Hidup Dengan Mayat ~Novel~

Herman Siem
Chapter #8

Kembang Buat Mayat Nena

Dibelakang Heri muncul Arwah Nena semakin mendekati Heri ketika tangan kanannya sudah mendekati akan menyetuh dan menarik selimut putih, seketika suara dering ponsel terdengar berdering. 

"Kring ... Kring ..." suara dering ponsel terdengar. Terkejut terburu-buru dan tidak jadi Heri menyentuh kain putih dan cepat beranjak berbalik keluar dari dalam kamar sembari menjawab telpon panggilan dari kantor.

"Segera saya on the way sekarang." jawab Heri akan bergegas berjalan sudah berdiri didepan pintu kamar.

"Brak!" suara pintu tertutup sendiri. Sempat sebentar Heri meliri kearah pintu, tapi karena hari sudah siang Heri cepat beranjak keluar naik mobil dan mobil berjalan tinggalkan halaman rumah yang semakin membuat pikirannya penasaran.

Kohar, lelaki culun penakut pagi itu seperti biasanya menyapu dan membersihkan barang antik yang terpajang dalam toko, yang cukup besar sekali.

Tampak banyak barang antik seperti patung, keramik, kendi, ranjang, kursi dan masih banyak barang lainnya antik yang tertata rapi dalam toko.

Dua mata ingin tahunya Kohar melirik Bima sedang terduduk dalam ruangannya, rasa penasaran Kohar sembari berpura-pura mengelap patung wanita Bali.

Pandangan Kohar melirik kearah Bima, patung wanita Bali akan terjatuh cepat ditahan Kohar.

"Set deh hampir jatuh! Kalau jatuh bisa-bisa gaji gua dipotong sama Bos Bima," ujar Kohar mendirikan patung wanita Bali pada posisi semula.

"Sampai kapanpun aku akan tetap hidup denganmu, Nena. Cinta itu akan kubawa sampai mati, Nen. Walau saat ini kamu telah tiada, namun ragamu masih tetap ada bersamaku saat ini dan selamanya," ungkap lirih dalam kesedihan Bima terduduk sendiri dalam kesedihan ruangan yang sunyi.

"Semakin kesini Bos Bima, semakin puitis seperti pujangga bujangan setelah ditinggal Bos Nena," ledek Kohar masih menguping didepan pintu ruangan kerja Bima.

Arwah Nena duduk disamping patung wanita Bali, sempat dilirik Kohar masih tidak sadar. Patung wanita Bali berfose menari pendet pegang canang pada tangan kiri kanannya, kedua matanya mengedip pada Kohar rada terkejut.

Lihat selengkapnya