Suara burung berkicau, tanda pagi telah datang menyapa penghuni semesta. Langit mulai terlihat membiru, dengan awan bergumal putih pagi ini akan menjalankan tugasnya menghiasi semesta.
Dedaunan seakan memberikan isyarat bila pagi telah datang, dengan tetesan embunnya berkilau serasa sejuk menyentuh kalbu.
Dari luar halaman rumah yang masih diselumuti embun pagi, tampak masih tertutup dengan pintu masih dengan hawa dingin, tidak lama berselang pintu terbuka.
Bima beranjak keluar, langkah jalannya terhenti ketika Heri menghampiri Bima sedikit melempar senyuman pada Heri sudah berdiri dihadapan Bima.
Sesaat Bima perhatikan Heri, yang sudah dalam keadaan rapi segera akan berangkat bekerja, sesaat Heri juga perhatikan raut wajah Bima tersirat raut wajah tersenyum seraya hatinya sedang bahagia.
"Sudah sekian minggu setelah Ibu pergi meninggalkan Ayah, tidak lantas Ayah harus dalam kesedihan selalu, Her. Ayah ingin sekali terlihat bahagia dan happy. Walau Ayah tahu, saat ini kamu masih tidak terima dengan kepergian, Ibu," beber Bima tersenyum berjalan kemudian berhenti di perkarangan halaman rumah melirik mobil bmw merah tua masih diselimuti kristal tetesan air dari penguapan hasil embun malam.
Dalam pikiran Heri masih ingin bertanya pada Bima masih tersenyum, masih ada rasa keraguan dan tidak ada rasa keberanian Heri untuk bertanya pada Bima, namun dalam hati Heri semakin penasaran untuk bertanya pada Bima.