Sementara Bima tersenyum tertawa mangajak dansa mayat Nena dengan suasana romantis terpasang berapa lilin melingkari mereka berdua.
Walau terlihat wajah seram mayat Nena, tidak adar rasa takut sekali Bima terus memaksakan mayat Nena agar mengikuti gerakan dansa Bima.
"Tidak akan ada lagi yang mengganggu kita, Nen. Hidup aku akan selalu bersama kamu sampai kapanpun. Walau kamu hanya mayat yang semakin hari, semakin rusak. Aku akan tetap ada disamping kamu, Nena." guman Bima terus mengajak paksa dansa mayat Nena semakin kaku.
"Kamu sudah lelah, Nena. Lebih baik kita tidur ya karena hari semakin larut malam?" ajak Bima tersenyum membopong mayat Nena kemudian dibaringkan dalam ranjang.
Bima kemudian menarik selimut putih dan menyelimuti setengah badan mayat Nena, lalu Bima terbaring tidur disamping mayat Nena. Tidak ada rasa jijik dan geli bibir Bima mengecup pipi mayat Nena yang telah rusak menghitam, walau bedak dan lisptik hamir tiap hari melapisi wajah mayat Nena agar terlihat tetap cantik, tetap saja semakin lama mayat Nena, semakin rusak.
"Oh iya Nen, aku ada kabar bahagia untuk kamu. Bila sebentar lagi Heri akan menikah. Kita berdua akan jadi kakek dan nenek, karena Heri akan memberikan kita berdua cucu" ungkap rasa bahagia Bima sembari memeluk mayat Nena.
Tirai kelambu ranjang tertutup sendiri, kedua mata Bima mulai terpejam tidur. Sontak kedua mata mayat Nena terbuka seram menatap wajah Bima yang sudah terlelap tidur.
"Bagus dan cocok gaun dan jas pengantin buat loe berdua saat nanti jadi pengantin," puji Rico pakaikan dasi pada Heri.
"Thanks Ric." sahut Heri tidak semangat saat diperhatikan Tika sedang dibantu fitting gaun pengantin oleh Doly.
"Jika bisa menjelang hari H nya, loe diet deh. Biar nih gaun keliatan lebih elegen saat dipakai nanti, Tik." saran dari Doly ikut melirik Tika masih perhatikan Heri yang sudah terduduk.