Olivia Alexander melangkah memasuki aula tua yang disulap menjadi tempat pelelangan bergengsi malam itu. Gaun hitam panjang membelah anggun lekuk tubuhnya, rambutnya dibiarkan terurai, hitam legam dan bergelombang. Wajahnya memakai riasan lembut,
menonjolkan sorot matanya yang tajam, dingin, menyapu sekeliling ruangan tanpa benar-benar tertarik pada siapa pun.
Marvel Oliver melihatnya lebih dulu. Dari balik kerumunan tamu elit yang tertawa dan
bersulang, matanya langsung terkunci pada sosok wanita itu. Tak ada senyuman di
wajahnya, tak ada sapaan basa-basi. Hanya tatapan waspada yang membuatnya yakin wanita itu berbeda.
Marvel meletakkan gelas anggurnya dan berjalan mendekat. Ia tak pernah menyukai pesta, apalagi pelelangan gelap seperti ini.
Namun malam ini, alasannya berubah. Sosok wanita
yang kini berdiri hanya beberapa meter di depannya menyita seluruh perhatiannya.
Dan tepat ketika ia hampir mencapai Olivia, seorang pelayan muda tersandung ujung karpet.
Nampan di tangannya terguncang, dan sebuah gelas koktail terlepas, meluncur lurus ke arah wanita itu.
Tanpa berpikir panjang, Marvel melangkah cepat dan menarik lengan Olivia.
Dalam sekejap,btubuh ramping itu terhimpit di dadanya. Gelas koktail jatuh dan pecah di lantai, namun tak satu tetes pun menyentuh gaun mahal itu.
Mata mereka bertemu.
Sorot mata Olivia membeku, bukan karena kaget, tetapi karena intensitas tatapan Marvel yang begitu dekat dan mengancam stabilitasnya.
“Apakah Anda baik-baik saja?” tanya Marvel membuka suara pertama kali, masih mempertahankan kontak mata yang belum putus sejak insiden tadi.
Olivia tidak langsung menjawab. Ia justru mendorong tubuh Marvel perlahan, menciptakan jarak tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Namun sebelum ia sempat berbalik sepenuhnya, Marvel kembali melangkah maju.
Tangannya meraih lengan Olivia dengan kendali penuh kehati-hatian, bukan memaksa, tapi cukup kuat untuk menahannya tetap di tempat. Ia melirik ke arah beberapa pelayan yang kini tengah bergegas ke arah mereka, membawa lap dan nampan kosong untuk membersihkan
pecahan kaca.
Marvel menunduk sedikit, mendekat ke telinga Olivia dan bertanya dengan nada yang lebih rendah dan berat, “Apakah ini… pertemuan pertama kita?”
Pertanyaannya sederhana, namun menyiratkan rasa ingin tahu yang dalam, seolah ia mencoba membaca sesuatu lebih dari sekadar kejadian kebetulan.
Olivia menatap mata pria itu lagi. Tatapannya tetap tajam, tapi ada senyum tipis yang hampir tidak terlihat menyelusup di sudut bibirnya.
“Mungkin iya. Mungkin juga tidak.”
Jawabannya mengambang, sengaja dibiarkan kabur, seperti teka-teki yang ia ingin Marvel
pecahkan sendiri.
Dengan lembut, Olivia melepaskan lengan dari genggaman Marvel. Ia berbalik, melangkah pelan meninggalkan tempat itu, membaur kembali ke kerumunan para tamu.
Namun saat ia hampir menghilang di balik dinding manusia dan suara orkestra yang kembali bergema, Olivia menoleh sekilas. Pandangannya bertemu sekali lagi dengan Marvel, dan kali
ini, sebuah senyum kecil terukir di wajahnya.