"Loe yakin benaran mau menikah sama, Heri?" setengah tidak percaya Rico dengan rencana Tika yang benaran akan menikah dengan Heri.
Tika terdiam sesaat melirik Rico sedang terbaring sembari membaca novel seram, sedangkan Tika masih terdiam tidak menjawab duduk dilantai senderan ranjang.
"Gua yakin bangat akan menikah dengan Heri. Ya, walau rasanya hati dan pikiran gua dilemma tentukan langkah gua ini, apakah pernikahan gua berjalan mulus atau tidak dengan, Heri nanti. Tapi gua harus yakinkan, walau gua tahu bila ada sesuatu yang menjadi beban pikiran Heri," sembari Tika beranjak bangun meletakan novel disamping bantal.
Kemudian duduk diatas ranjang sesaat Rico beranjak bangun juga dari duduk, berdiri perhatikan raut wajah Tika tersirat sedikit ada rasa keraguan dalam hatinya.
"Kak, loe harus tetapin hati dan pikiran loe. Bila loe benar jadi mau menikah dengan Heri, Kak. Kalau gua perhatiin Heri saat setelah bericara dengan Om Bima. Heri seperti ada sesuatu yang di sembunyikan, seperti ada deal antara mereka berdua. Gua harap pikiran gua salah menilai tentang sikap Heri, kalau gua perhatiin. Gua harap pernikahan loe dengan Heri berjalan mulus dan bahagia selaku," sangat prihatin Rico dengan Tika yang mulai yakin dan tersenyum menatap raut wajah Rico juga ikut semangati Tika.
"Sejak Ayah dan Ibu tiada, cuman loe Ric bagian setengah jiwa gua. Gua harap, loe akan selamanya terus akan jadi adek gua," puji Tika memeluk Rico terharu kedua matanya berbinar berkaca-kaca tanda sedih.
"Kreek ..." suara pintu seketika terbuka sendiri, sontak terkejut Rico dan Tika cepat kesudut ranjang perhatikan pintu yang masih terbuka lebar.
"Ric? Rico loe mau ngapain?" teriak lerai Tika menahan tahan Rico sudah turun dari ranjang dan hentakan tangan Tika tetap masih berada diatas ranjang ketakutan.
Didepan pintu kamar sudah berdiri Arwah Nena, wajah seram melirik kearah kiri pintu.
"Ric! Rico hati-hati loe!" teriak Tika ingatkan pada Rico sudah berdiri diantara dalam dan luar kamar. Perlahan Rico melongokkan kepalanya kekanan sepi hanya terlihat lorong jalan gelap, kemudian mulai merasakan ketakutan kepala Rico di palingkan kearah lorong kiri jalan sepi hanya terlihat gelap saja.
"Akhhhhh ... Ric ... Rico ..." teriak Tika tunjuk Arwah Nena merangkak jalan dengan perlihatkan wajah seram pada Tika cepat melompt turun dari ranjang mendekati Rico menarik Tika keluar dari dalam kamar, saat Arwah Nena melompat keatas ranjang.
Pintu cepat ditutup Rico dari luar saat Arwah Nena menerjang melompat kearah Tika dan Rico cepat berlari susuri lorong jalan kamar yang gelap.