Area parkir malam itu terasa sangat sunyi, hanya menyisakan cahaya rembulan dan pijar lampu yang mulai meredup. Udara dingin yang menusuk tulang membuat Jihoon merapatkan mantel kasmir yang dikenakannya. Suara langkah kakinya bergema, menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan saat ia melangkah mendekati Mercedes hitam miliknya.
Belum sempat jemarinya menyentuh gagang pintu, sesosok pria ber-hoodie gelap muncul dari balik pilar beton. Tanpa aba-aba, pria itu menyambar dan menyentak pergelangan tangan Jihoon dengan kuat. Ia langsung berdiri menghalangi jalan, menutup akses Jihoon menuju mobilnya.
Begitu cahaya lampu parkir menyorot wajah pria itu, Jihoon tertawa sinis. Ia segera menegakkan bahu, berdiri kokoh tepat di hadapan pria itu sambil melemparkan tatapan menantang.
“Minwoo-ssi?” panggil Jihoon dengan senyum tipis yang meremehkan.
Minwoo tidak bergeming. Ia hanya membalas panggilan itu dengan tatapan yang sangat dingin. Rahangnya terkatup rapat, menahan amarah yang tampak membara di balik matanya. Tanpa peringatan, Minwoo melangkah maju, mencengkeram kerah mantel Jihoon erat-erat, dan menariknya dengan kasar.
“Ada hubungan apa Anda dengan Hana-saem?” desis Minwoo serak. Tatapannya yang dingin berganti menjadi luapan cemburu yang tak lagi bisa ia tahan.
Jihoon mengangkat sebelah alisnya, menunjukkan rasa tidak suka atas tindakan kasar itu. Tanpa berusaha melepaskan diri, ia sedikit menunduk, menatap tepat ke manik mata Minwoo.
“Apakah pertanyaan yang sangat pribadi itu perlu saya jawab?” tanya Jihoon tenang dengan nada yang sangat merendahkan.
“Tentu saja!” balas Minwoo cepat. Cengkeramannya pada kerah mantel Jihoon semakin menguat hingga buku jarinya memutih. “Saya berhak tahu!” tuntutnya dengan napas yang mulai memburu.
Jihoon menyunggingkan senyum tipis yang meremehkan. Dengan satu sentakan kuat, ia mengempaskan tangan Minwoo dari kerah kemejanya. Tenaganya yang besar, membuat Minwoo terhuyung mundur dan menghantam badan mobil dengan keras.
Akibat benturan itu, topi hitam yang dikenakan Minwoo jatuh ke aspal, mengekspos wajahnya yang kini tampak begitu pias.
Jihoon berdiri tegak dan merapikan kembali kerah mantelnya yang sempat berantakan. Ia mengusap bagian yang baru saja dicengkeram itu dengan ujung jari, seakan baru saja menyentuh sesuatu yang kotor dan menjijikkan.
“Saya rasa, saya tidak perlu menjawab pertanyaan Anda,” ucap Jihoon sambil melangkah maju satu langkah. “Karena bagi Hana-saem, Anda hanya seorang klien.”
Ia menjeda sejenak, mengunci tatapan Minwoo sebelum menekan setiap kata dengan nada yang sangat dingin, “dan bukan siapa-siapanya.”
Minwoo menyeringai getir. “Sekarang memang klien,” sahutnya dengan suara yang sedikit bergetar. Ia menatap Jihoon dengan tatapan yang nyaris putus asa. “Tapi siapa tahu? Besok, lusa, atau bulan depan... Hana bisa saja menjadi kekasih saya.”