Angin dingin menerpa wajah Hana, membuat ujung hijabnya berkibar pelan. Pandangannya kosong, terkunci pada lautan yang kini memantulkan cahaya jingga. Langkah kakinya terasa berat saat menyusuri pasir lembut Pantai Jeongdongjin. Ujung sepatunya sesekali menyeret, meninggalkan garis panjang di pasir.
Beberapa puluh meter di belakangnya, terpisah oleh hamparan pasir yang basah, Kim Byeol dan Seoyoon, psikolog sekaligus sahabat Hana—mengawasi setiap gerakan Hana dari jauh. Gelisah, Byeol menggigit bibir bawahnya, menghela napas pelan, berusaha menahan diri untuk tidak mendekat. Menyadari kegelisahan itu, Seoyoon menepuk pundaknya. Ia mengangguk pelan seolah meyakinkan—bahwa Hana akan baik-baik saja—Mereka tahu, berjalan di pantai adalah salah satu cara Hana melepaskan beban yang selama ini membelenggunya.
Langkah Hana terhenti di batas air dan pasir. Ia mendongak, menatap langit yang merona indah. Namun, keindahan itu hanya sebentar dan entah kenapa terasa hambar baginya.
Seketika, ingatan kelam menghantam seperti gelombang pasang. Napas Hana tercekat. Telinganya berdengung, sementara kepalanya mulai berdenyut nyeri. Ia memejamkan mata erat-erat, berusaha mengusir kilasan menyakitkan yang terus berputar di kepalanya.
Hana menarik napas dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan udara dinginnya pantai. Ia mengembuskannya perlahan, mencoba meredam panik yang mulai menusuk dada. Namun, usaha itu sia-sia.
Rasa sakit hebat mendadak menyerang, menusuk tajam tepat di belakang matanya. Hana mencengkeram kepalanya kuat-kuat, berusaha menahan rintihan yang tertahan di tenggorokan. Pandangannya mengabur. Pasir, laut, dan langit seketika lenyap, digantikan oleh kegelapan yang menelannya perlahan.
Hana terhuyung ke belakang. Sebelum menyentuh dinginnya pasir, sepasang lengan sigap melingkar di pinggang, mendekapnya erat.
“Hana Saem!” Panggilan itu terdengar cemas, tepat di telinganya.
Beberapa puluh meter di belakang, Byeol dan Seoyoon sontak berlari kencang. “Hana-ya!” seru mereka berdua bersamaan.
Dalam dekapan hangat itu, Hana sempat mendongak, berusaha memfokuskan pandangan pada wajah si penolong. Namun, rasa pusing yang menusuk memicu nyeri yang tak lagi tertahankan. Seketika itu juga, kesadarannya lenyap, dan tubuhnya terkulai lemas dalam pelukan laki-laki tersebut.
Tanpa membuang waktu, laki-laki itu segera mengangkat tubuh Hana ke dalam gendongannya. Ia mendekapnya dengan erat, dan raut kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya.
“Tolong bawa Hana ke Villa, Jihoon-ssi,” pinta Byeol, dengan cepat menuntun langkahnya menjauhi pantai.
Mereka bergegas menuju Villa. Jihoon berlari, napasnya menderu, dan ia terus menjaga agar Hana tetap nyaman dalam dekapannya.
Sesampainya di Villa, Jihoon merebahkan Hana di atas kasur empuk dengan sangat hati-hati. Matanya memancarkan kegelisahan saat menatap wajah Hana yang pucat pasi.
“Kenapa Hana Saem diizinkan berjalan di pantai jika kondisinya seperti ini?” tuntut Jihoon, matanya tak lepas dari Hana yang berbaring.
Byeol menarik kursi lalu duduk di samping ranjang. “Jika dia terus berada di dalam, dia akan terus menangis dan terperangkap dalam lingkaran emosi yang menyesakkan. Dia butuh berjalan-jalan untuk meredakan hawa pengap di sekelilingnya,” jelas Byeol dengan nada tenang.
Seoyoon berada di belakangnya, berdiri dan hanya diam, matanya tak lepas dari Hana.
Jihoon berdiri, menatap kedua perempuan itu. Ekspresi kesal terlihat jelas di wajahnya. Jihoon menghela napas kasar, lalu menuntut, “Tidakkah kalian berpikir ini merepotkan?” Ia melanjutkan dengan nada menuduh, “Jika tidak ada saya, bagaimana kalian akan membawa Hana Saem yang pingsan?”
Seoyoon lalu berdiri di samping Byeol, menghela napas berat. “Saya juga tidak tahu kenapa kondisinya memburuk drastis. Beberapa bulan lalu dia tidak separah ini. Apakah belakangan ini Hana terlalu banyak bersentuhan dengan laki-laki?” lirihnya kepada diri sendiri.
“Apa karena fan service kemarin dengan Cyber Tyrab?” tebak Byeol.
“Bisa jadi,” Seoyoon berkata sambil membaca diagnosis Hana di tabletnya. Ia mengangguk pelan. “Seperti yang kita tahu, jika Hana berlebihan bersentuhan dengan laki-laki—apalagi yang bukan orang terdekatnya dan tanpa izinnya—gejala serangan panik dan kecemasan akutnya akan kambuh.”
Jihoon terkejut. “Apa sentuhan sekecil itu benar-benar sangat memengaruhi kondisi Hana Saem?”
“Ya,” jawab Byeol singkat. Ia menekan tombol di tablet Seoyoon, menampilkan grafik rumit. “Bahkan sentuhan yang tidak disengaja pun bisa langsung membuat dada Hana sesak.”
Jihoon menghela napas kasar. Rasa bersalah mulai menjalar di hatinya. Tanpa sadar, ia menangkupkan kedua tangan ke wajahnya. Ia mengingat dengan jelas sentuhan tak disengaja yang dilakukan pada Hana. Disingkirkannya tangan dari wajah, lalu tatapan nanarnya jatuh ke lantai. “Jadi, sekarang harus bagaimana?” tanyanya dengan suara berat.
“Hana harus istirahat total selama dua minggu ke depan,” ujar Byeol. “Setelah itu, dia harus segera kembali bekerja.”
“Kenapa tidak istirahat sampai benar-benar sembuh?” Jihoon menyanggah cepat, sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. “Bukankah menangani klien dengan diagnosis yang sama justru akan memperparah keadaannya nanti?”
Byeol menggeleng. “Tidak. Justru dengan kembali ke rutinitas konseling, Hana akan cepat pulih. Pekerjaan itu sendiri adalah bagian dari terapinya. Dia akan belajar secara perlahan cara meminimalisir anxiety-nya lewat proses empati sebagai psikolog,” jelas Byeol, seolah memberi kesimpulan akhir pada diskusi mereka.
Jihoon hanya terdiam, alisnya berkerut saat mencerna penjelasan dari kedua psikolog tersebut. “Kalau begitu, saya tunggu di luar. Biarkan Hana beristirahat terlebih dahulu,” ucap Jihoon. Setelah menarik napas sejenak, ia berbalik, berjalan keluar, dan perlahan menutup pintu kamar.
“Byeol dan Seoyoon saling bertatapan. Kehadiran Jihoon yang tiba-tiba—ditambah kekhawatiran berlebih yang ia tunjukkan pada Hana—terasa janggal bagi mereka. Namun, mereka memutuskan mengesampingkan spekulasi tersebut.
Setelah merapikan selimut, Byeol dan Seoyoon dengan hati-hati melepaskan hijab Hana agar dapat beristirahat dengan nyenyak. Mereka kembali duduk di kursi, larut dalam kesibukan masing-masing tanpa mengeluarkan suara.
Setelah beberapa jam berlalu dalam keheningan, kelopak mata Hana perlahan terbuka. Dia mengedip beberapa kali, mengamati sekeliling ruangan yang diselimuti kegelapan, hanya diterangi oleh cahaya bulan yang samar-samar menembus jendela. Hana bergerak pelan, menopang diri untuk bangkit dari tidurnya.