Hidden Bliss

Dear An
Chapter #22

Chapter 21 - Skakmat

Hana dan anggota Bloomy lainnya duduk berkumpul di ruang tengah vila. Pandangan mereka terpaku pada layar televisi yang menyiarkan konferensi pers tentang Aileen. Suasana di ruangan itu terasa tegang. Hana segera meraih dan menggenggam erat tangan Aileen, mengusapnya pelan sambil memberikan senyum lembut untuk menguatkan kliennya itu.

​​Di layar, seorang pria memakai jas formal hitam dari TigerLab berdiri dengan tegak di balik podium. “Aileen-ssi saat ini sedang dalam masa pemulihan di bawah pengawasan ketat tim medis. Kami tidak bisa membagikan detail kondisinya demi menjaga privasi yang bersangkutan,” ujar juru bicara itu dengan tegas. “Oleh karena itu, Bloomy akan hiatus sementara sampai kondisi Aileen-ssi benar-benar pulih.”

Mendengar kata hiatus, Hana merasakan tangan Aileen mendadak berubah dingin dalam genggamannya. Ia menoleh, lalu mengusap tangan Aileen dengan lembut.

​​​​“Saya harap para penggemar terus mengirimkan dukungan agar Bloomy dapat segera kembali ke atas panggung. Terima kasih,” tutup pria itu sembari membungkuk formal, lalu berbalik meninggalkan panggung konferensi pers.

​Begitu siaran berakhir, ruang tengah vila itu mendadak sunyi. Hana menyandarkan punggungnya ke sofa tanpa melepas genggaman tangannya, sementara anggota Bloomy lainnya hanya bisa terdiam dengan tatapan kosong. Namun perlahan, mereka mulai mengembuskan napas panjang—sebuah helaan napas penuh kelegaan yang sejak tadi mereka tahan.

​“Eonnie, terima kasih,” bisik Aileen pelan. Suaranya bergetar hebat, menahan tangis yang nyaris pecah.

​Hana menoleh, lalu tersenyum lembut. “Sama-sama, Aileen-ah.”

​Perlahan, suasana di vila itu mulai berubah. Tempat itu menjadi ruang aman bagi mereka, jauh dari sorotan kamera dan kebisingan dunia luar yang melelahkan. Di sana, mereka kembali menemukan kedamaian melalui hal-hal sederhana yaitu memasak ramen bersama sambil bercanda di dapur, berjalan-jalan menghirup udara segar, hingga tertawa lepas saat bermain kartu di malam hari. Tanpa disadari, kebersamaan itu merajut ikatan yang jauh lebih erat di antara mereka.

​Namun, tugas profesional tetap harus berjalan. Siang itu, Hana tampak sibuk merapikan beberapa berkas ke dalam tasnya.

​“Eonnie,” panggil Nayeon sambil menarik ujung baju Hana. Matanya berbinar penuh harap. “Hari ini kita mau melakukan apa? Apa kita akan buat dalgona candy lagi?”

​Hana menghentikan gerakannya. Ia menatap Nayeon dengan nanar, lalu mengusap lembut rambut gadis itu. “Maaf ya, hari ini Eonnie harus ke TigerLab untuk menyerahkan laporan perkembangan kalian.”

​Melihat bahu Nayeon yang langsung merosot lesu, Hana segera menambahkan, “Tapi Eonnie janji, setelah urusan kantor selesai, kita akan main sepuasnya.”

​“Yah....” gumam Nayeon kecewa sembari menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan lemas, diikuti oleh anggota Bloomy lainnya yang ikut menunjukkan wajah muram.

​Beberapa waktu kemudian, Hana sudah berdiri di depan ruang kerja Jihoon. Ia berhenti sejenak, mencoba mengatur napasnya yang mendadak tidak teratur. Namun, belum sempat tangannya terangkat untuk mengetuk, daun pintu kayu itu sudah lebih dulu berayun dari dalam.

Begitu pintu itu terbuka, ​Hana terkesiap. Jihoon sudah berdiri di sana, sosok tegapnya seolah memenuhi seluruh ambang pintu dan menghalangi jalan masuk. Kemeja hitam yang membalut tubuhnya membuat kulit pucat pria itu tampak sangat kontras, memperkuat kesan dingin yang memancar darinya. Di balik kacamata tipis yang bertengger di hidungnya, sepasang mata biru safir Jihoon menatap Hana dengan sorot tajam yang sulit diartikan.

​“Kenapa tidak masuk?” tanya Jihoon datar.

​Hana kembali tersentak. Secara refleks, ia meraih tasnya dan mendekap di dadanya, berusaha menyembunyikan jemarinya yang mendadak mendingin. “Ah, itu... saya baru saja mau mengetuk,” jawabnya sedikit terbata-bata.

​Tiba-tiba, Taeil muncul dari balik bahu Jihoon, membawa aura hangat yang seketika mencairkan suasana kaku tersebut.

​“Hana-ya!” panggil Taeil riang.

​Hana mengembuskan napas lega. Ketegangan di wajahnya sirna, digantikan oleh senyum yang langsung merekah lebar. Perubahan ekspresi Hana yang drastis itu tidak luput dari perhatian tajam Jihoon. 

​Taeil menyenggol bahu Jihoon agar pria itu memberi jalan. “Kenapa cuma berdiri di depan pintu? Ayo, masuk,” ajaknya ramah.

​Taeil langsung menarik lembut tangan Hana untuk melangkah masuk. Begitu berada di dalam ruang kerja Jihoon, Hana kembali terkejut. Ternyata, anggota TigerLab lainnya sudah berkumpul di sana. Mereka tampak sedang duduk santai mengelilingi seorang pria paruh baya yang memancarkan wibawa sangat kuat.

Lihat selengkapnya