Hi, Dear Diary

Heretemian
Chapter #18

Chapter XVII

15 Agustus 2016–Ini Fakhira. Saat itu benar-benar pertama kalinya Khira bersekolah di Sekolah Menengah Pertama biasa, negeri pula. Orang tuanya pun juga memberi opsi untuk menyekolahkan gadis berambut hitam itu di sekolah internasional paling bagus di Menteng. Namun ia menolak secara mentah-mentah. 

“Kamu beneran gak mau sekolah di Menteng aja?” tanya Gylana, Mami Khira, khawatir setelah beberapa bulan membujuk Khira untuk sekolah di swasta. 

“Nggak mam, aku mau ngerasain jadi anak biasa-biasa saja,” tutur Khira ikhlas. Khira sudah terlanjur keterima di SMP Negeri yang ada di dekat rumahnya. Sayang sekali jika Khira sia-siakan.

“Iya nak, gapapa. Karena kamu mau di sekolah negeri, untuk fasilitas yang mami kasih, sementara mami tahan dulu yaa, dari allowance kamu, kartu kredit kamu, jalan-jalan ke luar negeri. Untuk IPad, mami masih oke lah karena untuk belajar kamu juga kan, tapi nanti pas udah masuk sekolah, uang jajan kamu berkurang banyak gapapa ya?” ucap Gylana tegas. Sebenarnya bukan ia tidak mau melakukan ini pada anaknya. Tetapi, agar ia bersyukur dengan apa yang dipunya sekarang. 

“Iya Mam gapapa, makasih banyak ya mam,” 

***

Di sekolah, Fakhira menatap seluruh penjuru sekolahnya asing. Apakah anak-anak negeri semuanya terlihat seperti ini? Ada yang berkulit hitam, ada yang berkerudung tetapi roknya sangat ketat. Mereka semua menurut Khira.. Aneh. Perempuan berparas arab itu baru pertama kali melihat kondisi sekolah seperti ini.

Dari jauh, seorang gadis menatap Fakhira dengan seksama. Ia seperti melihat Khiara sedang kebingungan. Lalu, ia menghampiri Khira untuk mengajak ngobrol.

Lihat selengkapnya