Hari-hari berlalu terasa bahagia. Setelah acara liburan kemarin suasana kelas menjadi lebih berwarna. Kini, ada Bagas yang selalu siap menjadi penuntun mereka dalam segi pelajaran, Fanny yang selalu mengajak mereka hang out bersama, dan William si penengah yang kehadirannya bagai air tenang, selalu lengkap dengan senyuman yang meredam segala perdebatan.
Label "abnormal" yang dulu dilekatkan orang-orang pada Lily dan Layla perlahan luntur, terkikis oleh kehadiran sahabat-sahabat baru mereka. Bahkan nilai-nilai Lily mulai merangkak naik, seolah memberikan bukti bahwa jiwanya kini lebih tenang untuk berpikir.
“Ibu senang, akhirnya kamu bisa bergabung dengan yang lainnya.”
Lily tersenyum tipis, jemarinya sibuk dengan gunting dan perekat. “Awalnya saya sempat berpikir bahwa dunia ini hanya cukup untuk Layla saja, Bu. Ternyata, masih ada orang yang mau menerima saya... apa adanya.”
“Dulu kamu hanya belum siap, Ly. Luka masa lalu memang seringkali membuat kita membangun dinding yang terlalu tinggi,” lanjut sang guru.
Lily tersenyum. Lalu menggunting double tape dan menempelkannya pada nomor urut satu persatu.
Masih teringat dalam benak wali kelas saat Ibu Lily menghampirinya. Beliau menceritakan segalanya tentang trauma Lily, agar para guru tidak salah paham terhadap sikap dingin anaknya, dan yang terpenting agar neraka bernama bullying itu tidak terulang lagi. Dulu, hidup Lily hancur hanya karena sebuah kejujuran yang disalahartikan. Ia mengaku tidak menyukai laki-laki hanya agar anak laki-laki yang mengejarnya menjauh karena risih, sebuah pernyataan yang memicu badai perundungan. Bukan hanya dari para siswa, teman-teman perempuannya pun ikut menyudutkan, seolah Lily adalah anomali yang harus disingkirkan. Lily masih ingat puncaknya. Ia pulang dengan keadaan hancur, meraung di pelukan ibunya sambil bertanya di sela isak tangis yang menyesakkan,
"Salahku apa sampai mereka jahat ke aku? Aku mau berhenti sekolah! Aku nggak mau sekolah!”
Mendengar jeritan hati putri tunggalnya, sang ibu nekat mendatangi sekolah Lily. Namun, pihak sekolah hanya melihat permukaa, mereka hanya tahu saat Lily berteriak di depan siswa yang paling popular di sekolah bahwa ia sangat membenci laki-laki. Kejadian itu memicu gosip liar yang meluas hingga membuat wali kelas menegur Lily secara formal. Lily merasa telanjang, merasa dunianya dihakimi dan privasinya dicampuri oleh orang-orang yang tidak mengerti apa-apa.
Meski pada akhirnya pihak sekolah mencoba meluruskan kesalahpahaman tersebut hingga perundungan verbal itu berhenti, luka di dalam diri Lily tidak pernah mengering. Ia tetap berakhir sendirian. Tidak ada yang berani mendekatinya karena para guru terlalu protektif dan selalu memarahi siapa pun yang berinteraksi dengannya. Di mata teman-temannya, Lily adalah "anak emas" yang merepotkan. Sejak saat itu, Lily menutup pintu hatinya rapat-rapat. Ia tidak hanya membenci anak laki-laki, tapi juga kehilangan kepercayaannya pada setiap anak perempuan di sekolahnya.
“Sekarang dindingnya sudah mulai hancur kok, Bu,” sahut Lily pelan, ada rona merah tipis di pipinya yang menunjukkan rasa lega.
Wali kelasnya tersenyum hangat. “Baguslah kalau begitu. Ibu ikut senang.”
Lily terdiam sejenak, tangannya berhenti sejenak dari kertas-kertas di meja. “Oh iya, Bu... saya punya teman. Dia aneh, kalau kaget tiba-tiba badannya bergetar hebat, terus kelihatan panik sekali. Kira-kira itu kenapa ya?”
“Hmm, biasanya, itu reaksi seseorang yang memiliki trauma,” jawab sang guru tenang. “Tubuhnya merespons secara otomatis saat ada sesuatu yang memicu atau menjadi trigger dari luka lamanya. Siapa teman yang kamu maksud, Ly?”
Mendengar ciri-ciri itu, sang guru sebenarnya langsung tahu siapa yang sedang dibicarakan Lily. Sejak hari pertama masuk, orang tua murid laki-laki itu sudah menceritakan secara detail kondisi medis dan psikologis anak mereka kepada sekolah. Namun, beliau memilih untuk tetap menjaga rahasia itu.
“Selesai!” seru Lily, mencoba mengalihkan suasana yang mendadak berat. “Saya tempelkan di setiap meja sekarang ya, Bu. Permisi.”
Saat Lily baru saja mencapai pintu, suara gurunya menahan langkahnya. “Lily...”
“Ya, Bu?”
“Apapun yang terjadi pada kalian nanti, tetaplah berteman. Jangan biarkan apa pun memutus hubungan kalian,” ucap gurunya dengan nada yang terdengar lebih seperti permohonan daripada sekadar nasihat.
Lily sempat termenung, mencoba mencerna maksud tersembunyi dari kalimat itu. Namun, ia segera mengulas senyum lebarnya yang tulus. “Pasti, Bu! Saya nggak mau kehilangan teman untuk kedua kalinya. Terima kasih, ya, Bu.”
Lily melangkah keluar dengan hati ringan. Ia merasa sangat beruntung, ternyata dunia tidak sejahat yang ia kira bahkan wali kelasnya pun menjaganya dengan begitu tulus.
*