Hidden Bliss

Dear An
Chapter #1

Prolog

Cinta tak selalu hadir dari pertemuan yang megah. Sering kali, perasaan itu justru tumbuh dari yang paling sederhana. Ia terbentuk dari serpihan-serpihan kecil yang nyaris tak kasat mata, dari ujung bibir yang sedikit terangkat saat berpapasan, hingga tawa renyah yang menyelinap di sela seriusnya percakapan. Terkadang, cinta bisa berupa sorot mata teduh yang seolah sanggup menghentikan putaran waktu.

​Mulanya, sosok itu hanya bayangan tak terpandang bagi Hana. Seseorang yang asing di tengah riuh rendah keramaian. Namun, entah bagaimana caranya, pria itu berhasil menyusup dan meruntuhkan dinding pertahanan yang selama ini Hana jaga dengan begitu rapat. Rasa itu menyelinap ke ruang-ruang terdalam dada, membangun istana perasaan tanpa izin, serta mengukir janji tanpa kata dalam setiap detak jantung Hana yang kini tak lagi beraturan.

Perlahan, kehadirannya bersemi menjadi sebuah kebiasaan, menjelma menjadi kenyamanan, hingga akhirnya tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

​Sosok itu memang tak pernah menjanjikan hal-hal muluk. Baginya, cukup dengan bahu yang selalu siap menjadi sandaran saat dunia Hana terasa berat, serta telinga yang senantiasa sedia mendengar keluh kesah yang bahkan tak sanggup Hana ucapkan. 

Dalam kesederhanaan itulah, sosoknya tampak begitu istimewa—menjadi dermaga hangat di tengah dinginnya kota Seoul yang asing, sekaligus satu-satunya manusia yang mampu merobohkan setiap tembok pertahanan yang dibangun Hana dengan begitu rapi.

​ Di bibir Pantai Jeongdongjin malam ini, semesta seolah ikut membeku. Hanya gemuruh ombak yang menghantam karang, memecah kesunyian dengan suara yang berat dan dalam. Angin laut yang membawa aroma garam menusuk hingga ke tulang, membuat ujung hidung Hana memerah. Namun, rasa dingin itu mendadak tak berarti.

Hana berjalan menyisir pantai di samping laki-laki itu, merasakan butiran pasir lembap yang sedikit demi sedikit menenggelamkan tumpuan kaki. Keheningan menyelimuti langkah keduanya, hanya menyisakan suara deburan ombak dan gesekan halus kain mantel yang sesekali bersentuhan. Ia tertunduk pelan, memperhatikan bayangan tinggi di sampingnya yang memanjang di atas pasir, tampak kokoh di bawah pendar rembulan keperakan.

Lihat selengkapnya