamati kucing-kucing asuhannya bermain sambil memberi mereka makan. Kucing-kucing yang tak tahu siapa pemiliknya namun, ia rawat dengan baik dan menjadi teman sepinya.

"Padahal aku baru aja obatin kaki kamu yang luka, ya, Meng. Sekarang udah manjatin pohon aja, nggak sakit?" tanyanya yang hanya dijawab oleh tatapan cuek si kucing. Kucing abu yang kakinya dibalut perban itu mengeong, menyudahi usahanya memanjat pohon, lalu berjalan terpincang menyusul Askara yang duduk di bangku kayu dengan sebungkus dry food di pangkuannya. Meminta jatah makanya pada Askara.

"Jangan berantem Cimol, kamu nggak boleh begitu sama Pentol." Kucing oren dan putih yang ada di hadapannya mendadak berhenti saling mencakar karena mendengar suaranya, namun kemudian mengulang kegiatan mereka.

Askara tak peduli jika orang lain menganggapnya gila karena suka berdialog dengan kucing-kucing itu. Ia sering mendengar teman-teman seangkatannya mengatainya 'aneh' dan 'tidak waras' hanya karena dia suka menyendiri dan bicara dengan kucing-kucingnya.

"Kalian akan ninggalin aku juga suatu saat nanti?" tanyanya dengan suara yang pelan dan lelah, ia menyandarkan punggungnya di sandaran bangku. "Iya, sih, aku memang bukan pemilik kalian, tapi aku seneng bisa merawat kalian, nemu kalian pas kalian nggak punya tempat berteduh saat hujan, pas kalian kelaparan di pinggir jalan, atau pas kalian luka karena dianiaya atau kecelakaan."

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis, satu tangannya membelai kepala Cimol yang sedang sibuk makan di dekat kakinya bersama Pentol dan Cilok. Askara asal memberi nama tiga kucing itu dengan sebutan makanan yang mudah diingat, membuat mereka terlihat lucu.

Menghela napasnya panjang, Askara menunduk dan memainkan sebuah gantungan kunci kayu berbentuk gitar yang ada di ranselnya. Gantungan kunci yang dibuat Arga untuknya. Hari ini dia merasa kesepian lebih dari biasanya.

"Kalian bikin aku ngerasa iri, Meng. Kalian punya saudara yang nggak seibu tapi bisa kumpul begini, berantem tapi tetep barengan. Nggak sendirian sepertiku. Nggak ada teman, bahkan saudaraku satu-satunya juga udah pergi." Tangannya terulur mengelus kucing oren yang berada di sisi kirinya, yang mengeong dan menatapnya dengan matanya yang berkaca-kaca seolah mengerti apa yang sedang diucapkan Askara.

"Kamu ngerti perasaan aku? Makasih, haha." Diangkatnya kucing oren itu lalu diusap-usap kepalanya dengan gemas. "Kalo suatu saat nanti, aku yang ninggalin kalian duluan, kalian bakal kangen, nggak? Jangan keluyuran nggak jelas dan terluka. Semoga ada orang baik yang menemukan dan mau rawat kalian."

Kucing oren itu mengeong lagi, si Cimol juga mengeong sementara si Pentol hanya menatapnya. Askara tertawa kecil, mengusap-usap ketiga kucing yang dekat dengannya itu. Ia selalu merasa terhibur saat menghabiskan waktunya dengan mereka. Setidaknya, rasa kesepian di hatinya bisa sedikit tertutupi meski hanya sesaat.

Dilepaskannya kucing oren itu dari pelukannya. Askara menghela napas panjang, merasakan tiupan angin yang semakin dingin pada tubuhnya. "Luka kalian bisa kuobati. Tapi, nggak ada yang bisa mengobati lukaku." 

Lihat selengkapnya