Hidden Bliss

Dear An
Chapter #17

Chapter 16 - Dua Badai Di Taman Bunga

Panggilan darurat dari Manajer Jung Ji-ho menghentikan sesi konsultasi Hana dengan grup Bloomy. Tanpa sempat menjelaskan banyak hal, Hana langsung menutup bukunya dan bergegas pergi. Sekarang, ia berlari kecil menerobos kerumunan staf yang tampak kalut di sepanjang koridor studio. Pikirannya tertuju pada satu hal—Kim Minwoo pingsan akibat serangan panik di tengah proses shooting video musik.

​Tanpa memedulikan tatapan ingin tahu di sekitarnya, ia hanya membalas sapaan hormat para kru dengan anggukan. Begitu sampai di depan pintu bertuliskan ‘Kim Minwoo’. Tanpa mengetuk pintu, Hana langsung mendorongnya hingga terbuka lebar.

​Pandangannya seketika tertuju pada sofa besar di sudut ruangan. Di sana, Minwoo terbaring dengan wajah pucat pasi dan kelopak mata terpejam. Napas Minwoo tampak putus-putus seperti ia sedang berjuang mati-matian melawan rasa sakit yang mengimpit dadanya.

​Di samping sofa, Jung Ji ho duduk membungkuk dengan wajah pucat. Manajer itu langsung mendongak begitu menyadari kehadiran Hana.

“Hana-saem,” panggilnya lirih. Wajah yang semula tegang kini memancarkan kelegaan yang luar biasa.

Hana mendekat tanpa suara. Ia meletakkan tasnya di lantai, lalu duduk di tepi sofa, tepat di samping Minwoo yang terbaring. Dengan gerakan hati-hati, Hana mengulurkan tangan dan mengusap lembut lengan Min Woo.

​“Tidak apa-apa, Minwoo-ssi. Semuanya baik-baik saja,” bisik Hana dengan suara rendah dan menenangkan.

​Begitu mendengar suara familier itu, napas Minwoo yang semula putus-putus perlahan mulai stabil. Dadanya yang naik-turun tak beraturan kini berangsur tenang.

Setelah memastikan napas Minwoo kembali normal, Hana bangkit berdiri. Ia membalikkan tubuh, menatap Ji Ho dengan tatapan tajam.

​“Kenapa ini sampai terjadi?” tuntut Hana penuh penekanan. “Bukankah kita sudah sepakat? Skenario adegan kekerasan fisik adalah pemicu yang sangat berisiko untuknya.”

​​Ji Ho mengusap wajahnya dengan kasar dan menghela napas berat. Ia enggan menatap Hana, dan lebih memilih memaku pandangannya pada ujung sepatu sendiri.

​​“Saya sudah memohon pada Min Woo-ssi untuk menolak, Saem! Adegan kekerasan fisik itu terlalu nyata, tapi ia tetap bersikeras,” Ji-ho menjeda, suaranya sedikit bergetar. “Dia bilang ingin menghadapi ketakutannya sendiri. Minwoo-ssi sangat yakin kalau dirinya sudah cukup kuat dan serangan itu tidak akan kambuh lagi.”

​Hana melipat tangan di dada, matanya memicing kecewa. “Sekalipun Minwoo-ssi memaksa, seharusnya Anda tahu batasan. Kenapa tidak memanggil saya untuk mendampingi di lokasi?” Hana terdiam sejenak. “Bukankah itu prosedur wajib kita?”

​“Minwoo-ssi sendiri yang melarang, Saem,” Ji-ho menyela cepat. Suaranya menciut, rasa mulai bersalah memenuhi dadanya. “Saya sudah berniat menghubungi Anda, tapi dia mencegah. Katanya, jangan merepotkan Hana-saem karena Anda pasti sedang kewalahan menangani kasus Nona Aileen.”

​Hana tertegun. Penjelasan Ji Ho perlahan meluruhkan ketegangan di bahunya. Ada rasa haru saat menyadari betapa Minwoo mengkhawatirkannya. Namun, perasaan itu segera berganti dengan rasa bersalah yang menyesakkan dada.

​Bagaimana mungkin ia bisa merasa tenang, jika kepedulian Minwoo justru menjadi alasan untuk menderita sendirian? Detik itu juga, Hana merasa telah gagal menjalankan perannya sebagai seorang psikolog.

​Hana kembali menoleh ke arah Minwoo yang masih terpejam, raut wajahnya melembut.

​“Baiklah,” ucap Hana pelan. Ia menarik kursi ke dekat sofa. “Mari kita tunggu sampai Minwoo-ssi sadar sepenuhnya. Saya tidak akan pergi sebelum memastikan dia benar-benar stabil.”

​Keheningan mulai menyelimuti ruangan. Sambil menunggu, Hana membuka map di pangkuannya, menatap catatan medis Minwoo yang terasa begitu berat. Ia tahu betul trauma kekerasan fisik itu telah berakar terlalu dalam—luka batin yang tidak hanya menghancurkan mental Minwoo, tetapi juga menggerogoti fisiknya. Penyakit mag kronis, keletihan yang tak kunjung usai, hingga malam-malam panjang tanpa tidur lelap harus dilewati Minwoo selama bertahun-tahun.

​Hana mengernyit saat menatap kembali catatan perkembangan Minwoo. Selama enam bulan terakhir, laporan itu menunjukkan kemajuan luar biasa. Semuanya tampak berjalan baik, seolah beban Minwoo perlahan terangkat.

“Tapi, kenapa bisa muncul lagi ?” batin Hana cemas.

​Hana tahu masalah yang menimpa Minwoo memang berat. Namun, ia tidak menyangka satu hantaman sanggup meruntuhkan pertahanan mental yang sudah mereka bangun susah payah. Hana merasa sesak melihat kondisi Minwoo yang memburuk lagi, seluruh sesi terapi mereka selama ini mendadak terasa sia-sia.

Hana tersentak dari catatannya saat mendengar suara dari arah sofa. Ia segera menoleh dan mendapati jemari Minwoo mulai bergerak. Tak lama kemudian, Minwoo perlahan membuka mata, mengerjap pelan dengan pandangan yang tampak kosong dan linglung.

​​“Minwoo-ssi?” panggil Hana lembut. Ia meletakkan catatannya dan mendekat perlahan.

​Minwoo menoleh ke arah suara itu. Napasnya masih tersengal dan jemarinya gemetar. Begitu pandangannya mulai fokus dan mengenali siapa yang duduk di sampingnya, ia bergumam pelan.

Lihat selengkapnya