Hidden Bliss

Dear An
Chapter #21

Chapter 20 - Dua Badai Di Taman

Hana baru saja membuka buku catatannya, bersiap mendengarkan kelanjutan cerita Aileen. Namun, dering telepon dari Manajer Jung seketika memecah konsentrasinya. Hana segera mengangkatnya, dan raut wajahnya langsung berubah tegang saat mendengar suara di seberang sana. Tanpa sempat menjelaskan apa pun pada Aileen yang tampak bingung, ia menutup bukunya dan bergegas pergi.

​Hana sampai di studio tak lama kemudian. Ia berlari kecil melewati koridor yang ramai oleh staf yang berlalu-lalang dengan wajah panik. Tanpa memedulikan tatapan heran di sekitarnya, ia hanya mengangguk singkat pada kru yang menyapanya. Begitu sampai di depan pintu bertuliskan “Kim Minwoo”, ia langsung mendorongnya tanpa ragu.

​Pandangan Hana langsung tertuju pada sofa di sudut ruangan. Di sana, Minwoo terbaring pucat dengan mata terpejam rapat. Suasana di dalam ruangan itu terasa sangat sunyi, kontras dengan keributan di luar tadi.

​​​Di samping sofa, Jung Ji Ho duduk membungkuk. Tubuhnya gemetar hebat, dan ia langsung mendongak begitu menyadari kehadiran Hana di ruangan itu.

​“Saem,” panggilnya lirih, napasnya tampak lega dan penuh beban.

​Hana segera mendekat. Ia meletakkan tasnya ke lantai, lalu duduk di tepi sofa. Dengan cepat, ia mengecek suhu tubuh Minwoo, lalu mengusap lengan pria itu untuk memastikan aliran nadinya. Setelah memastikan kondisi Minwoo stabil, ia bangkit berdiri, menatap Ji Ho dengan sorot mata yang menuntut penjelasan.

​“Kenapa ini sampai terjadi?” tanya Hana dengan tajam. “Bukankah kita sudah sepakat? Skenario yang melibatkan adegan kekerasan fisik adalah pemicu yang sangat berisiko untuk traumanya.”

​Ji Ho mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menunduk, tidak berani menatap mata Hana. “Saya sudah memohon pada Minwoo-ssi untuk menolak adegan itu, Saem! Tapi dia bersikeras. Dia bilang ingin menghadapi ketakutannya sendiri. Dia sangat yakin kalau dirinya sudah cukup kuat.”

​Hana melipat tangan di depan dada, matanya menyipit kecewa. “Sekalipun dia memaksa, seharusnya Anda tahu batasannya. Kenapa tidak memanggil saya untuk mendampingi di lokasi? Bukankah itu sudah menjadi prosedur wajib kita?”

​“Minwoo-ssi sendiri yang melarang, Saem,” sela Ji Ho cepat, suaranya kini terdengar memohon. “Saya sudah berniat menghubungi Anda, tapi dia mencegah. Katanya, jangan merepotkan Hana-saem karena Anda pasti sedang kewalahan menangani kasus Nona Aileen.”

​Penjelasan itu membuat Hana tertegun. Amarah yang sedari tadi membakar dadanya perlahan meluruh, menyisakan sesak yang mengimpit napas. Ada rasa haru yang menyelinap saat ia menyadari betapa Minwoo masih memikirkan beban pekerjaannya, bahkan di saat pria itu sendiri sedang hancur.

​Namun, kehangatan itu segera tertelan oleh rasa bersalah yang teramat dalam. Bagaimana mungkin ia bisa merasa tenang? Hana merasa telah gagal menjadi sandaran bagi pasiennya sendiri. Ia yang seharusnya menguatkan, justru sempat kehilangan kendali atas emosinya.

​Hana kembali menatap Minwoo yang masih terpejam. Sorot matanya yang tadi sempat mengeras kini melunak, digantikan oleh penyesalan yang mendalam. Dengan gerakan pelan, ia menarik kursi ke dekat sofa, memutuskan untuk tetap di sana.

​“Baiklah,” ucap Hana pelan. “Mari kita tunggu sampai dia sadar. Saya tidak akan pergi ke mana-mana sebelum memastikan kondisinya benar-benar stabil.”

​Ruangan itu seketika menjadi sunyi, hanya menyisakan deru napas teratur Minwoo. Sambil menunggu kondisi pria itu benar-benar stabil, Hana membuka map di pangkuannya dan menelaah kembali catatan medis pasiennya. Ia tahu betul trauma masa lalu Minwoo telah berakar terlalu dalam, menghancurkan mental sekaligus menggerogoti fisiknya. Penyakit lambung kronis, kelelahan akut, hingga insomnia yang menyiksanya selama bertahun-tahun terdokumentasi rapi di sana.

​Hana mengernyit heran. Selama enam bulan terakhir, catatan itu sebenarnya menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Semuanya tampak membaik, seolah beban yang mengimpit Minwoo perlahan mulai terangkat.

“Namun, kenapa sekarang bisa kambuh separah ini?” Batin Hana cemas.

​Hana paham bahwa pemicu trauma bisa datang kapan saja. Namun, ia tidak menyangka satu adegan kekerasan saja sanggup meruntuhkan tembok pertahanan mental yang mereka bangun dengan susah payah selama ini. Melihat kondisi Minwoo yang kembali terpuruk, rasa sesak menghunjam dada Hana. Ada secercah keputusasaan yang menyelinap—sebuah pikiran pahit yang membisikkan bahwa seluruh sesi terapi yang mereka lalui selama ini teras sia-sia.

​Lamunan Hana seketika terhenti saat menangkap gerakan kecil dari arah sofa. Ia langsung menoleh, mendapati jemari Minwoo yang bergerak pelan di atas kain beludru. Tak lama kemudian, pria itu membuka matanya, mengerjap perlahan dengan pandangan yang masih kosong dan linglung,

​Hana meletakkan catatannya, lalu mendekat dengan hati-hati. “Minwoo-ssi?” panggilnya lembut.

​Minwoo menoleh ke arah suara itu. Napasnya masih terasa berat dan ujung jemarinya tampak gemetar. Begitu pandangannya mulai fokus dan mengenali sosok yang duduk di sampingnya, ia bergumam lirih.

​“Hana… Saem?” panggil Minwoo dengan suara parau.

​Namun, keheningan itu tidak bertahan lama. Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, raut wajah Minwoo berubah panik. Ia berusaha bangkit dengan tergesa-gesa, mengabaikan tubuhnya yang masih lemas.

​“Jangan, Minwoo-ssi! Tetaplah berbaring,” cegah Hana.

​Minwoo tidak mendengar larangan itu. Ia terus memaksakan diri untuk bangun meski tubuhnya gemetar hebat.

Lihat selengkapnya