"Memang kemana Om Bima?" tanya Rico pada Tika tersirat raut wajahnya yang cemas terus perhatikan pintu kamar masih tertutup.
"Om Bima sedang bicara dengan Heri didalam kamar, gua juga ngak tahu apa yang sedang dibicarakan mereka berdua dalam kamar," jawab Tika semakin cemas penasaran menunggu berharap pintu dibuka dan segera keluar Bima dan Heri.
"Palingan ada deal yang harus diomongin antara mereka berdua, jika Heri mau menikah sama loe, Kak?" ledek Rico semakin membuat penasaran cemas Tika tersirat dari raut wajahnya.
Heri terduduk lesuh diatas ranjang sambil mendengarkan apa kata Bima, yang tegas tidak setujuh bila Heri menikah dengan Tika.
"Ayah tetap tidak setujuh kamu menikah dengan Tika!" tegas Bima beranjak bangun setelah duduk disamping Heri masih terduduk diatas ranjang. Raut wajah Heri terasa bingung dan menahan marahnya karena rencana pernikahanya ditolak dan tidak disetujuhi dengan Bima.
"Bukanah saat Ibu masih ada, Ibu sangat menyetujuhi agar pernikahan saya segera di langsung'kan, saat itu ketika Ibu masih sakit. Namun kenapa sekarang Ibu telah tiada seolah-olah Ayah menolak saya menikah dengan Tika?!" jawab sinis masih terasa jengkel Heri pada Bima yang akan keluar tdiak jadi ditahan tangannya oleh Heri.
"Tetap Ayah tidak merestui pernikahan kamu dengan Tika!" semakin melarang dan tegas Bima berdiri sinis membelakangi Heri terlihat sedih.
"Oke, deh begini saja Heri. Ayah akan merestui pernikahan kamu dengan Tika. Dengan syarat kamu tidak lagi mengganggu atau melarang Ayah hidup dengan mayat Ibumu!" tersenyum sinis Bima beranjak keluar dari dalam kamar, Heri hanya berdiri sedih dalam kamar menutup pintu sesaat.