Sementara tersirat cemas dan gelisah dari raut wajah Bima yang berjalan pulang tampak tergesa-gesa.
"Kenapa firasat ini tidak enak?" tanya dalam hati Bima terus berjalan ditepian jalan yang sepi.
Langkah Bima terhenti saat melihat iring-iringan orang yang sedang mengantar jenazah untuk segera dikuburkan.
Bima terdiam perhatikan keranda tertutup kain hijau dengan ukiran tulisan arab, lengkap dengan untain ronce bunga melati yang menghiasi keranda digotong berapa orang mengantarnya.
"Berhenti!" dua tangannya terentang kiri kakan dan berteriak seorang wanita setengah tua, sepertinya dia masih tidak ikhlas bila suaminya segera dikuburkan.
Sontak semua pengantar berhenti, tempak merasa lelah berapa lelaki menahan beratnya keranda berisi jenazah didalamnya.
"Mas, aku tidak mau hidup sendiri tanpa kamu. Aku tidak ikhlas bila kamu pergi meninggalkan aku, Mas," lirih sedih wanita setengah tua menarik-narik keranda, semakin tidak kuat orang yang menggotong keranda, akhirnya keranda diturunkan dan diletakan jalanan.
"Yang datang bisa pergi selamanya, tanpa kita tahu kapan adzal itu datang menjemput. Jenazah ini lebih baik segera di kuburkan, tidak baik ditahan-tahan karena kasihan nantinya," bijak nasehat Ustad bersorban putih menjelaskan pada wanita setengah tua yang ternyata adalah istrinya, yang tidak ingin berpisah dengan almarhum suaminya.
Iring-iriangan pengantar jenazah mulai berjalan mengantar jenazah untuk segera dikuburkan.
Bima sepertinya tidak peduli dengan apa yang baru dilihat dan di dengarnya. Langkah Bima cepat berjalan menyusuri tepian jalan yang sepi hanya terlihat pepohonan besar rimbun dengan dedaunanya.
Terkejut Heri menarik selimut putih, terlihat terbaring mayat Nena bergaun putih saat dilarang Mbok Mar terlambat.