Hi, Ly!

Regina Mega P
Chapter #24

Family

Sejak sore di belakang aula itu, ada banyak hal yang berubah secara perlahan. Percakapan yang dulu terasa ringan kini berubah canggung. Tatapan-tatapan singkat mulai dihindari. Bahkan tawa mereka tak lagi terdengar seutuh dulu. Dan Lily hampir kembali menjadi Lily yang dulu, menarik diri, memendam semuanya sendiri, lalu pura-pura baik-baik saja. Kalau saja Fanny dan Bagas tidak terus berada di sisinya. Kehadiran dua orang itu membuat dunia Lily tak hanya berkutat antara William dan Layla. Fanny selalu berhasil mengalihkan suasana dengan ocehannya yang tak ada habisnya, sementara Bagas diam-diam menjadi tempat paling nyaman saat Lily sedang ingin menghindari banyak hal. Sedikit demi sedikit, Lily mulai belajar bernapas lagi di tengah kekacauan yang tak bisa ia pahami sendiri. Namun, saat keadaan di sekolah perlahan berubah, hidup Lily di rumah ternyata juga mulai bergerak ke arah yang sama.

Dan semuanya dimulai pada saat Lily pulang sekolah dan mendapati sebuah mobil Jeep hitam terparkir tepat di depan rumahnya. Lily mengernyit. Seingatnya tak pernah ada mobil seperti itu mampir ke rumahnya, teman-teman Ibunya pun tidak ada yang mengendarai mobil semacam itu.

Rasa penasaran mendorongnya untuk bergegas masuk. Di ruang tamu, ia menemukan seorang pria berkacamata, berkumis tipis dengan janggut yang rapi, sedang sibuk menatap layar ponselnya. Penampilannya modis—terlalu rapi untuk sekadar tamu biasa—dan sekilas mengingatkan Lily pada sosok Ayahnya dulu.

“Permisi,” sapa Lily, berusaha sopan.

“Ah, maaf…” Pria itu segera berdiri. Tatapannya berhenti cukup lama di wajah Lily, seolah memastikan sesuatu. “Lily?”

“Iya. Maaf, Bapak siapa, ya?”

“Oh, ah. Saya Adam. Teman Ibu kamu waktu kuliah. Saya juga… teman almarhum Papamu dulu.” Ia mengulurkan tangan.

Lily ragu sesaat, lalu menyambutnya dengan anggukan kecil. “Ada perlu sama Ibu saya?”

“Ly!”

Suara Ibunya memotong. Wanita itu muncul dengan penampilan yang membuat Lily tertegun. Gaun hitam elegan membalut tubuhnya, dipadukan dengan clutch silver di tangan. Riasannya yang lembut seperti biasa, namun aura yang memancar dari wajahnya terlihat berbeda. Lebih hidup dari biasanya.

“Kenalin, ini Om Adam. Teman kuliah Ibu sama Papa dulu,” ujar Ibunya.

“Udah kenal, barusan.” Lily menatap Ibunya dari atas sampai bawah, tak menyembunyikan keterkejutannya. “Ibu mau ke mana? Rapi banget.”

“Lily mau ikut?” tanya Om Adam ramah. “Kita makan di luar.”

Lily menggeleng cepat. “Aku lagi banyak tugas. Senin mau ulangan. Hati-hati di jalan ya, Bu.”

Tak menunggu jawaban, Lily langsung bergegas ke kamar. Namun diam-diam Lily membuka sedikit pintunya, mengintip.

“Pelan-pelan saja, Mas. Lily masih butuh waktu,” suara Ibunya terdengar lirih.

Om Adam menoleh sekilas ke arah kamar Lily. Mata mereka nyaris bertemu, tapi Lily buru-buru menarik diri.

“Iya. Ayo berangkat,” jawabnya pelan.

“Ly, Ibu berangkat ya! Hati-hati di rumah! Nanti Ibu bawakan pizza!”

“Iya!” sahut Lily dari dalam kamar.

Namun setelah suara pintu tertutup, keheningan justru terasa lebih berat.

Ini pertama kalinya Ibu pergi dengan seorang pria.

Selama ini, lingkaran Ibunya hanya berisi rekan kerja, kebanyakan perempuan. Kalau pun ada laki-laki, paling hanya sopir atau karyawan. Tapi pria tadi, berbeda. Cara Ibu berpakaian, cara mereka berbicara semuanya terasa tidak biasa.

“Jangan-jangan…” Lily bergumam pelan, lalu cepat-cepat menggeleng.

“Ah, nggak mungkin.”

Namun bayangan itu telanjur tumbuh.

Bagaimana kalau mereka benar-benar… bersama?

“Ibu nggak mungkin…” gumamnya, setengah menyangkal, setengah takut. 

Ia terdiam, lalu menatap kosong ke depan. “Kalau pun… dia benar-benar jadi Papaku…” suaranya makin pelan, “dia harus bisa memenuhi syarat dariku.”

Syarat yang bahkan belum ia pahami sendiri.

Karena saat seseorang masuk ke hidup Ibunya itu berarti juga masuk ke hidupnya.

Dan Lily tidak tahu apakah ia siap.

Air matanya jatuh tanpa suara. Ia cepat-cepat mengusapnya, memaksakan senyum kecil.

Saat ini dia sangat merindukan Papanya.

*

Lihat selengkapnya