Hey Friend, Let's Not Fallin' In Love

Rie
Chapter #11

Bab 11. Apa Yang Terjadi?

Langit sudah berubah menjadi gelap ketika Laras selesai dari diskusi kelompok bersama teman-temannya. Ia tadi meminta Pradipta pulang lebih dulu, karena sahabatnya itu sudah selesai kelas sejak sore.

'Nanti kalau sudah selesai, bilang. Aku jemput.'

Sudut bibirnya tertarik ke atas melengkungkan sebuah senyuman saat membaca pesan yang dikirim Pradipta untuknya. Selalu begitu, merepotkan diri untuknya, padahal Laras bisa melakukannya sendiri. Sebaiknya hari ini, ia membiarkan sahabatnya itu beristirahat dan tidak mengganggunya dengan bolak bailk dari rumah ke kampus lalu mengantarnya. Karena itu begitu keluar dari kampus, Laras memesan taksi online yang tak butuh waktu lama menunggu dan menjemputnya.

Menikmati suasana malam yang sibuk, Laras menyamankan diri bersandar menatap ke luar jendela. Namun begitu mobil yang ditumpanginya itu berhenti di lampu lalu lintas, Laras melihat sosok tak asing yang berjalan seperti zombi di seberang jalan.

Askara? Kenapa dia begitu?

Pandangannya tanpa sadar terus mengikuti sosok Askara, bahkan ia ikut tersentak saat pemuda itu tersandung dan nyaris terantuk tiang lampu. Rasa herannya harus terhenti saat mobil kembali berjalan. Laras berbalik, menatap Askara yang sudah jauh di belakang masih berjalan seperti tak sadar arah. Menghela pelan, Laras kembali menghadap depan.

Kenapa aku mikirin dia? Bukan urusanku juga - batinnya.

Namun, semakin jauh mobilnya berjalan, Laras semakin tidak tenang. Ada rasa tak nyaman yang mengganggunya. "Pak, maaf. Apa bisa putar balik ke Jalan Darma tadi?"

Sopir itu menatapnya dari kaca lalu mengangguk. "Bisa, Mbak. Tunggu sampai di belokan depan, ya. Baru bisa putar balik."

"Iya, Pak. Terima kasih." Ia melihat jam di ponselnya, hampir pukul delapan malam. Tak apa-apa jika dia terlambat pulang sebentar. Ia merasa heran, kenapa justru ia sepenasaran ini, juga merasa tak nyaman hanya setelah melihat sosok Askara? Kenapa pemuda itu selalu membuatnya merasa begitu?

Begitu turun di jalan yang tadi dilewati oleh Askara, Laras langsung mencari keberadaan pemuda itu. Ia hanya ingin memastikan pemuda itu dalam keadaan baik, lalu setelahnya ia akan pulang dengan tenang. Meski sempat mengedarkan pandang kesana-kemari, sosok Askara segera ditemukannya setelah lima menit mencari diantara lalu lalang orang di trotoar. Laras memilih menjaga jarak aman lima meter dari Askara, mengikutinya diam-diam dari belakang. Hari ini pemuda itu terlihat tak seperti biasanya. Iya, sih, ia baru tiga kali bertemu dengan Askara, tapi ada yang aneh dari gelagat Askara tadi.

Askara berjalan pelan dan agak tertatih menuju jembatan penyeberangan, berhenti sebentar saat sampai di ujung tangga teratas. Laras sedikit ragu untuk mengikutinya naik jembatan penyeberangan karena tidak ada orang lain selain Askara yang akan melewatinya. Jika ia nekat mengikuti walau dalam jarak aman, pasti akan ketahuan oleh pemuda itu. Laras menggigit bibirnya, bimbang.

Ia masih berada di ujung tangga terbawah, namun akhirnya memutuskan untuk pulang dan membiarkan rasa penasarannya pada Askara selesai sampai di situ. Baru saja berniat pergi, dilihatnya Askara berhenti di tengah jembatan dengan mata terpejam dan ekspresi wajah yang sama sekali berbeda. Pucat dan terlihat putus asa. Lalu benar saja, kedua maniknya membola begitu Askara mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua mata pemuda itu terpejam, dengan tangan menggenggam pagar jembatan. 

Sontak Laras berbalik, berlari kembali secepat ia bisa untuk menaiki tangga menuju tempat Askara. Hal buruk terbayang di kepala Laras sekarang. Entah itu benar atau tidak, tapi ia harus menghentikan pemuda itu sekarang.

"Kamu!"

Teriaknya begitu berhasil sampai di atas, lalu berlari dan tanpa berpikir panjang dia merain bagian belakang kemeja Askara, menariknya sekuat mungkin untuk menjauhi pinggiran pagar. Jangan sampai jatuh, please!

Lihat selengkapnya