Olivia dan Marvel saling menodong. Ruangan itu menjadi sunyi kembali, hanya diisi napas mereka yang kini lebih berat dari
sebelumnya. Olivia tidak menurunkan senjatanya. Begitu pula Marvel. Hanya tatapan mereka yang bicara, saling membaca satu sama lain dalam ketegangan yang menyesakkan.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Marvel tegas.
Tak ada lagi basa-basi. Tak ada lagi senyum lembut seperti beberapa jam lalu. Olivia tidak menjawab. Tapi dalam sorot matanya, ada konflik yang tak bisa ia sembunyikan.
Derit langkah kaki mendadak terdengar di luar kamar. Bukan langkah biasa, seperti sepasukan orang bersenjata yang menyergap tanpa aba-aba.
Olivia dan Marvel masih saling
menodong, namun kini perhatian mereka terpecah oleh suara tersebut. Tanpa mengubah posisi pistolnya, Olivia berbicara dengan nada tajam, matanya tetap
terkunci pada Marvel.
“Di mana markas James Oliver?”
Marvel sempat terdiam. Pertanyaan itu datang begitu langsung dan tidak terduga. Keningnya berkerut.
“Apa urusanmu dengan James Oliver?” tanyanya, suara rendahnya mengandung
keterkejutan yang tak bisa ia sembunyikan.
“Aku membawa pesan untuknya.”
Marvel terdiam sesaat, lalu tertawa singkat yang terdengar sinis.
"Kalau begitu, kau berbohong,” katanya dingin. “Karena James Oliver… sudah mati. Lima
belas tahun yang lalu.”
Kali ini, Olivia yang tercengang. Tubuhnya kaku sejenak, matanya sempat membesar. Ia tidak
menunjukkan ekspresi panik, namun jelas ada kejutan yang tak bisa ia sembunyikan.
Informasi itu bukan yang ia duga.
Namun, kejutan itu tidak membuatnya goyah terlalu lama. Olivia mengangkat pistolnya
sedikit lebih tinggi, jari telunjuknya mulai menekan pelatuk.
“Kalau begitu,” ucapnya pelan, “kau tidak dibutuhkan lagi.”
Tepat sebelum pelatuk itu benar-benar ditarik, suara keras memecah keheningan. Hantaman
peluru menghancurkan pintu kamar mereka, kayunya pecah, serpihan beterbangan. Hujan
peluru menembus ruangan dengan kecepatan dan kekacauan.
Olivia sontak menunduk, dan
dalam refleks instingnya, Marvel meloncat, meraih pergelangan tangannya, lalu menarik
tubuhnya dengan paksa.
Keduanya jatuh ke lantai. Marvel menyeret Olivia ke sisi meja besar di sudut kamar dan
membaliknya dengan satu dorongan kuat. Meja itu kini menjadi pelindung satu-satunya
antara mereka dan serangan brutal yang datang dari luar.
Peluru terus menghantam dinding, pintu, dan kaca, menciptakan simfoni kematian yang
menggetarkan lantai. Olivia berbalik menatap Marvel, “Siapa mereka?” bisiknya tajam.
Marvel tidak langsung menjawab. Ia mengambil pistol cadangan dari laci kecil di bawah meja, lalu mengisi peluru dengan cepat. Tatapannya serius, tanpa senyum sedikit pun.