Seketika, ruangan itu menjadi sunyi senyap begitu pintu tertutup rapat. Keheningan yang ditinggalkan anggota TigerLab terasa jauh lebih menekan. Jihoon yang duduk di samping Hana mulai bergerak. Ia memutar posisi tubuhnya hingga kini ia menghadap ke arah Hana sepenuhnya.
Jihoon mencondongkan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka membuat aroma parfumnya yang maskulin memenuhi indra penciuman Hana. Dengan satu tangan yang bertumpu pada sandaran sofa, tepat di belakang kepala Hana, Jihoon mengunci tatapan mata Hana agar tidak bisa berpaling ke mana pun.
“Bukan siapa-siapa?” Jihoon mengulang kalimat Hana dengan suara rendah dan penuh penekanan.
Seketika, ruangan luas itu terasa menyempit dan menyesakkan. Dinginnya hembusan AC yang menusuk kulit, terasa berbanding terbalik dengan telapak tangan Hana yang mulai basah oleh keringat dingin. Ruang geraknya kini benar-benar terbatas oleh kehadiran fisik Jihoon yang mendominasi.
Hana menelan ludah dengan susah payah. Meski jantungnya berdegup kencang, ia tetap memaksa bahunya tegak, menolak untuk terlihat lemah dan berusaha keras membalas tatapan tajam yang menghujam dari balik kacamata Jihoon.
“Apa Anda... benar-benar marah?” tanya Hana lembut, mencoba memecah ketegangan.
“Jadi... selama waktu yang saya habiskan bersama Anda,” bisik Jihoon dengan suara yang nyaris tak terdengar. “Saya benar-benar bukan siapa-siapa?”
Hana mengedipkan matanya beberapa kali dengan wajah polos, meski ada secuil keraguan yang mulai merayap di hatinya. “Memang seperti itu, kan?” jawabnya santai. “Lagi pula, Anda bukan pacar saya.”
Jawaban itu seperti sebuah tamparan halus dan telak. Jihoon menghela napas panjang dan kasar. Ia memijat pelipisnya dengan kuat, berusaha menekan rasa pusing yang tiba-tiba menyerang akibat kejujuran Hana yang menyakitkan. Tanpa berkata-kata lagi, ia bangkit berdiri, berjalan menjauh, lalu berhenti di depan jendela besar, dan memunggungi Hana.
“Kalau begitu, kita batalkan pembahasan soal Bloomy hari ini. Lain kali saja,” ucap Jihoon dengan nada dingin dan datar, tanpa sedikit pun menoleh. “Anda boleh pergi sekarang.”
Hana menatap punggung itu dengan kesal. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh, merasa tidak adil diperlakukan seperti itu. “Anda benar-benar mengusir saya?”
Jihoon tetap diam. Ia bergeming dalam posisinya yang membelakangi Hana. Hanya pundaknya yang bergerak pelan, saat ia menarik napas berat, namun ia tetap bungkam, memberikan keheningan sebagai jawaban atas pertanyaan Hana.
Hana menggigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang apakah ia harus benar-benar pergi dan meninggalkan masalah yang menggantung ini, atau justru menghadapi Jihoon.
Hana terdiam sejenak, menarik napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang masih berpacu. Alih-alih melangkah ke pintu, ia justru bangkit. Berjalan mendekat dengan langkah yang pelan, lalu berdiri tepat di depan Jihoon. Dengan tatapan yang lembut, Hana mencoba mencari celah di mata Jihoon yang terus-menerus membuang muka.
“Jihoon-ssi... Apa Anda cemburu?” tanya Hana lirih.