Hidden Bliss

Dear An
Chapter #4

Chapter 3 - Benteng Kekuasaan Sang CEO

Ruangan rapat eksklusif di lantai tertinggi Gedung TigerLab berdiri megah di jantung metropolitan Seoul. Cahaya pagi menjelang siang menerobos masuk melalui dinding kaca panoramik yang hampir melingkari, memperlihatkan pemandangan metropolitan yang menakjubkan.

Di tengah ruangan, berdiri meja oval panjang dari marmer hitam yang mengkilap, memantulkan pantulan emas dari matahari yang mulai meninggi. Di sekeliling meja, berjejer kursi eksekutif berlapis kulit hitam berkualitas tinggi yang terlihat sangat nyaman, empuk, dan mewah. Saat ini, masing-masingnya sudah ditempati oleh para pemegang kunci perusahaan, semuanya diselimuti aura otoritas yang begitu dingin.

Di depannya, sebuah layar raksasa resolusi tinggi, tertanam di dinding, memancarkan cahaya biru yang terang. Grafik pertumbuhan TigerLab terpampang jelas di sana. Garis kurva itu melonjak tajam ke atas, membuktikan TigerLab memonopoli seluruh pangsa pasar K-Pop.

Di singgasana kekuasaan tertinggi, seorang laki-laki duduk dengan punggung tegak di ujung meja marmer berwarna hitam legam. Bayangan gelap tubuhnya yang tak bergerak terpantul jelas di permukaan layar itu. Papan nama hitam berukir di hadapannya, dengan tulisan emas yang berkilau—Choi Jihoon, Chief Executive Officer.

Ia mengenakan setelan jas double-breasted berwarna navy. Jas tersebut terdapat pola garis-garis tipis secara vertikal yang membingkai tubuhnya dengan sempurna dan memberi kesan tinggi pada posturnya. Di balik kerah jasnya, ia mengenakan kemeja putih kontras dengan dasi bergaris diagonal, memadukan warna merah maroon dan navy. Rambut hitamnya tersisir rapi, membingkai parasnya yang tampan dan dingin. Garis rahangnya tajam seperti pahatan, dan sepasang mata biru safir yang dingin dan menusuk terlihat berkilat di bawah pantulan meja mengilap.

Kini tangannya mencengkeram erat lengan kursi. Tatapan tajamnya bergerak perlahan, bayangannya yang gelap memantul samar-samar di permukaan meja, matanya beralih sesekali antara grafik pertumbuhan yang melesat di layar dan wajah-wajah tegang para direksi di depannya.

Choi Minjae, Direktur Divisi Trainee dan Pengembangan, memulai diskusi dengan nada hati-hati. “Choi Sajang-nim, setelah proses seleksi dan pelatihan ketat, kami telah menetapkan lima trainee untuk debut. Menurut saya, tahun ini adalah target yang tepat, mengingat perusahaan tidak meluncurkan grup idol baru selama lima tahun. Bagaimana pendapat Anda?” tanyanya dengan pelan, menanti persetujuan Jihoon.

“Bagaimana dengan potensi mereka?” tanya Jihoon datar.

“Potensi mereka tidak perlu diragukan. Mereka tidak hanya matang secara talenta, tetapi juga siap secara mental,” tegas Minjae dengan penuh keyakinan.

Jihoon menggerakkan tubuhnya sedikit ke depan, lalu sorot matanya menghunjam Minjae dengan tajam dan serius. “Anda yakin? Jika masih terdeteksi adanya kekurangan, entah itu kemampuan, kesigapan mental, atau persiapan yang belum mencapai standar perusahaan, tunda debutnya,” perintahnya dengan suara berat.

“Bukankah Anda telah melaksanakan uji materi mereka sendiri? Anda sendiri yang telah mengujinya, bukan? Potensi mereka luar biasa. Jika kita menunda lagi, kita akan kehilangan momen emas ini. Lalu, apalagi yang kita tunggu jika persiapan sudah 100%?” Sanggah Minjae dengan tegas dan cepat.

Melihat ketegangan itu, Cha Sooyeon, Direktur HRD (Human Resource Director), segera menginterupsi sambil memegang berkas tebal di tangannya. “Mohon izin, Choi Sajang-nim. Saya ingin memberikan sudut pandang dari sisi kondisi idol di bawah naungan kita. Daripada buru-buru meluncurkan grup baru tahun ini, bukankah lebih bijak jika kita lebih fokus pada manajemen jadwal idol yang sudah ada? Mereka telah kita atur melaksanakan konser world tour yang begitu padat. Bagaimanapun, kita harus memberikan mereka istirahat yang cukup. Sebab, mereka juga manusia, bukan sekadar boneka penghasil uang untuk perusahaan.”

Jung Hanmin, Direktur Keuangan, menarik sudut bibirnya, pandangan matanya bahkan tak beranjak dari grafik saham yang berkilauan di layar. “Justru, dengan meluncurkan grup idol baru, kita memberikan jeda yang sangat dibutuhkan oleh para idol yang melaksanakan konser world tour tanpa sedikit pun mengorbankan pasar. Biarkan grup baru menstabilkan arus kas perusahaan selagi para senior beristirahat dari jadwalnya. Dengan begitu, pendapatan tetap aman, dan saham akan terus naik.” Simpul Hanmin.

Cha Sooyeon mengangguk pelan. “Jika mekanisme rotasinya seperti itu, saya setuju. Namun, jika meluncurkan grup baru dan konser world tour dilakukan secara bersamaan, saya menolak keras. Risiko kelebihan beban manajemen akan berujung pada kekacauan para karyawan. Terlebih lagi, publik akan mencap kita sebagai agensi yang secara terang-terangan mengeksploitasi artisnya. Reputasi perusahaan kita pun dipertaruhkan.” Ucap Sooyeon memperingati.

“Anda tidak perlu khawatir, Cha Bujang-nim. Saya pastikan semuanya berjalan dengan baik, dan para idol pun tidak akan merasa dieksploitasi oleh perusahaan,” bantah Minjae dengan menenangkan.

Tanpa menoleh ke arah Minjae atau Hanmin, Jihoon langsung melihat ke arah Sooyeon. “Cha Bujang-nim, bagaimana hasil sesi konseling idol kita dengan Psikolog?” tanya Jihoon.

Sooyeon dengan sigap menyerahkan sebuah berkas tebal berwarna krem kepada Jihoon. “Secara keseluruhan, hasilnya cukup memuaskan. Namun, ada beberapa nama yang menunjukkan tingkat stres yang tinggi akibat tuntutan pekerjaan, sorotan publik, dan masalah internal keluarga. Semua rincian telah saya lampirkan hari ini,” ucapnya sambil mendorong berkas tersebut.

Jihoon menerima berkas itu, matanya menyapu dengan cepat ringkasan di halaman depan, dan tatapannya terkunci pada satu nama. Matanya yang tajam melunak sejenak, perubahan ekspresi itu terlihat sesaat, sebelum kembali datar dan tanpa emosi.

“Psikolog Klinis yang menangani sesi ini bernama Park Hana Saem?” tanya Jihoon dengan suara serak dan dingin.

“Betul, Choi Sajang-nim. Beliau adalah Psikolog Spesialis Klinis yang sudah teruji kinerjanya, bahkan beberapa agensi besar sudah bekerja sama dengan beliau,” jawab Sooyeon dengan yakin.

Jihoon mulai mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya beberapa kali di permukaan meja marmer yang dingin. Bunyi kecil yang teratur itu menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan yang mencekam di ruangan itu. Semua mata terpaku padanya dan wajah tegang para direksi terlihat jelas, menanti kata yang akan keluar dari mulut Jihoon.

Lihat selengkapnya