"Aku mengerti keadaan kamu saat ini, Nena. Namun tidak menyurutkan cinta ini terhadap kamu. Aku sadar saat ini hanya raga saja yang sedang aku cintai. Namu naku akan tetap selalu cinta dan menyayangi kamu, Nena." ungkap perasaan hati Bima berdiri dibelakang mayat Nena terlihat dari cermin Bima menunduk mencium rambut dan memeluk mayat Nena dari belakang.
Heri semakin penasaran ingin masuk kedalam, tangannya mulai gatal akan mengetuk pintu sontak datang Mbok Mar menarik malarang Heri agar tidak masuk dan mengganggu Bima.
"Mbok dipesan Tuan Bima agar melarang siapapun untuk tidak masuk kedalam kamar, termasuk Mas Heri," larang rada tegas Mbok Mar melarang Heri agar tidak masuk kedalam kamar.
"Tapi Mbok? Saya penasaran sejak kepergian Ibu, kamar ini selalu terlihat aneh menyeramkan dan tadi saya baru dengar bila Ayah sedang berbicara dengan seseorang didalam. Semua itu semakin membuat saya penasaran. Apa yang sebenarnya dilakukan Ayah didalam kamarnya?" tanya Heri semakin penasaran pada Mbok Mar seperti menutupi sesuatu tersirat dari raut wajahnya sudah berbohong dengan Heri.
"Mbok mohon pada, Mas Heri agar tidak masuk kedalam kamar Tuan Bima!" tegas lagi dengan raut memohon Mbok Mar akan beranjak jalan dihadang Heri.
"Atau jangan-jangan Mbok Mar tahu dan sudah bersengkongkol sama Ayah? Dengan apa yang di lakukannya dalam kamar itu?!" tuding Heri pada wajah Mbok Mar terdiam ketakutan saat Heri tunjuk kamar.
"Saya harus tahu apa yang dilakukan Ayah dalam kamar itu, Mbok!" tegas Heri cepat mendekati pintu ditahan Mbok Mar.
"Mbok mohon Mas Heri jangan masuk, nanti Mbok akan dimarahi Tuan Bima," lerai Mbok Mar memohon berusaha larang Heri agar tidak memaksa masuk kedalam kamar.