Sebetulnya aku kasihan pada Nantha harus menjadi korban atas konflik kita ini. Tetapi mau gimana lagi? Aku harus benar-benar sendiri. Pikiranku juga sudah kacau. Kalau aku tak bertengkar dengan Si Brengsek itu, tak mungkin bisa aku membela orang itu. Tak mungkin aku membela teman-teman yang lain. Dia saja yang seperti itu ke aku.
Hari itu, Nantha lagi ada acara bakti sosial di Kota tua. Aku datang ke situ. Aku labrak Nantha karena udah ganjen sama cowok aku. Disitu memang lagi rame banyak orang.
Aku bawa ke tempat dimana gak ada anak-anak didik dia. Yakni di sebuah kafe vintage di situ. Aku omelin dia.
“Kamu kenapa sih, ganjen banget sama cowok aku? Emang gak ada apa, cowok lain yang bisa kamu embat?”