Hi, Ly!

Regina Mega P
Chapter #23

Confess!

Sepulang sekolah, untuk kesekian kalinya mereka memutuskan pergi ke mal sekadar melepas penat. Kegiatan sekolah terasa begitu padat, ulangan, tugas, hingga ujian yang tak ada habisnya. Setelah kejadian di game center kemarin, mereka benar-benar tidak memaksa Lily menceritakan permasalahan utama dari kejadian itu dan berusaha melupakan pertemuan hari itu. Mereka berusaha menghargai privasi Lily dan membiarkan dirinya yang menceritakan semuanya secara langsung.

Sepanjang perjalanan mereka, Bagas kembali dengan gaya santainya, melempar candaan ke sana-sini. William sesekali menimpali, sementara Fanny dan Layla ikut tertawa. Lily pun akhirnya sedikit lebih rileks, meski pikirannya masih belum sepenuhnya lepas. Dia masih takut akan kembali bertemu dengan masa lalunya dan membuatnya harus menghadapi ketakutannya untuk kesekian kalinya.

Mereka berhenti di sebuah toko buku dan bersama-sama masuk kedalamnya.

Langkah Lily terhenti di depan rak majalah lama diikuti William. 

“Eh…” Ia mengambil satu majalah, menatap sampulnya lama. “Majalah ini...”

William mendekat. “Masih inget?”

Lily tersenyum tipis. “Bobo, dulu aku langganan gara-gara kamu tau.”

William ikut tersenyum. “Aku pernah ngasih kamu itu waktu ulang tahun, inget?”

Lily tertawa kecil. “Iya. Habis itu aku maksa Ibu buat langganan. Makasih, loh! Gara-gara itu aku jadi suka baca... tapi sekarang enggak.”

Mereka tertawa ringan. Obrolan sederhana, tapi terasa hangat seolah membawa mereka kembali ke masa kecil.

Tak jauh dari sana, Layla memperhatikan.

Senyum di wajahnya perlahan memudar. Ada perasaan tak rela ketika Lily menjadi pusat perhatian semua lelaki yang dikenalnya, terutama William.

Ia melangkah mendekat.

“Kalian seru banget, ya…” ucapnya, nadanya terdengar datar namun penuh penekanan.

Lily menoleh. “Cuma nostalgia, Lay. Dulu Will pernah ngasih ini ke aku terus...” Menyadari Layla tidak merespon, Lily tak lagi melanjutkan.

Layla terdiam, lalu beralih menatap buku-buku lain yang ada di hadapannya.

Suasana berubah tipis, tidak langsung tegang, tapi cukup terasa.

Menyadari ada sesuatu yang tak biasa, Fanny mulai bergerak. Ia berdiri di antara mereka dengan santai, lalu menepuk bahu Layla pelan.

“Eh, gue nemu komik lucu banget di sana. Yuk, liat!” ajaknya, mencoba mengalihkan.

Layla sempat ragu, tapi akhirnya mengangguk kecil.

Sementara itu, Bagas yang sejak tadi memperhatikan hanya menggaruk tengkuknya pelan.

“Kayaknya gue ke kasir dulu, deh. Siapa tahu ada diskon yang bisa menyelamatkan dompet gue,” celetuknya santai.

William menatapnya sekilas, lalu kembali ke arah Lily.

Lily sendiri mulai merasa tidak nyaman. Ia melirik Layla yang sudah berjalan bersama Fanny, lalu menunduk sebentar.

“Gue nyusul mereka dulu,” ujarnya pelan.

William mengangguk, meski ada sesuatu yang tertahan di wajahnya.

Lily berbalik, berjalan cepat menyusul Layla.

Fanny yang melihat itu langsung memperlambat langkah, memberi ruang untuk mereka.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

“Lay…” panggil Lily pelan.

Layla tidak langsung menjawab.

“Gue nggak ada maksud apa-apa,” lanjut Lily.

Langkah Layla berhenti. Ia menoleh, matanya tidak marah tapi jelas ada yang mengganjal.

“Aku tahu,” jawabnya singkat. “Cuma… ya udahlah. Toh kalian kan teman kecil.”

"Ya tapi lo jangan jadi ngediamin gue gitu, dong!"

"Aku nggak gitu, Ly. Cuma, ya harusnya kamu tau kan kalau..."

Fanny menghela napas pelan, lalu menepuk bahu keduanya bergantian.

“Udah, udah. Lay lo tau kita sahabatan kan, lo tau posisi lo itu suka sama sahabat lo, sahabat kita jadi wajar kalau Lily ngobrol sama dia ya karena kita semua teman. Iya, kan Ly?”

Lily mengangguk.

Beberapa detik hening. Lalu Layla mendesah kecil.

“Ya udah, sorry, Ly.”

Lily mengangguk. “Me too...”

Fanny tersenyum puas. “Nah, gitu dong. Hidup udah ribet, jangan ditambah ribet sendiri.”

Dari kejauhan, Bagas memperhatikan mereka, lalu tersenyum tipis.

“Jadi ribet gini, sih!” gumamnya pelan.

Sementara William berdiri diam di dekat rak majalah, menatap ke arah Lily yang kini kembali tertawa bersama yang lain. Berharap setelah ini tidak ada yang berubah.

“Eh, kita ke mana lagi?” tanya Fanny.

“Jalan aja dulu,” jawab Bagas santai.

Mereka menyusuri lorong mal bersama. Lily berjalan di tengah, di antara Layla dan Fanny. Kali ini ia menjaga jarak, tidak lagi berada dekat William seperti sebelumnya.

Lihat selengkapnya