Malam semakin larut, semakin membuat Heri tidur terlelap dengan terbaring tidur diatas ranjang ditemani sahabat setianya, yaitu sepasang bantal guling dan kepalanya serta berselimutkan selimut biru serasi dengan bantal kelapa dan bantal guling.
Tiba-tiba Heri terjaga bangun dari tidur memanggil Mbok Mar, seperti ada kontak batin Heri dengan kejadian yang dialami Mbok Mar barusan.
"Mbok Mar ... Mbok Mar ..." panggil Heri tersirat rasa cemas pada raut wajahnya karena tidak ada jawaban dari Mbok Mar yang biasanya lekas datang saat dipanggil Heri. Heri mulai cemas dan bingung akan turun dari ranjang tidak dan masih terduduk diatas ranjang.
"Kenapa Mbok Mar ngak jawab panggilan gua? Kemana Mbok Mar? Biasanya Mbok Mar cepat kalau gua panggil," guman risau Heri semakin bingung dan lekas turun dari ranjang.
"Mbok ... Mbok Mar ..." sekali lagi Heri berteriak panggil Mbok Mar tetap tidak ada jawaban.
Heri akan keluar dari dalam kamar tidak jadi hanya berdiri didepan pintu dalam kamar, karena terdengar samar suara pembicaraan Tika sedang berbicara dengan Bima diruangan tengah.
"Om tidak keberatan, bila kamu dan Heri segera melangsungkan pernikahan. Hanya Om belum banyak bicara saja dengan Heri," cuman alasan Bima sambil melirik pintu kamar, cepat Heri tutup pintu kamar berdiri disamping pintu kamar.
"Untuk apa Tika datang malam-malam dan lagian kenapa nemuin Ayah?" tanya dalam hati Heri seorang diri sembari mengintip membuka pintu menguping pembicaraan Bima dan Tika.
"Sebenarnya selama ini saya mau mengerti akan sikap Heri dengan kepergian Ibunya, akan tetapi saya berusaha untuk bisa menyikapi Heri dan sebisa mungkin akan menjadi istri yang mau mengerti dengan sikap Heri, bila Om memberikan restu," tutur Tika lebih rinci, walau tersirat masih ada rasa jengkel dari raut wajah Tika sambil melirik Rico sudah tidak tahan kebelet pengen kencing.
"Om, numpang kekamar kecil dong. Ini sudah diujung," kata Rico beranjak bangun membungkuk permisi lewat didepan Bima.