Hidden Bliss

Dear An
Chapter #18

Chapter 17 - Drama Di Balik Pintu

Hana dan anggota Bloomy lainnya duduk berkumpul di ruang tengah vila, pandangan mereka terpaku pada layar TV yang menyiarkan konferensi pers tentang Aileen. Suasana di ruangan itu terasa tegang, Hana segera meraih dan menggenggam erat tangan Aileen. Lalu, mengusapnya pelan, ia menoleh memberikan senyum lembut untuk kliennya itu.

​Di layar TV, seorang pria memakak jas formal hitam dari TigerLab berdiri di balik podium. “Aileen saat ini sedang dalam masa pemulihan di bawah pengawasan ketat tim medis. Kami tidak bisa membagikan detail kondisi spesifiknya demi menjaga privasi yang bersangkutan,” ujar juru bicara itu dengan tegas. “Oleh karena itu, Bloomy akan hiatus sementara sampai kondisi Aileen benar-benar pulih.”

Hana merasakan tangan Aileen mulai dingin di genggamannya.

​​“Saya harap. Para penggemar terus mengirimkan dukungan agar Bloomy dapat segera kembali ke atas panggung. Terima kasih,” ucap pria itu sembari membungkuk, lalu berbalik pergi.

Begitu siaran berakhir, ruang tengah vila mendadak sunyi. Hana menyandarkan punggungnya ke sofa, sementara anggota Bloomy lainnya hanya bisa terdiam. Mereka kemudian mengembuskan napas panjang, lega karena satu beban besar akhirnya terangkat.

​“Eonnie, terima kasih,” bisik Aileen pelan sambil menahan tangis.

​Hana mengangguk, lalu mengusap punggung tangan Aileen dengan lembut. “Sama-sama, Aileen-ah.”

Perlahan, suasana di vila itu mulai berubah. Tempat itu menjadi ruang aman bagi mereka—jauh dari sorotan kamera dan kebisingan dunia luar yang melelahkan. Di sana, mereka kembali menemukan kedamaian melalui hal-hal sederhana yang selama ini terlupakan. Mereka mulai sering memasak ramen bersama sambil bercanda di dapur, berjalan-jalan santai menghirup udara segar, hingga tertawa lepas saat bermain kartu di malam hari. Tanpa mereka sadari, kebersamaan itu membuat ikatan di antara mereka terasa jauh lebih erat dan hangat.

​​​“Eonnie,” panggil Nayeon sambil menarik ujung baju Hana dengan mata berbinar. “Hari ini kita mau melakukan apa? Kita buat dalgona candy lagi?”

​Hana menghela napas panjang, menghentikan tangannya yang sedang merapikan tas. Ia menoleh, menatap Nayeon dengan tatapan bersalah, lalu mengusap lembut rambut gadis itu.

​“Maafkan Eonnie, ya. Hari ini Eonnie harus ke TigerLab untuk menyerahkan laporan perkembangan kalian,” ucap Hana. Ia segera menambahkan saat melihat wajah Nayeon berubah lesu, “Tapi Eonnie janji, setelah urusan kantor selesai, kita akan main sepuasnya.”

​“Yah ....” ucap Nayeon kecewa lalu menjatuhkan diri ke sofa, diikuti anggota Bloomy lainnya.

​Setelah sampai di depan ruangan itu, Hana terdiam sebentar. Ia mengatur napasnya yang sedikit memburu, mencoba mengumpulkan keberanian sebelum mengetuk pintu. Namun, belum sempat tangannya terangkat, pintu di hadapannya terbuka tiba-tiba.

Hana tersentak saat mendapati Jihoon sudah berdiri di ambang pintu. Sosoknya yang tegap memenuhi bingkai pintu. Kemeja satin berwarna hitam yang ia kenakan menonjolkan kulit pucatnya, sementara kacamata berbingkai tipis di wajahnya menutupi sepasang mata biru safir yang memancarkan tatapan dingin dan sulit dibaca.

​​“Kenapa tidak masuk?” tanya Jihoon datar.

​Hana tersentak. Ia refleks mengeratkan pegangan pada tas di pelukannya, menutupi tangannya yang mendadak dingin. “Ah, itu... saya baru saja mau mengetuk,” jawabnya terbata-bata.

​Seruan ceria tiba-tiba memecah ketegangan. Taeil muncul dari balik bahu Jihoon, membawa aura hangat yang mengusir atmosfer dingin di antara mereka.

​“Hana-ya!” panggil Taeil riang.

​Hana yang sempat tertegun mengembuskan napas panjang, sudut bibirnya mengembang lebar—sebuah perubahan yang tak luput dari pengamatan tajam Jihoon.

​“Oh, Oppa?” sahut Hana senang.

​Taeil menyenggol bahu Jihoon agar pria itu memberi jalan, lalu melangkah maju dengan santai. “Kenapa cuma berdiri di depan pintu? Ayo, masuk,” ajaknya ramah.

​Tanpa menunggu jawaban, Taeil meraih tangan Hana dan membimbingnya melewati ambang pintu.   Begitu melangkah ke dalam ruang kerja Jihoon, Hana kembali terperanjat. Para anggota TigerLab sudah duduk santai di sofa yang melingkar. Mereka tampak mengelilingi seorang pria paruh baya yang berpenampilan elegan dan berwibawa.

​“Halo, Saem,” sapa Inwoo dengan hormat, bangkit sejenak dari duduknya.

​Pria paruh baya yang berada di tengah-tengah mereka kemudian ikut berdiri. Ia mengulurkan tangan dengan tenang. “Park Hana Saem, perkenalkan,” ujarnya. “Saya Park Jung Il, pemilik TigerLab.”

​Pria itu tersenyum lebar, memancarkan kehangatan yang memenuhi ruangan. Sebelum Hana sempat menyambut tangannya, Jung Il melirik jenaka ke arah Jihoon yang berdiri mematung tak jauh dari sana.

​“Jadi, ini wanita yang membuatmu terus tersenyum belakangan ini?” goda Jung Il sambil tertawa kecil.

​Jihoon langsung memalingkan wajah, pura-pura sibuk dengan dasinya. Sementara itu, Hana merasa pipinya memanas. Ia segera merapikan hijabnya yang tidak berantakan, lalu membungkuk dalam sebelum menjabat tangan pria berwibawa itu.

​“Sebuah kehormatan bagi saya, Park Jung Il Hoejang-nim,” ucap Hana dengan suara yang diusahakan tetap tenang. “Saya Park Hana dari Harmony Psychology.”

​Begitu jabat tangan terlepas, Taeil segera menarik pelan lengan Hana, menuntunnya untuk duduk di sampingnya, bergabung dengan anggota Cyber Tyrab.

​​​“Ada perlu apa Hana Saem kemari?” tanya Woojin sambil melirik sekilas dari balik ponselnya.

​​“Hana Saem mau kencan pribadi sama Jihoon Hyung, ya?” goda Taeyang sambil menaik-turunkan alisnya.

Lihat selengkapnya