Hidup Dengan Mayat ~Novel~

Herman Siem
Chapter #7

Kecewa & Penasaran

Tika melirik pintu kamar terbuka sudah masuk Rico sudah siap-siap akan berangkat kuliah pagi.

"Udeh deh loe Kak, jangan terus menggerutu terus. Ini masih pagi, ngak baik untuk seorang gadis cantik seperti loe. Tiap pagi selalu aja marah-mara," ledek Rico melirik Tika kembali sudah duduk diatas dipan.

Rico raih tangan Tika masih pakai koas pendek warna hijau tua dan celana pendek bahan warna putih. Tersirat dari raut wajahnya masih sedih bercampur kesal.

"Kak, loe harusnya mengerti dengan keadaan Heri saat ini, walau pahit loe rasain, Kak. Gua, tahu dalam hati Heri saat ini pasti masih mikirin loe kok," ledek dan puji Rico dan seraya menasehati Tika sedikit tersenyum.

"Sotoy loe Ric! Bilang aja loe mau minta uang jajankan pake sok-sokan nasehatin dan muji-muji gua!" bantah Tika beranjak bangun mendekati meja nakas bersampingan dengan ranjang tergeletak dompet berwarna hitam diatas meja nakas.

Tangan Tika mengambil dompet dan mengambil berapa lembaran uang lima puluh ribuan dari dalam selipan dompet dan kemudian di berikan pada Rico.

"Kak, saat ini hidup kita hanya tinggal berdua saja. Gimana gua masih ingat, betapa sedih dan terkupulnya kita berdua ketika ditinggal pergi Ayah dan Ibu untuk selamanya, karena kecelakaan itu. Gua dan loe harus berusaha untuk bangkit menata hidup dan tetap menjalaninya. Walau dalam kesedihan yang tidak mudah untuk kita lewati dan bukan berarti kita berdua harus melupakan Ayah dan Ibu begitu saja. Tidak mudah itu bagi kita berdua biat bisa keluar dengan larut dalam kesedihan terus," terang lugas Rico tersirat kesedihan dari kedua mata Rico terlihat merah merona berkaca-kaca. 

"Ya udah deh, gua berangkat kuliah dulu. Udah siang nih. Dari tadi cuman nasehatin loe doang. Yang katanya cinta sampai mati, tapi baru begini aja uda ngak mau cinta sampai mati," ledek lagi Rico beranjak keluar dari dalam kamar.

Tika berdiri didepan jendela, terlihat diluar jendela Rico sudah naik motornya tinggalkan halaman rumah tampak terlihat dari dalam kamar Tika.

"Benar juga kata loe Ric, ngak mudah bangun dalam kesedihan setelah tinggal pergi selamanya oleh orang tercinta. Seperti saat ini yang di rasakan Heri," lirih sedih Tika dalam hatinya disertai tetesan air mata jatuh menetes basahi pipinya.

"Brak!" suara pintu terbuka membentur tembok, dilirik Tika pintu kembali tertutup sendiri.

Lihat selengkapnya