Hi, Ly!

Regina Mega P
Chapter #21

Tangkuban Parahu

“TARRAAAAAA!!! Kita movie marathon sampai pagi!” Fanny keluar dari kamarnya sambil membawa tumpukan keping CD. “Mumpung Anggrek udah tidur. Lagian, kalian juga belum ngantuk, kan?”

“Boleh!” Layla antusias. Dia memang sangat hobi menonton film bersama Lily, walaupun akhirnya berakhir dengan Lily yang tidur di pertengahan cerita.

“Horror, dong! Biar mencekam!” Bagas menimpali. Dia lantas menyimpan gitarnya yang baru saja dimainkan bersama William. Sementara itu Lily hanya bisa pasrah ketika akhirnya Layla malah memakai paha Lily sebagai bantal, membuatnya sulit bergerak.

“No! Aku dulu yang pilih film. Romance.”

“Astaga! Aku mati bosan.” Bagas hanya bisa pasrah.

“Setuju!” Layla selalu antusias.

“Will, Ly, kalian mau nonton film apa?” Fanny bertanya.

“Lily, sih film apapun masuk. Tapi jangan heran, pas film selesai ada suara ngorok,” jawab Layla.

Lily tersenyum. Layla selalu tau tentang Lily.

“Aku juga. Bebas! Asal jangan yang aneh-aneh.”

“Oke! Empat suara setuju romance. Kita nonton!”

Bagas menghela napas. Lalu menyikut lengan Will yang memilih tak mendukungnya. 

The Fault in Our Stars dipilih Fanny sebagai film awal. Layla langsung duduk, berusaha menikmati film romance adaptasi sebuah novel yang sudah ia baca sebelumnya.

Di pertengahan film mulai terdengar isakan tangis Layla yang memang paling tidak bisa melihat film sedih. Sedangkan sahabatnya kini sudah entah sedang bermimpi apa di belakangnya. Will dan Bagas malah asyik bermain Mobile Legend meski beberapa kali, mereka terlihat menyimak beberapa part filmnya. Lalu, Fanny. Ah, padahal yang menyarankan film romantis itu dia, tapi anak itu malah asyik dengan media sosialnya. Sampai di akhir film, mata Layla mulai memerah, wajahnya sembab ditambah hidungnya yang semakin meler.

Will yang tak sengaja memerhatikannya lantas memberikan tisu yang berjarak tak jauh darinya, pada Layla. 

“Makasih.” Gadis itu tersenyum malu. “Kenapa harus sedih, sih akhirnya!”

“Yaelah, Lay. Udah kayak Ibu-ibu sinetron saja!” Bagas mengejek.

“Ya, ceritanya emang bikin sedih. Ish! Dasar cowok!”

Bagas tertawa. Matanya kemudian menoleh ke arah Lily. Gadis itu, kedua tangannya terlipat, lututnya hampir menyetuh dada. Kedinginan. Tanpa pikir panjang, ia mengambil selimut dari kamarnya, lalu beniat menyelimuti Lily yang sudah nyenyak. “Dia emang selalu gini, ya kalau nonton film?”

Layla mengangguk. Masih menyeka air matanya. “Dia nggak pernah tahan nonton film lama-lama. Ujung-ujungnya minta diceritain.”

Bagas masih menatap wajah polos Lily yang tengah tertidur. Sesekali dia tersenyum. Hatinya berdesir. Dia sangat menginginkan gadis ini tapi masih memilih waktu yang pas untuk mengungkapkan perasaannya. Itupun jika dia ingin mengungkapkannya. Taulah, Lily seperti apa! Kalau ternyata menyembunyikan perasaan bisa membuatnya dekat dengan Lily, rasanya itu lebih baik daripada harus mengungkapkannya dan mengacaukan semuaya.

Sayangnya Bagas tidak sendiri.

Disampingnya ada lelaki yang juga memiliki perasaan yang sama, yang sedari tadi tengah memerhatikan setiap gerak Bagas untuk Lily.

Waktu menunjukkan pukul 5 pagi. Lily terbangun karena udara pagi ini terasa menusuk kulitnya. Apalagi saat dirinya hanya menggunakan kaos lengan panjang yang tidak terlalu tebal. Mata bulatnya menatap sekeliling. Di hadapannya ada Layla dan Fanny yang masih tertidur di bawah selimut yang sama. Di sisi lain, Bagas juga masih nyenyak dengan jaket tebal yang menjaganya dari udara dingin. Anggrek masih nyenyak di kamar. Tapi, ada satu orang yang sejak tadi dilihatnya. Mungkin tidur di kamar, pikirnya. Gadis itu lantas bergegas pergi ke kamarnya, mengambil jaket tebal, sepasang kaus kaki dan sandal. Menginjak keramik sepagi ini membuat darah di kakinya hampir beku. Langkahnya lantas berjalan menuju kamar mandi. Keran air hangat diputarnya untuk mencuci wajah dan menyikat gigi. 

Terdengar pintu kamar terbuka. Lily menoleh. William. Rambut coklatnya berantakan dengan wajah bangun tidur dan baju yang berantakan.”Hi, Ly. Pagi!” sapanya.

Lily menahan tawa saat melihat penampilan Will yang sangat berantakan. “Pagi.”

“Berasa di Amsterdam pas lagi peralihan auntumn ke winter.” Will melipat kedua tangannya di dada.

“Sedingin ini?” 

Will menggeleng. “Lebih dingin lagi, sih. Saat orang-orang senang atau penasaran winter itu kayak apa, aku malah sebaliknya. Saat itu, kamu nggak akan pernah bisa ngerasain coklat panas diluar rumah, karena selalu berubah dingin.” Will tersenyum. Meski wajahnya berantakan, hal itu tak menghalangin senyumannya yang selalu menawan. Sesaat kemudian dia melakukan hal yang sama, yang dilakukan Lily. Dan setelah selesai merapihkan wajah, rambut dan bajunya, dia kemudian menatap Lily yang sedang membuat teh manis hangat. “Boleh aku pesan satu?”

Lily mengerjap. Membalas tatapannya, kemudian mengangguk dan membuatkannya teh manis yang sama.

Will menghirup uap panas yang mengepul. Rasanya hangat. Beberapa kali dia menggenggam gelas teh manis untuk menghangatkan tangannya yang hampir membeku. “Enak! Terima kasih.”

“Keluar, yuk! Cari matahari. Katanya matahari pertama itu matahari yang paling bagus,” ajak Lily. 

Dengan senang hati Will menerima ajakannya. Ini kali pertama Lily menunjukkan sikap bersahabat padanya. “By the way, kaki kamu udah nggak apa-apa? Nggak usah jalan terlalu jauh.”

“Nggak apa-apa. Waktu jatuh di pohon jambu dulu juga, sehari langsung naik-naik lagi, kok. Ingat?”

“Sampai akhirnya Ibu kamu bawa pemukul kasur biar kamu turun dari pohon.”

Lily tertawa. Tawa pertama yang ditujukkan untuk Will. “Iya! Pas turun aku langsung ditarik dan dikunci seharian di dalam rumah. Kita nggak pernah bisa main bajak laut lagi abis itu.”

Mereka saling berpandangan. Berdamai dengan masa lalu rasanya menyenangkan.

Keduanya berjalan mengitari jalan setapak yang ada di belakang villa yang menghubungkan langsung ke kebun teh. Hal yang pertama mereka lakukan adalah menghirup udara alami sepuas-puasnya. Mereka jelas tak akan pernah mendapatkan udara sebaik ini di Kota yang mereka tinggali. Sesekali tubuh Lily menggeliat. Menyenangkan rasanya tinggal di tempat yang sejuk seperti ini. 

“Di Belanda ada yang kayak gini?” Lily bertanya.

“Ada, dong. Belanda itu pengekspor sayuran terbesar di Eropa dan ekpor benih dan bibit terbesar di dunia.” Wajahnya terlihat berbinar. “Kamu juga pasti bakal senang lihat ribuan hektar bunga Tulip di Lisse.”

“Oh, ya? Ajak aku kesana kapan-kapan!” pinta Lily dengan wajah penuh harap, dan hanya beberapa sentimeter saja dari wajah William. Membuat struktur wajahnya yang flawless terlihat jelas.

Will tersenyum, aku janji bakal ajak kamu kesana, Ly. 

“Balap lari ke bawah, yuk! Siapa yang terlambat sampai harus traktir sarapan. Deal!”

“Tapi, kaki kamu belum sembuh, Ly.”

“… tiga! Bye, Will!”

Lily berlari dengan sangat cepat. Merasa khawatir dengan kondisi kakinya, William memutuskan untuk ikut berlari dan berusaha mendahuluinya. 

“HAP!” Will berhasil menangkap tubuh Lily yang tidak bisa menghentikan gerakannya dan memeluknya tanpa sengaja. “Hati-hati, Ly. Kaki kamu masih belum sembuh!”

Lily tertawa. Tapi gadis itu terlihat tidak puas. “Licik! Kamu motong jalan biar sampai lebih cepat!”

“Kalau aku nggak sampai lebih cepat, aku nggak bisa nahan kamu yang nggak bisa ngerem!”

“Oke-oke! Masih jauh buat sampai ke jalan besar yang ada disana. Kita lari lagi, ya! Sekalian olahraga. Dulu kamu sering ajak aku lari-lari di komplek, kan! Ayo! Kita ulang masa kecil dulu.”

“Tapi, Ly…”

“Ssssttttt! Aku kangen…” Lily berusaha mengatur napasnya yang tersengal. Detak jantungnya semakin berdebar. “Aku kangen main sama kamu kayak dulu. Aku kangen kamu. Ayo!”

William jelas tak percaya dengan apa yang di ucapkan Lily barusan. Tubuhnya seperti terpaku pada tanah gembur kebun teh. Perasaannya menggebu. Bahagia.

“Will, aku udah hampir sampai!!!”

Teriakan itu membangunkan lamunan Will. Ada seorang gadis yang sedang menunggunya di bawah sana. Gadis manis dari masa kecilnya. William lantas berlari menyusulnya ke bawah dengan perasaan bahagia yang tak pernah dia duga sebelumnya.

“Capek, Ly?”

Lihat selengkapnya