Khan Younis, 2022
Aku bergegas menuju mobil bersama para volunteer lainnya. Matahari siang terasa begitu terik, tetapi langkah kami tetap dipenuhi semangat. Hari itu kami kembali menuju posko untuk membagikan makanan dan menyapa anak-anak yang berada di sana.
“Ini makananmu, Ayla,” ujar temanku sambil menyerahkan sebuah kotak makanan yang sudah disiapkan oleh bagian dapur tim.
“Terima kasih, Mama Seno,” jawabku sambil tersenyum.
Aku memanggilnya Mama Seno karena ia sudah memiliki seorang anak bernama Seno. Entah bagaimana, panggilan itu terasa begitu akrab di antara kami. Di tengah kesibukan dan suasana yang jauh dari rumah, kami seperti menemukan keluarga kecil kami sendiri.
Sepanjang perjalanan menuju posko, aku melihat banyak hal yang membuat langkahku terhenti sejenak. Anak-anak Gaza berlarian di antara tenda-tenda. Sebagian bermain bersama teman-temannya, sebagian hanya duduk memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang. Ada tawa kecil yang terdengar di tengah suasana yang sebenarnya begitu berat.
Mereka adalah anak-anak yang, entah bagaimana, masih mampu menemukan alasan untuk tersenyum.
Aku bergegas menghampiri beberapa dari mereka. Dari dalam tas kecilku, aku mengambil beberapa permen yang sengaja kubawa.
“Hallo,” sapaku kepada seorang anak perempuan. “Ini permen untukmu. Namanya siapa?”
Belum sempat gadis kecil itu menjawab, salah satu tim yang berada di dekatku tersenyum.
“Dia ini paling lucu. Namanya Jenna.”
Aku memperhatikan gadis kecil itu. Jenna hanya diam. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menatapku dengan mata yang tenang. Sesaat kemudian, bibir kecilnya perlahan membentuk senyuman.
“Jenna?” panggilku lagi.