Tidak lama kemudian kedua mata Heri terpejam dan Heri terlelap tidur dalam kesedihannya karena tidak bisa menguburkan mayat Ibu dengan layak.
"Kring ... Kring ..." suara dering ponsel terdengar dan bergetar disamping bantal, karena saking lelapnya Heri tidak menjawab panggilan dari Tika.
"Krekk ... Sheet ..." suara pintu terbuka sendiri saat tidak terdengar lagi suara dering ponsel.
Masuk Arwah Nena duduk disamping ranjang dan berubah menjadi manusia biasa, tangan Nena mengelus wajah tampan Heri.
"Ibu mengerti dan tidak menyalahi apa yang sudaj dilakukan Ayah pada jasad Ibu. Namun, bila kamu tahu betapa tersiksanya Ibu saat ini, pastinya kamu juga akan sangat sedih sekali, Heri. Walau saat ini Ibu telah tiada, senantiasa Ibu adalah Ibumu dan kamu adalah anak Ibu. Ibu hanya minta tolong segera kuburkan Ibu dengan layak, Heri," lirih sedih Nena masih terduduk sedih mengelus wajah tampan Heri.
"Ampun ... Ampun ... Tuan..." terdengar teriakan Mbok Mar dari luar kamar.
Lirikan sinis mata kiri Nena, sontak dirinya pelan-pelan berubah lagi jadi seram wajahnya. Berdiri berbalik menghadap kearah pintu terlihat seram wajah Nena dan kembali berubah menjadi kembali menjadi Arwah.