Hi, Ly!

Regina Mega P
Chapter #20

Vakantie

Minggu. 

Saatnya membawa Cello kesayangan Lily ke salon untuk grooming. Sudah dua minggu Lily tak memandikannya. Malas. Gadis itu mengandalkan ibunya yang membawa Cello ke salon. Sayangnya, ibu tak pernah mau membawa kucing itu ke salon karena seharusnya, kucing itu menjadi tanggung jawab Lily yang merawatnya. Ibu malah ingin membawa Cello ke vet untuk di steril yang jelas sangat tidak diinginkan Lily.

Lokasi petshop yang dituju Lily hanya berjarak sekitar seratus meter dari rumahnya. Cukup dekat. Makanya, Lily memilih berjalan kaki sambil membawa kucingnya itu dengan kandang rio. 

Selama diperjalanan, pikirannya kembali memikirkan ucapan Layla padanya kemarin. 

Dia menyukai Will, it’s ok! Tapi, kenapa rasanya aku… 

Gadis itu lantas menggelengkan kepalanya cepat. Berusaha menghilangkan pikiran aneh yang mulai menguasainya. Lily sampai di sebuah petshop yang cukup ramai. Kebanyakan dari para customer yang datang adalah untuk membeli makanan dan perlengkapan kucing maupun anjing mereka. Lily lantas memberikan kandang rio itu kepada petugas petshop. 

“Biasa, ya, mbak. Bikin dia secantik mungkin!”

“Siap!” ujar petugas itu.

Lily kemudian berkeliling melihat-lihat beberapa aksesoris dan beberapa jenis makanan kucing. Kebetulan persediaan dirumahnya mulai menipis. Setidaknya itu hanya cukup untuk tiga hari kedepan saja. 

“Mbak!” Petugas yang menyapanya tadi, bergegas menghampiri Lily dengan keranjang rio di tangannya. “Ini kucingnya sakit? Dia, kok lemes banget. Sampai enggak bisa bangun.”

“Masa, sih?”

Lily lantas meraih keranjang rio dan memeriksa kucingnya. Benar saja. Mata Cello mulai memerah. Daun telinganya mulai layu dan dingin, napasnya juga tersengal dengan lidah yang menjulur. Lily panik yang lantas menggendong Cello keluar dari petshop tanpa keranjang rionya.

“Lah, sebelum berangkat kamu baik-baik saja. Eh!”

Tiba-tiba Cello mengalami kejang. Lily panik dia terus mendekap Cello dan bergegas berlari secepat mungkin menuju klinik hewan langganannya, yang berada tiga blok dari petshop tersebut.

“Ly!”

Seorang laki-laki dengan motor maticnya berhenti tepat di depan Lily.

“Will! Tolong antar aku ke klinik hewan di depan sana! Cepat!”

“Hah!”

“Buruan! Cello mulai kejang!”

“Ok, ok!”

Will langsung menarik gas motornya sedalam mungkin agar cepat sampai ke tempat yang mereka tuju. Hanya sekitar satu menit untuk sampai ke klinik hewan –dengan kecepatan tinggi –Lily langsung melompat dari motor dan membawa cepat Cello ke dalam.

“Dok, tolong Cello! Dia tadi kejang, tapi sekarang…”

Tanpa pikir panjang dokter lantas memerikanya dengan cepat.

“Sejak kapan dia seperti ini?”

“Barusan, dok. A... aku mau bawa dia untuk grooming tapi petugas petshop kasih tau kalau Cello lemas.”

“Dehidrasi ini, Ly. Demamnya tinggi.”

“Kok bisa? Aku perasaan… tempat minumnya penuh,” ujar Lily ragu. Dia bahkan tak yakin dengan pernyataannya. Lily berusaha menahan tangis meski air mata tak mampu lagi dibendungnya. 

Dokter itu lantas mencukur bulu yang ada di lengan Cello, kemudian memasang selang infus dan kembali memeriksa keadaan Cello. Lily tak henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan kucing kesayangannya. Baru kali ini dia melihat kucingnya separah ini.

“Kita pantau dulu sambil cek darah, ya.”

Lily tidak bisa berkata apa-apa lagi yang dia lakukan sekarang hanya menangis, melihat kucing kesayangannya terlihat tak berkutik.

Dokter kemudian mengambil alat dan sample darah dari tubuh Cello, kemudian menaruhnya pada alat itu lalu menunggu. “Sementara dia dirawat disini dulu, ya, Ly.”

Lily mengangguk. “Dia pasti sembuh kan, Dok?”

Dokter terdiam, lalu memeriksa hasil tes virus yang ada dihadapannya. “Hmm, bukan virus. Sepertinya hanya demam dan dehidrasi. Beruntung karena Cello sudah vaksin lengkap, ya, Ly. Coba kalau disteril juga, pasti bisa lebih sehat lagi,” dokter itu tersenyum, lalu mengusap pundak Lily yang masih naik turun, sesenggukan. 

“Udah, Cello nggak apa-apa, kok! Sementara nginep disini dulu, ya.”

Lily hanya bisa mengangguk pasrah. “Makasih, ya Dok Indra.” Lily kemudian mendekati Cello yang kini terbaring lemah, sambil terus mengeong, memanggil Lily. Gadis itu lantas mengusap tubuhnya, membuatnya nyaman kemudian tertidur dan dipindahkan ke kandang perawatan setelah diberi obat oleh dokter. 

Lily lupa, kalau sejak tadi dia tidak datang sendirian. Kedua matanya terpaku pada seseorang yang masih setia menunggunya di ruang tunggu. Lily menghela napas saat melihat wajahnya yang terlihat begitu khawatir. Keringat dingin kembali mengalir di wajahnya. Tubuhnya terlihat sedikit bergetar, dan nafasnya sesekali tersengal, sesekali terbatuk.

“Gimana?”

“Cello mesti dirawat sementara sampai demamnya turun.”

Hening. 

“Hey, lo kenapa, Will? Kok gemeteran gini?”

Laki-laki itu lantas menatap Lily heran. Apa gejalanya sangat terlihat, sampai Lily menanyakan keadaannya? Saat melihat Lily panik tadi, ia tak mampu berfikir jernih. Untungnya dia masih bisa menahan diri saat membawa motor bersama Lily.

“Cello udah nggak apa-apa, kok!”

Will tersenyum sekilas kemudian menghela napas panjang. Lega. 

“Sudah hampir empat tahun dia sama gue. Sebelumnya, dia nggak pernah sakit yang parah kayak gini. Paling tersedak, karena makannya terlalu lahap, atau ada duri yang tersangkut di kerongkongannya.”

Will terus mendengarkannya. Melihat wajah Lily yang mulai tenang, membuatnya lega.

“Lo tau? Cello itu anak dari kucing yang lo selamatkan waktu itu, Will.”

Mata coklat mudanya yang menawan, kini membulat dengan sempurna.

“Gue rawat selama lima tahun. Selama itu, dia melahirkan dua kali, dan punya delapan anak. Karena kebanyakan, ibu minta gue buat kasih tujuh anak itu ke saudara-saudara. Katanya, dua kucing sudah cukup. Ibu khawatir, gue enggak bisa merawat mereka lebih dari itu.”

Lily menggigit bibir bawahnya. Menahan sedih yang mulai menghampirinya. “Sayangnya, dua bulan kemudian dia mati. Gue nggak tau kalau ternyata dia berburu tikus yang sudah diberi racun sama tetangga. Gue lupa, kalau saat itu dia belum dikasih makan. Hasilnya, dia mencari makanannya sendiri dan malah menemukan tikus itu. Maaf, ya gue nggak bisa rawat dia sampai lo balik.”

Will menatapnya tak percaya. Perempuan itu nyatanya masih begitu peduli dengan kucing yang padahal hampir membuatnya terbunuh. William lantas menepuk bahunya lembut. Lily menoleh, dan yang dia lihat kini adalah senyuman indah nan tulus yang mengembang di wajah William. Hatinya meleleh saat itu juga, senyuman yang tak sanggup ia tolak. Sebuah tangan kemudian mendarat di kepalanya. Mengacaknya hingga membuatnya sedikit berantakan. 

“Danke, Ly…”

“Hm?”

“Makasih banyak.”

Kalimat itu lantas meruntuhkan segalanya. Dinding yang selama ini tumbuh dihatinya mulai rapuh. Saat itu juga mulai terbuka untuk sesosok makhluk bernama lelaki dan lelaki pertama yang mampu menghancurkan dinding itu hanya, dia. Laki-laki yang sama dari masa lalu.

“Wajah kamu merah, tuh!” Will tergelak. 

Lily tak peduli. Dia masih tersenyum sambil terus menatap wajah William yang membuatnya candu.

Seorang lelaki dengan seragam lengkap, dan motor matic yang sedang dikendarainya telah terparkir di depan rumah Lily. Gadis itu terperanjat saat Ibu berkata kalau ada seseorang yang telah menunggunya diluar sana. Dia lantas keluar, meski rambutnya belum tersisir rapi. Dipikirannya saat ini hanya ada satu nama yang membekas sejak kemarin.

“Wi…”

“Hai! Berangkat bareng, yuk!” 

“Bagas.” Wajah Lily seketika berubah. Lily baru ingat. Will belum berani datang ke rumah dan bertemu dengan ibunya setelah sekian lama menghilang. Kemarin saja, dia memilih menurunkan Lily sedikit lebih jauh dari rumah. Ya, gadis itu masih memakluminya. Sikap Will yang dulu bengal, mungkin masih tersimpan jelas di otak ibu. 

“Gue sisiran dulu.”

“Oke!”

Meski kecewa, tapi ada baiknya hubungannya dengan Will tetap menjadi rahasia.

Sesampainya di sekolah, wajah Lily terlihat begitu berbinar. Dia tak lagi bersikap cuek pada Bagas. Dia bahkan terus menanggapi obrolan Bagas meski terkadang ada kata-kata narsisnya yang nyaris membuatnya muak. Mereka terlihat begitu akrab. Seperti dua orang yang bersahabat sejak lama. Hal itu jelas membuat Bagas merasa melayang. Gadis yang disukainya, akhirnya tak keberatan dengan kehadirannya.

“Lay, pagi!”

Lihat selengkapnya