Hidden Bliss

Dear An
Chapter #5

Chapter 4 - Kejutan Di Tengah Liburan

Udara pagi yang tenang dan sejuk menyambut kedatangan Hana bersama kedua permata hatinya, Haejun dan Jiyoon. Mereka telah menemukan surga kecil untuk rutinitas akhir pekan di Donggang Riverview Natural Recreation Forest, Gangwon-do.

​​Di hadapan mereka, Sungai Donggang mengalir tenang dengan permukaan air yang berkilau memantulkan cahaya matahari pagi. Di atasnya, kabut tipis tampak melayang rendah, menyelimuti kaki pegunungan yang berdiri kokoh. Lembah-lembah di bawahnya terhampar luas, penuh dengan pepohonan rimbun yang aromanya segar membawa bau tanah dan pinus.

​Tanpa membuang waktu, si kembar langsung membantu Hana mengeluarkan barang-barang dengan tawa riang. Jiyoon dengan jaket merah cerah dan sepatu bot kecilnya, melonjak gembira dan sudah tak sabar mulai mencari ranting-ranting kering. Sementara Haejun yang mengenakan topi bisbol, berusaha keras membawa tas ranselnya yang hampir seukuran tubuhnya. Hana tertawa kecil, lantas menggelengkan kepala melihat tingkah kedua anaknya. Sebuah pemandangan sederhana yang selalu menghangatkan hatinya.

​“Haejun-ah, pasang pasak ini! Jiyoon-ah, bantu Mama bentangkan terpalnya!” seru Hana.

Dengan cepat mengubah kegiatan mendirikan tenda menjadi sebuah permainan seru. Meskipun prosesnya memakan waktu lebih lama, bagi Hana itu adalah momen berharga. Haejun dengan senyum bangga, berhasil menancapkan pasak pertama. Sementara, Jiyoon tergelincir di atas terpal dan berakhir dengan semburan tawa renyah.

​Setelah tenda berdiri kokoh, mereka melakukan penjelajahan di sekitar perkemahan. Mereka bergegas menyusuri jalan setapak di tepi sungai. Haejun girang menunjuk-nunjuk kupu-kupu yang beterbangan. Lalu, Jiyoon memungut batu-batu pipih dan mengayunkannya ke permukaan air, mencoba menciptakan riak di danau.

​Seiring mentari meninggi, aroma kimchi yang pedas serta harum gurih-manis japchae mulai menguar di sekitar tenda, pertanda waktu makan siang telah tiba. Hana tersenyum lega. Ia mengalihkan pandangan sejenak dari panci sup ayam ginseng di hadapannya, memerhatikan kedua buah hatinya yang berlarian riang bersama anak-anak lain.

​Namun, pandangannya mendadak terpaku pada Jiyoon yang berlari kencang. “Jiyoon-ah! Pelan-pelan!” seru Hana.

Bruk!

Tiba-tiba, Jiyoon menabrak seorang pria yang sedang berdiri diam di tepi danau. Pria itu memiliki postur tubuh yang ramping dan berotot, serta wajah yang tertutup rapat oleh topi dan kacamata hitam. Tabrakan mendadak itu mengejutkan si pria—ia sedikit terhuyung. Dalam sekejap, Jiyoon meringis dan jatuh terduduk di atas rumput.

Air matanya mulai mengenang. “Aduh, sakit!” rintih Jiyoon sambil memegangi lututnya.

​Dengan cepat, pria itu langsung berjongkok “Ada yang sakit?” tanyanya dengan lembut dan sedikit khawatir.

​Haejun segera mendekati adiknya, wajahnya penuh kekhawatiran. Sementara itu, Hana yang menyaksikan seluruh kejadian itu berlari kencang dan menembus kerumunan.

Begitu sampai, Hana berlutut di samping Jiyoon. “Jiyoon-ah, ada yang sakit?” tanyanya dengan panik

Jiyoon menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku baik-baik saja, Ma,” jawabnya sedikit terisak.

​​“Syukurlah,” ucap Hana sambil menghela napas lega.

​Tiba-tiba, Jiyoon bangkit dari duduknya, menarik-narik jaket pria itu. “Aku minta maaf sudah menabrak, Ahjussi,” katanya polos dan tulus, lalu membungkukkan badannya.

​Pria itu terdiam sejenak, kemudian tersenyum lembut. “Tidak apa-apa,” jawabnya sambil mengelus kepala Jiyoon dengan sayang. “Yang penting kamu tidak terluka.”

​Hana ikut membungkukkan sedikit badannya. “Maafkan anak saya. Dia memang sedikit ... terlalu energik,” ujarnya tersipu malu.

Lihat selengkapnya