Hi Cold Prince

Jalvanica
Chapter #36

34. Menyusun Rencana

Sila memasukan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. "Lo punya rencana apa, Die?" tanyanya.

Seperti biasanya jika Argam tidak main futsal maka waktu istirahatku akan aku habiskan di kantin. Saat ini aku dan Sila tengah makan di kantin yang cukup ramai. Beberapa bangku di kantin juga hampir penuh. Lihat-lah di barisan paling depan dekat pintu masuk semua bangku sudah terisi. 

Aku mengerjap begitu melihat Lucas dan Stela duduk satu meja. Parahnya mereka duduk berjejeran dengan sangat dekat, sampe-sampe hanya terhalang udara satu jengkal. Pasti si Stela sengaja pengin dekat-dekat sama Lucas. Sudah pasti. Modus banget, sih, nenek peyot Stela, tapi kok aku malah pengin tertawa begitu Stela seperti biasa mengoceh kepada Lucas, sementara Lucas hanya menanggapi seperlunya aja. Lagi-lagi nenek peyot Stela dicuekin. 

"Die."

Aku mengerjap lalu menoleh balas menatap Sila. "Ya kenapa Sil."

"Hadeuuh kebiasaan, tadi gue nanya nggak dijawab-jawab, malah diem aja. Ngeliatin siapa sih?" tanyanya, kemudian Sila kembali memasukan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.

Aku menggeleng. "Bukan siapa-siapa kok Sil." Kini tanganku terjulur meraih segelas jus jeruk lalu menyedotnya, rasanya segar.

"Gini Sil gue punya rencana." Aku menghela napas. "Gimana kalau kita nyuri hp nenek peyot buat ngehapus video Verlia soal kehamilannya."

"Hah?! Gue nggak salah denger?" Itu suara David.

Heh David?

Sontak aku dan Sila langsung menoleh ke samping. Di sana sudah ada David. Semenjak kapan David duduk di meja samping kami? Tadi kan kosong?! Itu berarti David tahu. Aduh kenapa mulutku ini asal ceplos sih, seharusnya aku lebih hati-hati mengatakan di tempat keramaian seperti ini. Astaga!

David menarik kursi ke arah meja kami. Kini kami sudah duduk satu meja.

"Eh beneran si Verlia pernah ham—" ucapan David terhenti saat Sila meletakan jari telunjuknya di atas bibirnya 'sttttt' menyuruhnya supaya merendahkan suaranya.

Sila menggeram kesal. "Lagi ... lagi David. Lagi ... lagi pasti lo, Vid. Lo kenapa sih selalu nguping pembicaraan kami?! Lo sengaja ya?!"

Benar juga kata Sila. Dulu pas aku memberi tahu soal rahasiaku dan Eline kepada Sila tentang taruhan mendapatkan Argam diketahui oleh David, dan sekarang rahasia Verlia juga diketahui oleh David, di tempat yang sama pula. Di kantin. Aku mendengus, baru ingat. Setiap istirahat kan David selalu mangkal di tempat duduk yang sama, di samping bangkuku dan Sila.

David menatap Sila jengkel. "Iih apaan sih, emangnya tempat duduk itu punya eyang lo? Lagian gue kan selalu duduk di sana," jawabnya.

Sila memutar bola matanya malas. "Ya kali lo mata-mata."

Mereka berdua masih bertengkar hingga berhasil membuat kepalaku berdenyut pegal. "Sil, Vid, udah dong jangan bertengkar! Pusing nih, kepala gue." Aku memang benar-benar pusing, bagaimana tidak? orang masalah dengan Stela saja belum kelar malah ditambah masalah satu lagi; si David mengetahui rahasia Verlia karena mulutku ini. Hadeuh!

Lihat selengkapnya