Hidden Bliss

Dear An
Chapter #8

Chapter 7 - Getaran Di Ruangan Itu

Jihoon melangkah keluar dari lift. Langkahnya yang tegas terhenti di ambang pintu ruang CEO. Udara yang dingin dan kaku langsung sirna saat pandangannya terpaku pada dua siluet kecil di ruang tunggu.

​Kedua anak itu larut dalam dunia kecilnya. Mereka serius membaca buku tebal di pangkuan, sesekali tertawa kecil dan berbisik karena guyonan yang hanya mereka mengerti. Pemandangan yang baru pertama kali dilihatnya di lantai eksekutif itu memunculkan seulas kerutan tipis di dahi Jihoon. Ia segera beranjak mendekati Yuri yang langsung berdiri menyambutnya.

​“Siapa mereka?” tanya Jihoon dingin dengan lirikan matanya yang tajam menunjuk ke arah dua anak itu.

​“Mereka putra dan putri dari Park Hana Sajang-nim,” jawab Yuri tegas.

​​“Kenapa mereka ada di sini?” tanya Jihoon datar.

​Alis Yuri bertaut. “Kata Taeil-ssi, ini adalah perintah dari Choi Sajang-nim,” jawabnya ragu.

​Jihoon tersentak. Kepalanya sontak terangkat, menatap Yuri lekat-lekat mencari kebenaran dari mata sekretarisnya itu. Ia berusaha keras mengingat kembali. Mungkinkah, ia pernah mengeluarkan perintah aneh dan tidak perlu seperti itu?

​“Mereka baru pulang sekolah. Karena tidak ada yang menjaga, Taeil-ssi meminta mereka diantar ke sini sambil menunggu Park Hana Sajang-nim menyelesaikan sesi konselingnya,” jelas Yuri dengan lembut.

​Jihoon mengalihkan pandangan, tatapan dinginnya kini terarah lurus ke ruang konseling. Melalui dinding kaca bening, ia bisa melihat Taeil dan Hana sedang tertawa renyah di sela-sela sesi mereka.

​“Belikan mereka makanan di food court,” perintah Jihoon datar, matanya tak lepas dari pantulan kaca. “Masukkan tagihannya ke kartu pribadi saya,” lanjutnya tanpa ekspresi.

​Mata Yuri membulat. “Eh?” Ia terdiam sesaat, lalu segera membungkuk hormat. “Ah, baik, Choi Sajang-nim.” Tanpa menunggu lagi, Yuri bergegas melaksanakan perintah tak terduga itu.

​Jihoon kemudian melangkah cepat menuju ruang kerjanya, di mana anggota Cyber Tyrab sudah berkumpul. Ia berjalan tegak menuju mejanya. Tanpa basa-basi, ia melepaskan jas dan dasinya dalam sekali sentakan, menyisakan kemeja putihnya yang sedikit longgar.

​“Wah, kharismanya!” seru In Woo dengan mata berbinar penuh kekaguman.

​“Ya, tidak heran kalau banyak yang suka sama Jihoon Hyung. Pesonanya sekuat ini,” timpal Taeyang santai tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

​“Hyung, aku dengar kamu suka sama Hana Saem, ya?” In Woo bertanya dengan lugu.

​Taeyang dan Woojin sontak melotot tajam ke arah Inwoo. Mulut mereka kompak bergumam protes, ingin segera membungkam mulut anggota termuda itu. Jihoon hanya membalas tatapan polos Inwoo dengan raut wajah datar yang tak terbaca. Merasa diintimidasi, Inwoo mendadak panik.

​“Ah, itu... tadi kata Jung Ill Hyung, bukan aku!” sanggah In Woo cepat sambil kedua tangannya terangkat ke atas.

​Taeyang mencondongkan tubuhnya ke depan. “Hyung, apa wanita yang kamu bilang saat di perkemahan kemarin itu Hana Saem?” tanya Taeyang penasaran.

​Semua mata tertuju pada Jihoon. Menanti sebuah jawaban dari Jihoon yang sedang duduk di kursi singgasananya dengan tatapan tajam ke arah mereka.

​Inwoo menggeser duduknya. “Hyung, seriuskah?” tanyanya sekali lagi dengan suara sedikit lebih keras.

Lihat selengkapnya